BUNDA; Di rumah sederhana, pelukannya kembali pada sang putra.
Tahun demi tahun beringsut perlahan. Tiga tahun yang panjang, menempuh pendidikan di negeri orang tiba-tiba terasa begitu singkat. Tahun berjalan selanjutnya Haidar tidak akan lupa akan rencana awal yang ingin ia tancapkan di bumi perantauan ini—sebuah mimpi yang tak boleh pudar ditelan hiruk-pikuk kesibukan.
Di tengah keheningan pagi yang baru merekah, ketika jemari Haidar masih terpaut pada layar dan kertas, sebuah suara hangat menyapa dari balik punggungnya, memecah fokus yang sempat terkunci.
“Lagi ngerjain apa?”
Di sana, Bara berdiri-membawa segelas kopi panas dengan kepulan asap yang menari lembut di udara. Aroma yang mengikat, serta presensi ulung yang tak kalah memancar kuat-dari si pembawa kopi- membuat Haidar otomatis memutar diri.
“Mau nggak?”
Tawaran hangat atas kopi itu kian menghangatkan suasana, sementara kepulan asap perlahan menuntaskan tarian indahnya. Bara menunggu jawaban Haidar, matanya menyiratkan pengertian tanpa perlu banyak kata. Pagi itu, suasana hari libur terasa berbeda; biasanya akan ada waktu untuk duduk bersama, tetapi hari ini nihil adanya.
Segelas kopi mungkin tidak akan sama dengan kehadiran Bara, tapi setidaknya ada waktu barang sedetik untuk saling menyapa di antara pusaran kesibukan yang Haidar miliki. Bara tidak mau banyak protes, karena baru kali ini Haidar memohon untuk kelonggaran waktu.
Gelas kopi itu lantas terangkat, membawa cairan hangat merayapi kerongkongan. Tegukan Haidar itu jadi jawaban yang ditunggu Bara. Seulas senyum lega tersemat di bibir Bara.
Haidar meletakkan gelas itu di atas meja kerjanya—sebuah pendaratan sementara bagi kehangatan yang baru ia terima.
“Sini deh, gue pengen peluk dulu.”
kedua tangan direntangkan, membuka ruang kosong di depannya. nada ucapannya menyimpan permohonan yang tak hanya sekedar membutuhkan kehangatan raga, tetapi juga butuh mengisi energinya yang terkuras setelah dibredel riuhnya tuntutan pekerjaan.
“Apaan deh.”
Meskipun mulut melayangkan kicauan protes yang manis, bara merundukkan tubuhnya. Menyambut ruang kosong yang terbentang di depannya. Menanggapi ajakan pelukan, Bara tidak memerlukan penolakan diri, karena tubuhnya lah yang jauh menghamba akan afeksi seperti ini. Pelukan seringkali kali menjadi pelebur atas apa yang bersarang pada ruang ketidaknyamanan diantara atau salah satu dari keduanya. Seringkali pula, pelukan menjadi penutup hari di akhir sesi, menyelimuti diri dari dinginnya kota. Dan kini, pelukan hadir sebagai pembuka hari yang menenangkan.
Setelah pelukan merenggang namun kehangatan tetap tersisa, Haidar berbisik, memecah keheningan yang nyaman itu.
“Besok ikut aku ya, ada yang mau gue tunjukin. Sekalian belanja keperluan buat aku pergi.”
Bara hanya berguman menyetujui, “Hmmm.”
Jepang. Kata itu menggantung di udara, memproyeksikan perpisahan yang akan terjadi minggu depan. Bara akan sendirian, dan dari kerutan di wajahnya, Haidar bisa membaca bahwa hari-hari tanpa kehadirannya akan terasa hambar, bahkan mungkin dipenuhi kesulitan. Rentang waktu yang tidak sebentar itu terasa berat, menekan dada keduanya.
Pelukan hangat itu terlepas, menyisakan dingin yang menjalar. Bara membalikkan badan, menunjukkan bibirnya yang mengerucut—raut kekecewaan yang tak bisa disembunyikan. “Mau ikut, tapi aku kerja,” keluhnya, nada suaranya sedikit merajuk.
Keluhan akan pekerjaan seolah menjadi rutinitas harian Bara. Ironisnya, setiap kali Haidar menawarkan untuk berhenti dan menikmati waktu luang, perdebatan panjang selalu mengakhiri tawaran itu. Bara adalah tipe yang tidak suka berdiam diri di rumah, namun keluhan akan pekerjaan yang membatasi hasratnya untuk melakukan hal lain selalu hadir di setiap kesempatan. Begitulah kiranya sifat alami manusia; Bara bukanlah satu-satunya yang dilanda dilema antara kenyamanan dan kebebasan itu.
“Udah ah, gue mau tidur lagi. Lanjutin kerjaan lu.”
Kalimat itu terucap, mengakhiri perjumpaan singkat mereka di pagi hari. Haidar menatap punggung Bara yang menjauh, perlahan menghilang dari pandangan matanya.
Kekecewaan karena tidak bisa membawa Bara ke Jepang juga dirasakan Haidar, sama dalamnya. Namun, ada satu hal lain yang harus Haidar lakukan selain kunjungan bisnis ke Negeri Sakura—sesuatu yang Bara tidak boleh tahu. Di balik raut pengertian dan janji yang diucapkan, Haidar menyimpan sebuah rahasia, sebuah kebohongan yang berani ia sembunyikan demi melindungi rencana yang lebih besar dan personal. Rahasia itu kini menjadi beban sunyi yang ia bawa sendiri.
“Kebutuhan aku udah semua belum ya?”
“Yang aku list di handphone sih udah semua. Coba kamu cek lagi, butuh sesuatu lagi nggak? atau ada yang belum masuk list ku mungkin.” Perintah Bara, untuk memeriksa barang belanjaan.
Keduanya kini duduk di sebuah cafe yang tenang, aroma kopi dan kue menguar lembut. Haidar sebelumnya mengatakan bahwa ada seseorang yang harus mereka temui-. terutama Bara-sebelum ia berangkat. Bara tidak banyak memikirkannya; ia menduga mungkin seorang teman yang ingin dikenalkan. Seseorang yang mungkin, Haidar lakukan untuk menjaganya atau menemaninya selama pergi. Karena itu, Bara tidak merasa gugup sama sekali.
Namun, ketika sepasang langkah kaki mulai mendekati meja mereka, perasaan sesak tiba-tiba menyergap. Hawa dingin merambat di punggung Bara, membuat napasnya seolah ingin berhenti bekerja. Matanya mendadak basah, tanpa ia perintah, tanpa ia duga.
Melihat Bara yang menggigil dan pucat pasi, Haidar segera mendekatkan diri. Memberikan usapan lembut pada punggung Bara, mencoba menenangkan. Diraihnya tangan Bara yang tampak gemetar, digenggamnya erat, takut-takut jika kekasihnya itu tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri.
Ketika langkah kaki itu semakin dekat dengan meja mereka yang berada di sudut ruangan, Bara tanpa sadar meremas tangan Haidar dengan sangat kuat. Netranya—yang kini berkaca-kaca—menangkap sorot mata yang telah lama hilang dari hidupnya. Yang ingin dilupakan bertahun-tahun lalu tapi selalu gagal di pertengahan malam.
“Bunda,” suara itu lirih, nyaris tak terdengar, sebuah bisikan yang hanya bisa dibaca Haidar melalui gerakan bibir Bara, serta matanya yang tengah menuntut jawaban atas segala pertanyaan yang membanjiri kepala.
Haidar membalas kebingungan yang menumpuk dan saling tindih di kepala Bara dengan sebuah anggukan pelan. Remasan tangan Bara semakin kuat, namun Haidar pasrah. Ia tahu, mungkin tangannya adalah satu-satunya pegangan yang bisa Bara jadikan tumpuan saat ini. Bara bingung. Kepalanya mendongak, berusaha sekuat tenaga menetralkan gejolak emosi di matanya.
sepasang kaki itu akhirnya berhenti. Seorang wanita dengan setelan blazer dan rok panjang berwarna krem yang rapi, langsung menunduk, kemudian bersimpuh di hadapan Bara. Ada begitu banyak hal—pengampunannya—yang wanita itu pinta. Ia menahan sekuat mungkin untuk tidak memeluk, apalagi mematrikan tatapannya pada netra anak laki-laki yang wajahnya selalu hadir bersama penyesalan, di sepanjang tahun ia memutuskan untuk meninggalkan.
Keduanya, Bara dan wanita itu, membeku. Tidak ada yang tahu, atau sanggup untuk melakukan apa-apa. Hanya Haidar yang bergerak; merunduk meminta wanita itu bangkit dari duduk simpuhnya. Namun, permintaan Haidar itu seolah terhalang oleh dinding sunyi, tak terdengar sama sekali di telinga wanita yang kini terselimuti penyesalan.
Kekosongan tahun-tahun tanpanya menari-nari di pelupuk mata. Dilema yang begitu menusuk. Karena sebuah kerinduan juga berusaha membobol hati dan pikirannya. haruskah dia biarkan wanita itu bersimpuh untuk selamanya, atau bergerak memeluknya dan membasuh rindu yang telah lama bersarang di hatinya. Bara berada diambang kebingungan, sampai Haidar menyadarkannya.
“Bar, ini Bunda kamu. Boleh ya diberi maaf, biar rindumu bisa lepas.” Bisikan tepat di telinga, menyadarkan Bara dari kekacauan yang membentur isi kepala dan hatinya.
Pelan-pelan keraguannya dibuang. Tubuhnya semakin gemetar ketika luruh dan berhasil menyentuh presensi itu. “Bunda, Bara kangen. Bangun ya, Bara mau di peluk Bunda.” Mulutnya terbata-bata menyelesaikan kalimatnya. Air matanya pecah, menyembur ke pipinya yang sejak tadi diusahakan agar tetap kering.
Pundak Asmara Ayuni bergetar hebat dalam simpuhnya, mendengar kalimat itu. Anak itu ternyata masih sudi menyambutnya dengan pelukan, dan menyebutnya Bunda dengan nada yang terdengar masih sama. Berapa banyak syukur yang harus Asmara sampaikan kepada Tuhan, atas hati yang besar yang dihadiahkan untuk anaknya—Jidanta Umbara.
Nyatanya rindu mengalahkan segala hal buruk yang menutup mata sejak kepergiannya. Dan rindu berhasil menyusutkan amarah yang sekian lama menyala-nyala. Bara membenturkan diri ke pelukan sang Bunda yang berhasil berdiri tegak.
Haidar menyaksikan bagaimana keduanya beradu rindu dalam pelukan erat. Usahanya selama lebih dari enam bulan menyusuri jejak dan keberadaan Asmara Ayuni mewujudkan hal manis yang disaksikan saat ini. Serta tanpa alasan yang sederhana yang mendasari keputusannya menemukan Asmara, mungkin hal ini hanya akan menjadi angan di setiap malam yang bisa Bara lakukan.
-
Di ruang tamu, di rumah yang mereka; Haidar dan Bara bangun. Ada hening yang masih pekat di antara Bara dan Asmara. Setelah bertahun-tahun lamanya kedua hati mencoba berdamai dengan waktu. Keduanya duduk di kursi yang berseberangan, sang anak menahan seribu pertanyaan dan Asmara menyimpan jutaan penyesalan. Tapi lensa mata keduanya memantulkan kerinduan yang sama.
“Bunda bisa pake kamar aku.”
Dua kamar yang tersedia harus direlakan salah satu untuk Asmara. Dan Bara menyerahkan kamarnya untuk sang Bunda. Haidar tersenyum mendengarnya, dan segera membantu memasukkan tas serta koper milik Asmara untuk dibawa ke kamar Bara.
“Bunda apa kabar?”
“Bunda kemana aja selama ini?”
“Bunda Aa’ masih anak Bunda kan?”
“Bunda kenapa pergi?”
“Bunda kenapa baru hari ini.”
“Bunda—
—Suaranya tercekat, tidak sanggup dilanjutkan. Keheningan sebelumnya tiba-tiba ramai, seperti isi kepalanya. Asmara hanya diam, pertanyaan beruntun sang anak seperti menuntut dosa-dosanya disingkap, ditebus di hadapan waktu yang telah hilang.
“Pelan-pelan sayang, biarin Bunda istirahat dulu ya.” Haidar yang mendengar semuanya, tidak ingin suasana rumah menjadi kacau. Membiarkan pertanyaan Bara menggantung di ruang tamu mereka. Dan membimbing Asmara untuk mengistirahatkan diri.
“Kamu juga butuh istirahat, ke kamarku yuk.” Pikirannya yang masih terlalu ramai, tidak bisa mendengar perkataan Haidar. “Sayang, dicari pelan-pelan jawabannya ya. Sekarang istirahat dulu.” Dengan pelan mulut Haidar menyampaikan, setelah meraih kedua tangan Bara.
“Dar, pertanyaan gue tadi bikin kepikiran nggak ya?”
“Bunda bisa tidur nggak ya di kamarku?”
“Aduh, harusnya tadi gue nggak banyak tanya.”
Risau, pertanyaan muncul ketika sudah berbaring di atas ranjang. Bara, tidak bisa tenang.
“Bisa, Bunda akan tidur dengan nyenyak di rumah ini, rumah kamu. Sekarang kamu yang harus tidur. Siniin kepalanya coba.” Mencoba memberi ketenangan, Haidar menarik Bara untuk mendekat, dan memberikan sapuan lembut di atas kepala, berkali-kali supaya riuh yang ada perlahan tenang.
“Kamu ketemu Bunda dimana?”
“Panjang, ceritanya aku bagi lain kali. Sekarang tidur dulu.”
Tidak ada pertanyaan lagi, Bara memilih diam. Membiarkan perlahan usapan di kepalanya menghantarkan ke alam bawah sadar.
Selama enam bulan, Haidar mengerahkan seluruh kenalan yang bisa membantunya menemukan perempuan bernama Asmara Ayuni. Berbekal informasi yang begitu minim, Haidar tidak menyangka pertemuannya terwujud di antara keteguhan dan kepasrahan.
“Perwakilannya keturunan orang Indonesia.”
Bersamaan dengan bisikan lirih rekan kerjanya, pintu ruangan pertemuan terbuka. Masuk beberapa rekan kerja yang lain, diikuti dengan seorang perempuan yang berjalan di belakang ketua tim divisi.
Waktu berhenti. Bukan untuk seluruh penghuni ruangan, tapi bagi Haidar seorang diri.
Benarkah ini perempuan yang dia cari? Benarkan dia pemilik asma Asmara Ayuni?
Familiar, meski tidak pernah bertemu langsung. Ingatannya menggali foto yang dikirimkan Ardio. Bagaimana terakhir kali Asmara Ayuni terlihat, itupun Ardio dapatkan dari salah satu orang tuanya.
Matanya tidak mau berhenti mengekor pada setiap gerak-gerik perempuan itu di tempat duduknya. Pertemuan itu seolah hanya terjadi antara dirinya dan perempuan tersebut. Fokusnya benar-benar hilang, presentasinya kacau. Seluruh kekecewaan yang dirasakan, dan sampaikan pada dirinya oleh seisi ruangan sama sekali tidak terbaca pikirannya.
“Apakah anda mengingat nama Jidanta Umbara Bimantara?”
Keberaniannya meminta duduk bersama sepertinya menghasilkan sesuatu. Setelah basa-basi yang berbelit, kini ketegangan menghampiri muka keduanya.
“Apakah Asmara Ayuni adalah nama lahir anda?”
Ketegangan bertambah, ketika mata perempuan tersebut membola masih dengan keterkejutannya. Seolah fakta tersembunyi yang dia tutup rapat-rapat dikuak paksa oleh Haidar. Tangannya yang gemetar, siapa dia? kenapa tahu namanya dan anaknya? pikirnya.
“Siapa Kamu?” Asmara balik bertanya dengan suara yang begitu berat.
“Perkenalkan kembali, saya Haidar Laksana. Dimana lima tahun dalam hidup saya, saya mendengar bagaimana kerinduan seorang anak kepada anda. Dan anak itu adalah Bara, pacar saya.”
Ketegangan tidak ada habisnya, baik Haidar yang membeberkan fakta ataupun Asmara yang kehilangan kendali atas tubuhnya. Pernyataan tersebut membuat secangkir teh di tangannya jatuh menabrak piring kecil di bawahnya. Air teh mencar ke seluruh meja. Dan setelahnya hening, ketika pelayan cafe dengan sigap membantu membereskan kekacauan meja mereka.
“Ngomong apa kamu? siapa yang kamu bilang pacar kamu?”
Pelayan pergi, Asmara bertanya. Merasa bahwa telinganya sedang tidak baik-baik saja, sehingga apa yang didengarnya dari anak muda tersebut adalah salah.
“Bara Bimantara. Bukankah anda mengenal dengan baik nama itu?”
Lidahnya kelu, membantah pun sepertinya akan kalah. Bara Bimantara, salah satu anak tanpa dosa yang dia tinggalkan di masa lalu.
Apakah ini tamparan atas dosanya di masa lalu? apakah tuhan menghukumnya dengan cara seperti ini? apakah anaknya bara yang harus menanggung dosa itu? apakah akan ada maaf untuknya dari sebastian setelah ini?.