PAPA; Untuk bahagia sang putra, beliau membiarkan luka kehilangan hidup di benaknya,
Sebastian Rudy Bimantara yang duduknya lebih gelisah dari siapapun, menjadi lebih tidak terkendali ketika pemilik nama yang sebelumnya disebut oleh sekretarisnya, berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.
“Permisi om, boleh saya masuk untuk bicara sebentar?”
Tidak ada jawaban, dan kilat mata itu sama sekali tanpa keramahan. Tapi bukan berarti Sebastian tidak memiliki tata krama sebagai orang tua. Tanpa menatap langsung ke arah Haidar, tangannya menunjuk ke arah sofa di sebelah kanan meja kerjanya.
“Duduk.” Suaranya dingin dan datar, seolah kedatangan Haidar adalah hal yang paling tidak diinginkan ada.
Keduanya duduk berhadapan, suasana hening menyelimuti ruangan. Hanya suara denting jam yang terdengar. Sebastian meneliti sorot mata di depannya, sorot mata yang penuh tekad, masih sama ketika meminta sesuatu yang berharga di hidupnya kala itu. Maka ketika hal itu masih sama, Sebastian tahu akan ada hal berharga lainnya akan hilang setelah ini.
Garis rahang yang kokoh dan sorot mata yang terkesan acuh tak acuh, Haidar masih bisa melihat bahwa dibalik sorot itu menyimpan keteduhan. Sayangnya, Haidar bukan orang yang beruntung meraih tatapan teduh itu.
“Sa–”
Tidak akan ada basa-basi, karena Haidar tahu kehadirannya seperti badai yang tak diharapkan. Karena hanya akan mengoyak kembali lembar-lembar luka, atau bahkan mengukir goresan yang lebih dalam.
Tapi ketika kalimatnya baru menjadi gema dalam keheningan, tangan Sebastian naik, mengisyaratkan agar dirinya berhenti bicara.
Jaket kulit hitam yang membalut tubuh Haidar, menjadi perhatian singkat Sebastian. Di atasnya, butiran air kecil-kecil menempel di beberapa bagian, seperti kilauan permata yang rapuh-yang sedang bercerita bahwa badai kecil baru pemuda itu lewati untuk pertemuan ini.
Hujan gerimis terlihat dari jendela ruangan, dan itulah mengapa bulir air itu pasti ada disana. Sebastian kembali berdiri dan kembali ke arah mejanya, mengangkat gagang telepon, lalu tersambung dengan seseorang.
“Bawakan dua gelas kopi untuk saya, dan tamu saya.”
Mendengar apa yang keluar dari mulut Sebastian, Haidar berharap bahwa itu bukanlah suatu keramahan yang dipaksakan. Karena kalimat itu terdengar begitu hangat dan percikan haru yang timbul melumpuhkan hatinya. Sejenak Haidar lupa mengapa ada di sini, lupa bahwa ada jurang diantara keduanya.
Haidar membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan sesaat itu, rasanya seperti tidak pernah ada penghakiman, tidak ada kesedihan, tidak ada yang merasakan kehilangan tiga tahun silam. Dimana antara dirinya dan Bara adalah satu-satunya kebenaran yang ada, tanpa dilabeli mencurangi dunia.
Keheningan berikutnya berlalu secuil kehangatan yang hadir dalam satu kalimat dan satu cangkir kopi mengaburkan jurang yang ada.
“Minum dulu,”
“Terima kasih banyak Om.”
Tepat setelah itu, Sebastian memecah keheningan yang sejak tadi belum surut.
“Kedatanganmu ini bukan untuk saya.”
Cangkir kopinya diletakkan di atas meja, menimbulkan bunyi dentingan kecil. Sepertinya Haidar tidak boleh tenggelam lebih lama dalam kehangatan itu, kekecewaan di mata Sebastian kembali muncul.
Matanya yang tajam menelisik setiap gerakan Haidar, mencari tahu sejauh mana perkataan pemuda ini bisa menghancurkan hidupnya. Hidupnya yang baru pertama kali tumbuh menjadi Sebastian Rudy Bimantara, baru pertama kali menjadi ayah bagi anaknya Bara yang turut dia sematkan Bimantara, dan baru pertama kali diberi pahit pengkhianatan atas hidup anaknya.
“Duduknya saya di hadapan Om,” Ucap Haidar, suaranya bergetar namun penuh tekad. “Akan selalu demi kelapangan hati yang bisa dibagi untuk saya. Dan untuk setiap kelancangan hidup saya, ada pengampunan di sana.”
Mata Sebastian yang awalnya penuh kekecewaan berubah menjadi kosong.
‘Untuk setiap kelancangan hidup saya, ada pengampunan di sana’
Kalimat itu berulang-ulang berdengung, bergaung tanpa henti di benaknya. Dibawah meja tangannya mengepal erat, buku-buku jarinya memucat. Napasnya berat menahan badai emosi yang berkecamuk hebat di dalam dada. Untuk pengampunan dan kelegaan, Sebastian tidak pernah bisa menyisihkan itu sedikitpun untuk pemuda di hadapannya. Sebanyak apapun percobaan itu dilakukan, tidak ada yang tersisih untuknya. Jarak menuju maaf terasa tak terjangkau.
Haidar menunggu, membiarkan keheningan lagi, dan lagi mengunyah habis udara di antara mereka. Membiarkan Sebastian larut dalam permohonanya, yang Haidar sadari adalah sebuah kelancangan yang berulang.
“Apa yang kamu minta hari ini, saya belum bisa kasih. Untuk anak saya yang pergi menyimpang, untuk anak saya yang pergi mencari rumah sendiri, untuk anak saya yang pergi mencari bahagianya sendiri.”
Sebastian mendongak, sorot kekecewaan yang masih memenuhi netranya, sulit dipadamkan. Kembali menatap lurus bukan dengan kemarahan yang meluap, melainkan dengan keputusasaan yang dingin.
“Ambillah semua keputusan itu dari anakku sendiri, biarkan semua yang belum bisa kami beri jadi urusan kami di sini. Dan jangan pernah datang untuk meminta, kecuali saya yang akan memberinya sendiri.”
Sebastian bersandar pada kursi, membiarkan pemuda di hadapannya menelan kepahitan yang tidak bisa ditawarkan dengan cara apapun.