Abang, Kakak, dan Adik; Bukan merelakan kehilangan, tapi membiarkan senyuman terus datang.
“Balik sendiri?” Mempertanyakan seseorang tidak bersamanya, setelah memberikan akses duduk di sudut ruangan, dengan sofa dan meja mini yang sederhana di ruangan studionya. Abian Harsa Bimantara menyuguhkan satu kaleng minuman bersoda dari lemari pendingin, lalu duduk di seberang. Meski pertanyaan-pertanyaanya sekedar untuk basa-basi, Haidar sahuti dengan hati-hati. Masih banyak maaf yang Haidar harapkan dari sosok di depannya ini.
Kesan tenang tanpa pernah memberinya penghakiman, selalu jadi hal paling membuatnya awas. Karena dialah yang paling merasa kehilangan, atas apa yang tengah diusahakan bahagia dirampas begitu saja, lebih dari tiga tahun silam.
“Ada apa?” Abian Harsa Bimantara, bertanya. Bukan untuk basa-basi, tapi untuk mengerti kalau jalan adik dan laki-laki di hadapannya ini, tidak semulus orang lain. Abian menatap lurus dengan sorot yang tajam membelah keberanian Haidar, membuat pelupuk matanya terasa nyeri dan hampir saja menunduk. Namun untuk hal besar yang diimpikan, keberanian Haidar tidak boleh surut.
Merendahkan diri dalam nada suaranya, Haidar berharap banyak atas apa yang ingin diucapkan tidak menimbulkan luka lebih dalam dari sebelumnya. “Bang, —
Jeda yang Haidar ciptakan, untuk menarik nafas dalam-dalam. Kalimat yang sudah disusun rapi di kepala, kini tercekik di kerongkongannya. Kata demi kata seolah ketakutan untuk muncul ke permukaan, berhadapan dengan wajah duka yang terbalut ketegasan.
“Aku tahu nggak akan ada maaf untukku, tapi sekali lagi aku ingin mengusahakan bahagia itu lebih panjang. Dan kalau diijinkan lebih, maka aku meminta seumur hidup.” Lagi-lagi tarikan nafas yang dalam, suara mulai terdengar pecah. “Aku akan menikahi Bara, tolong kalau bisa yang ini abang mengijinkan.”
Abian punya banyak maaf, tapi tidak untuk laki-laki di depannya. Tiga tahun selalu mengusahakan, tapi berakhir dengan kegagalan. Ada rasa sesak yang terus menggelayuti dadanya. Entah karena hidupnya yang begitu lancang menjarah keluarganya atau karena laki-laki itu lebih ulung membangun senyum di hidup adiknya.
Abian mengalihkan pandangan, matanya tiba-tiba menjadi kabur. Gambaran sang adik muncul menutup penglihatannya. Kenapa? lagi-lagi Abian bertanya melihat adiknya yang tersenyum di atas pelupuk matanya.
Kenapa bahagianya kamu harus begini? kenapa bukan sama abang di sini Bara? Abang harus merelakan dalam bentuk yang seperti apa lagi kali ini?
“Abang, hari ini aku memohon untuk kerelaan yang lebih panjang. Semoga ada sedikit saja bagian dari hati abang yang memberikan itu.” Haidar merundukkan harga dirinya serendah yang dia bisa.
“Gue selalu bertanya sebenarnya bahagia seperti apa kalian minta untuk hal-hal curang seperti ini? adakah bahagia yang mau mampir di hidup kalian? Akan sebahagia apa memangnya kalian?”
Ada penekanan di setiap kata yang Abian tanyakan. Gema dari keraguan-keraguan yang meski selalu di balas dengan tawa riang adiknya, selalu muncul lagi dan lagi di setiap harinya. Semudah itukah Tuhan memberikan bahagia untuk kalian?
Keheningan Haidar bukanlah ketiadaan jawaban. Melainkan kesadaran bahwa jawabannya akan terlalu sederhana untuk Abian yang merasa kehilangan. Begitu pula dengan penerimaannya yang belum ada pada batas ujungnya. Dan Haidar tahu permintaanya bukan sesuatu yang bisa didiskusikan antara Abian dan dirinya, sesuatu yang tidak bisa diputuskan hanya dengan kepala dingin, tapi juga menuntut hati yang luas penuh kelegaan.
Permintaan Haidar bukanlah sesuatu yang bisa dinalar, apalagi dianalisis untuk Abian. Itu adalah pilihan yang menuntut pengorbanan, pengikisan harapan, dan penerimaan atas kenyataan yang paling pahit. Haidar bisa saja menjawab ‘Ini satu-satunya kebahagian, yaitu bisa bergandengan untuk hidup bersama’ tapi kata-kata itu akan terdengar nihil di telinga Abian yang berpegang erat pada sisa-sisa harapannya atas kehidupan adiknya.
“Gue nggak punya apapun yang bisa gue bagi, sekalipun itu kata maaf dan kerelaan. Gue cuma mau lihat adik gue tersenyum seumur hidupnya. Kalau lu ngerasa sanggup dengan rencana itu, maka lanjutkan.”
Memang tidak pernah semudah itu, ketika kehilangan memicu rasa pahit yang mengendap terus-menerus hadir dalam denyut nadi kehidupan. Maka tidak akan ada bentuk kerelaan dalam wujud apapun. Haidar sadar dan lebih dari mengerti hal itu, tetapi mengusahakan akan selalu menjadi napas baginya-entah dalam gubahan doa yang terus digaungkan, atau menundukkan diri pada setiap hati yang belum melampaui kerelaan itu.
“Semudah itu ya lu bersikap lancang berkali-kali. Seberapa jauh keluarga Bimantara harus lu hancurkan?”
Pertanyaan penuh tekanan kembali menggempur gendang telinganya. Ganendra Aji tidak main-main dengan pertanyaannya. Ruang kerjanya yang penuh sesak dengan tumpukan kertas yang butuh segera dituntaskan, dan kafein yang merenggut tidurnya, kini semakin terasa menghimpit. Aji bingung harus meletakkan dimana permohonan Haidar agar bisa terselesaikan. Tapi justru Aji bersyukur atas ketidakadaan tempat untuk itu, karena hatinya tidak akan mampu menyelesaikan.
“Apakah bahagianya saya dan Bara adalah bentuk kehancuran untuk keluarga Bimantara Kak?”
Duduknya yang diambang kegetiran, diusik oleh pertanyaan yang dianggap Aji sebagai bentuk ketidaktahuan diri. Aji yang sejak tadi menahan kepalan tangannya agar tidak melayang, akhirnya menyerah pada amarahnya. Sebuah pukulan jatuh mendarat di sisi kanan wajah Haidar.
“Dari tadi gue nahan, buat nggak nonjok lu buat kedua kali. Tapi emang ternyata nggak ada salahnya juga gue ulangi. Biar lu inget, nggak akan ada satupun dari Bimantara yang gue kenal baik-baik saja setelah hari itu.”
lagi, dan lagi.
Kegagalan itu datang lagi.
Haidar mewajarkan, ketika kegagalan yang kedua kali harus hinggap di benaknya lagi. Baik Abang dan Kakak, keduanya punya hak penuh untuk tidak memaafkan dan merelakan apa yang hilang dalam hidup mereka. Namun bukan berarti bahagia yang dia minta berulang-ulang harus dia relakan juga, tekadnya masih kuat di tengah penolakan itu.
“Abang akan menikahi Aa’ kamu.”
Di kantin sebuah fakultas yang riuh, pengakuan itu terlontar tanpa aba-aba. Makanan yang sedang dikunyah, menyembur ke meja kantin. Nasi yang tertelan salah jalur, menyebabkan Nathaniel Galen Bimantara terbatuk di tempat duduknya dan memecah riuh sesaat.
Haidar sigap menyodorkan air minum.
Sementara Nathaniel menetralkan diri dari apa yang telah didengarnya, Haidar membereskan kekacauan meja kantin dengan tisu basah. Sementara Ardio-yang kebetulan juga ada di sana-membereskan sisa nasi yang menempel pada pinggiran bibir Nathaniel.
“Abang tahu?” Nathaniel melayangkan tanya pada Ardio, yang raut mukanya tampak biasa saja. Yang tergambar justru, ini adalah bagian dari rencananya.
“Abang yang bilang buat nggak bilang ke kamu dulu.” Haidar menengahi, jika tidak akan ada protes kecemburuan yang menggantung di wajah Nathaniel.
“Oh, bagus dong. Aa’ pasti senang dan bahagia.” Nathaniel tersenyum. Menyamarkan rasa duka yang tiba-tiba menyelinap masuk ke hatinya.
Ini kabar bahagia yang tidak harus Nathaniel sambut dengan duka seharusnya. Tapi kenapa, ada rasa kehilangan yang tak bisa ia hindari lagi. Sejak awal kepergian sang Aa’, Nathaniel bertahan dengan kepiluan diri, dimana tidak ada satupun yang mafhum.
Aa’ pasti bahagia, pasti.
Nathaniel menatap Haidar dengan mata nanar, berkaca-kaca, sebelum akhirnya berubah menjadi tangisan tanpa suara. Bahagia, Nathaniel jelas bahagia atas itu semua. Tapi pecah tangisnya juga untuk rasa kehilangan yang tidak bisa ia redam sejak awal.
Haidar tahu, kehilangan milik Nathaniel lah yang justru jauh dari kata sembuh.