Dika punya banyak cara untuk bisa berdiri di tempat yang sama dengan keadaan yang masih tegap. Dengan perasaan yang masih utuh tanpa digerogoti sesuatu secuilpun, dan dengan harapan yang tak kunjung putus di setiap detiknya. Dika, bahkan linglung ketika kejadian yang membuatnya murka tak mampu membuatnya roboh atau sekedar lesu untuk setia berada di tempat yang sama.
Sedangkan Ian seperti orang yang kehilangan pengetahuan dasar hidupnya. Untuk sekadar melangkah seringkali tiba-tiba merasa kesulitan, keraguan demi keraguan seolah mengurungnya dalam bilik ketakutan. Komitmen yang tak pernah ingin Ian kejar sebelumnya, terasa begitu mengusik dari balik pertemanannya. Penafikan justru tidak memberinya ruang untuk berpikir secara lebih logis.
Maka ketika penerimaan datang di akhir justru bersamaan dengan penyesalan yang berkepanjangan. Mungkin jika orang itu bukan Dika, tidak akan ada kesempatan yang lapang baginya.
Ian masih berdiri di depan kamar kos Dika. Ragu-ragu menekan kenop pintu. Pintu yang dulunya tanpa dia gedor akan terbuka dengan sendirinya, pintu yang bahkan terkunci bisa dibuka dengan mudahnya. Pintu yang dulunya memberinya sambutan hangat kini seolah sedang mengejeknya.
Ian menunduk sejenak, dengan kenop pintu yang belum berhasil dia putar. Seolah meminta pengampunan atas apa yang terjadi kepada tuannya. Meminta belas kasihan untuk meredakan ejekan itu untuknya.
Kenop pintu berhasil diputar, pintu memberinya keluasan diri untuk memasuki kamar itu. Langkahnya berusaha dibuat seyakin mungkin, berusaha agar keraguan tidak ada yang menyusup diantara langkah kakinya. Kegugupan menyeruak memenuhi rongga dada.
Dari langkah yang dibuat hati-hati, Ian terperanjat ketika Dika berdiri di depannya dan menarik satu tangannya untuk segera masuk lebih dalam. Dan membiarkan pintu menutup dengan bantuan dorongan dari salah satu kaki Dika.
Tarikan itu berhenti. Dika memindahkan tangannya ke arah tengkuk, lalu menyeretnya untuk saling bertemu dalam pagutan rindu yang terburu. “Lama banget gila, lu kapan sih gobloknya ilang.”
Mendengar itu hati Ian seperti tercabik. Kenapa harus butuh waktu yang lama untuk kesadarannya menjadi sempurna. Dika dan semua yang dia punya, kenapa matanya berusaha menampik itu sebelumnya. Ian mengamini perkataan Dika, bahwa itu semua hanya karena dia manusia bodoh. Mata secantik dan selembut ini saat memandangnya, ingin dia musnahkan. Dimana otaknya waktu itu.
Ian merangkum tubuh di depannya dengan satu tangannya, serta membalas tatapan mata itu lebih dalam dari sebelumnya. Satu tangan yang lain menyentuh dengan hati-hati kulit di bawah matanya. “Makasih masih di sini buat orang goblok kaya gue, Dika.”
Dika tersenyum, meletakkan jemarinya di atas jemari yang tengah membelai pipinya dengan kehatian. “Boleh nggak lu nanya pertanyaan itu sekarang. I want to answer it now.”
“Mahardika Putra Langkat, mau ya jadi satu-satunya orang yang gue cium tiap hari, satu-satunya orang yang gue liat tiap bangun tidur, satu-satunya orang yang akan gue cintai seutuhnya. Satu-satunya orang yang akan gue pamerin ke seluruh dunia, karena kelebihan itu yang gue punya dalam hidup setelah ini kalo lu jawab iya.”
“Selalu dan selamanya akan gue jawab iya, iya untuk semua hal yang hari ini lu minta Galentian Byaktara Salem.”
“Terima kasih sekali lagi buat semua penerimaan atas kebodohan yang gue punya Dika. Sekarang udah boleh manggil sayang belum?”
“Why not? Sayang sounds perfect kan.”
Keduanya saling tertawa, saling merangkum diri dalam pelukan yang lama dinanti. Kembali dengan dekapan yang sama tapi perasaan jauh berbeda ketika status pertemanan sempat jadi tembok sebelumnya.