anotherapi

Bara mendengus, merutuki diri sendiri. Pasalnya Haidar kelaparan, dan itu tidak bisa Bara abaikan. Sebenarnya, Haidar juga tidak sepenuhnya salah. Dengan berat hati, pintu kamarnya terbuka. Dan Bara terkejut ketika Haidar sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan membawa satu paper bag yang menggantung pada tangannya, entah isinya apa.

Happy Valentine. Tadi mau ngasih ini keburu liat Papa, jadi aku masukin tas lagi.”

“Boong lo ya, ini baru lo beli kan.”

“Liat dulu isinya dong.” Haidar menaikkan sebelah alis matanya.

Bungkusan coklat entah merek apa, Bara tidak peduli. Matanya justru menangkap sesuatu yang lebih menarik di bawah bungkusan coklat tersebut.

“Dar, serius?” yang ditanya mengangguk, menyinggungkan senyum.

Sebuah kotak bertuliskan merk dari jam tangan yang Bara idamkan dari beberapa bulan lalu, membuatnya menarik bibirnya lebar.

“Bukanya di meja makan aja boleh nggak? aku udah nggak sabar makan batagor buatan kamu.” Selain itu perut Haidar memang sudah dilanda rasa lapar sejak tadi.

“Aku tuh masih nabung tau buat beli ini, kenapa dibeliin duluan? uang kamu banyak banget kayanya ya.” Meskipun omelan yang keluar, tapi senyum Bara juga tidak kunjung mereda. Ekspresi Haidar yang ditunggunya saat memakan batagor buatannya sejak tadi mendadak hilang dalam ingatannya.

“Pake dong, mau aku yang pakein?” Haidar dengan suapan pertamanya.

Bara menggeleng dan langsung memasang jam tangan barunya sendiri terpasang apik di tangan kirinya, dan membiarkan Haidar menikmati batagornya. “Bagus nggak?”

“Bagus, tangan kamu jadi makin cantik.”

“Tapi ini duitnya lumayan Dar, lo tuh—”

Please sayang, jangan ngomel hari ini ya. Aku lagi capek banget, lagian uang aku nggak bakalan abis cuma buat beliin barang yang kamu suka.” Haidar lebih dulu memotong ucapan Bara.

Bara hanya bisa tersenyum melihat Haidar protes dengan ocehannya terkait kebiasaannya mengeluarkan uangnya untuk barang-barang yang kadang tidak terlalu penting dengan harga yang tergolong tidak murah.

Entah suapan keberapa dari batagor yang hampir masuk ke mulutnya di tahan oleh Bara. Sendoknya diambil alih, bertindak menyuapi Haidar. “Enak nggak? sori aku nggak ngasih apa-apa, aku lupa kalo hari ini valentine.”

“Lah ini aku kira kamu masakin aku batagor buat spesial hari valentine.”

“Hari apapun buat gue semuanya spesial Dar. Asal masih ada lo di hari itu.” Bara singkirkan anak rambut yang masih sedikit basah supaya tidak menghalangi pandangan Haidar untuk menatapnya. “Makasih buat hari ini, kemarin dan hari-hari selanjutnya yang ada lo nya.”

Haidar nggak tahu kenapa mendengar itu membuatnya begitu mabuk melebihi meminum sebotol anggur merah. Mencintai Bara adalah hal yang sudah menjadi sesuatu yang Haidar syukuri tiap harinya. Tapi Dicinta Bara adalah hal yang lebih Haidar syukuri untuk hidupnya saat ini.

“Pinter banget diabisin makannya. Abis ini gue kasih hadiah puk-puk sambil peluk.” Bara dan ucapannya yang membuat Haidar semakin jatuh pada jurang tanpa dasar.

“Sampe pagi.”

“Pegel dong tangan gue.”

“Kalo gitu peluknya yang sampe pagi.”

Meja makan kecil kepunyaan dua adam kini setiap harinya tidak hanya akan terisi dengan berbagai menu masakan, tapi juga penuh dengan diksi suka cita bagaimana dua anak adam saling membagi cinta.

“Mana yang katanya minta peluk?” Jagat masuk ke dalam kamar Abian, dilihatnya sang pacar sedang berbaring sambil memainkan telepon genggamnya.

Abian segera membuang gawai di tangannya. Dilemparnya di bagian kasurnya yang kosong.

Berdiri di samping kasur yang super lebar, bahkan tiga kali lipat lebih lebar daripada miliknya, Jagat dan pinggangnya sudah dirampas hak milik. Dipeluk begitu erat oleh pacarnya.

Meskipun baru pulang dari kerja paruh waktunya, Jagat sama sekali tidak keberatan meladeni pacarnya yang sedang sakit dan kelakuan manjanya.

Terkadang dirinya heran, bagaimana bisa seorang Abian yang terkenal garang di tongkrongan, berubah begitu manja padanya, apalagi saat sedang tidak enak badan seperti ini.

“Kenapa nggak langsung tidur? malah mainin handphone.”

“Kan lagi nungguin orderan peluk.”

“Oh, kalau gitu bayar anjing!”

“Iya nanti gue bayar, sebut lo mau berapa?”

Jagat geleng-geleng kepala, dia lupa kalau pacarnya ini emang suka berperilaku layaknya sugar daddy.

“Gratis sih kalau buat pacar mah.” Abian tersenyum, kepalanya diusap lembut oleh Jagat.

“Kamu nggak capek? tadi kerja apa?” Abian bertanya tanpa melepaskan pelukannya.

“Capek sih, cuman ngasih les doang ke adik kelas. Padahal tadi aku udah mau tidur, tapi tiba-tiba ada anak gorila yang lagi sakit terus minta peluk. Jadinya kaga tega, samperin deh.”

“Gue yang lo bilang anak gorila? ngeselin lo.” Abian merengut, melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Jagat meskipun tanpa tenaga dan Jagat yang tidak sama sekali goyah.

“Gue mau itu, tapi kaga jadi deh. Sini peluk lagi dong.” Abian kembali menarik tubuh Jagat untuk dipeluknya lagi.

“Dih, itu, apaan?”

“Mau cium kamu, tapi kaga jadi entar takutnya kamu ketularan aku, terus ikutan sakit.”

“Aku cium ini aja deh ya.” Satu kecupan mendarat di kening Abian. “Aduh.”

“Kenapa?”

“Jidat lo panas banget, bibir gue kebakar.” Jagat tidak bohong kalau suhu tubuh Abian terasa cukup panas. “Udah ah peluknya, awas ntar ada mbak sita.”

“Nggak bakalan.” Abian mempertahankan pelukannya.

“Nggak bakal gimana, orang tadi aku nyuruh mbak sita buatin kamu air gula anget. Pasti bentar lagi orangnya dateng.”

“Buat apa, gue udah minum obat tadi.”

“Biar lo cepet tidur. Katanya bisa bikin orang yang susah tidur jadi cepet tidur.”

Tok tok

“Mas air gula angetnya udah jadi nih.”

“Nah tuh. Minggir dulu.”

Abian dengan terpaksa melepaskan pelukannya. Membiarkan Jagat mengambil air gula hangat yang sudah dibuatkan oleh salah satu asisten rumah tangganya.

“Nih minum, abisin.” Satu gelas air gula hangat yang tidak terlalu penuh Jagat berikan kepada Abian supaya tidurnya lekas nyenyak.

Setelah menghabiskan minumannya, Abian memberikan isyarat Jagat untuk segera naik ke atas kasurnya dan memberinya pelukan kembali.

“Utututu sini-sini bayi gorila gue.”

Abian membiarkan Jagat memanggilnya dengan sebutan apapun itu, karena saat ini dirinya tidak punya cukup tenaga kalau harus berdebat dengan pacarnya. Yang dia butuhkan sekarang hanyalah pelukan hangat miliknya.

Jagat rengkuh Abiannya dalam pelukan hangat yang kelewat dalam. Berharap esok pagi kekasihnya akan bangun dalam keadaan sehat kembali.

'Good night, panglima tempur kesayangan.'

Haidar harusnya sudah di Bandara. Harusnya berangkat dengan orang tua Karel.

Tapi apa yang sudah mengganjal, Haidar sulit hilangkan. Maunya diatasi, dibereskan biar pikirnya tenang, dan perginya diberi jalan yang lapang.

“Mau apa kamu ke sini? apa lagi yang kamu mau minta dari saya? bukankah anak saya sudah cukup?”

Papa dan hati nya yang mati. Dua kali hidupnya dicurangi semesta dengan perkara yang sama.

Bukan cuma Bara yang merasa gagal menjadi anaknya. Papa bahkan belum bisa memaafkan dirinya perihal gagal menjadi seorang Suami. Dan kini harus gagal menjadi seorang Ayah. Sakitnya tidak pernah bisa Papa sampaikan.

Padahal baik Bara maupun Papa, mereka baru pertama kali. Pertama kali menjadi anak, dan pertama kali menjadi ayah. Wajar kalo hasilnya tidak sempurna, tidak seperti apa maunya.

Tapi jelas, anaknya yang dibawa pergi orang di depannya ini buat hancur hatinya, sampai-sampai tidak mau melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa dirinya ditinggalkan—lagi.

“Restu.”

Haidar butuh itu, biar hidupnya dan Bara tidak dilingkupi takut, dan kegelisahan. Biar hidupnya sejalan dengan garis bahagia yang Haidar janjikan buat anaknya.

“Kamu bilang restu, restu yang seperti apa yang kamu butuhkan? mau restu seperti apapun saya nggak akan pernah bisa kasih.”

Sebastian tersenyum, anak di depannya ini bicara soal restu. Memangnya restu apa yang pantas? Sebastian saja tidak mengerti.

“Saya harus apa supaya bisa dapat itu om? Haidar mau apapun itu.“Keras hatinya Sebastian, Haidar coba lunakkan.

“Mau kamu ngelakuin apapun itu, sampai kapanpun saya nggak akan bisa. Yang menentukan itu ini.” Sebastian tunjuk dadanya.

Hatinya yang keras, sudah tergores.

Haidar tunduk, berlutut kembali di hadapan Sebastian. Dia yakin dinding keras itu akan roboh. “Saya mohon om, saya janji Bara akan bahagia seutuhnya.”

Satu tamparan di pipi kiri.

“Lakukan om, kalau itu bisa buat om lega, dan beri saya restu.”

Satu tamparan di pipi kanan.

“Bahagia, kamu kira saya selama ini saya ngapain? saya berjuang buat anak saya supaya bahagia juga.” Suara Sebastian menggema di telinga Haidar.

“Dan kamu seenaknya bilang, kalau dia akan lebih bahagia sama kamu?. Saya papanya!, saya yang mengurusnya selama 17 tahun.”

“Tapi om—”

Satu tamparan lagi di pipi kanan.

“Kenapa harus anak saya? kenapa!” Semakin keras suara Sebastian, semakin menusuk telinga Haidar. Meskipun suara itu bergetar.

Daksa sebastian turun, disejajarkan dengan Haidar. “Tapi kenyataannya memang saya gagal, saya gagal jadi ayah, saya gagal buat anak saya bahagia. Saya bisa apa?”

Haidar mendongak. Tembok itu ternyata perlahan runtuh, mengaku luluh.

“Bahagia kalian, tapi tolong jangan paksa hati saya rela begitu saja. Bagaimanapun saya papanya, saya kehilangan dia. Mungkin nanti, tapi saya tidak akan pernah berjanji.”

Bagaimanapun hati memang tidak bisa diotak-atik semudah itu, tapi bukan berarti tidak bisa. Nanti, biar papa benahi dulu hatinya.

“Sekarang pergi, anak saya sudah menunggu kamu.

Restu nanti, buktikan dulu bahwa Bara bahagia bersama kamu.”

Haidar pandangi punggung Sebastian yang menjauh pergi.

Semoga nanti restunya bisa utuh.


Gelisah, mondar-mandir. Bara tidak tenang, Haidarnya lagi-lagi bertindak tanpa perbincangan.

Bara tahu pasti Haidar ke rumahnya. Menemui Papa. Dasar, keras kepala.

Tadinya kakinya tidak berhenti melangkah, tapi melihat Haidar di ujung sana, Bara berhenti.

Netra keduanya saling berbicara dengan jarak. Air mata menetes dari milik Bara.

Selanjutnya, Bara lari, dia hampiri Haidar yang berdiri di ujung sana. Tidak peduli pandangan sekitarnya ketika daksa mereka beradu.

“Maaf, aku belum berhasil hari ini.”

Hari ini cukup, Belanda sudah menunggu kalian buat bahagia di sana. Yang tertinggal di sini, dilanjutkan nanti.

Mungkin akan ada waktunya sendiri.


Belanda, saya titip dua adam yang masih banyak kurangnya ini—anotherapi


Malam tahun baru biasanya banyak diisi dengan berbagai kegiatan seru dan berkumpul bersama keluarga atau bahkan orang tersayang, tapi di rumah Bimantara hal ini jarang terjadi. Biasanya dikarenakan papa dan abang yang disibukkan dengan pekerjaannya.

Namun, bukan berarti mereka melewati momen pergantian tahun dengan begitu saja tanpa melakukan apapun. Mereka hanya menunda, dan akan melakukan perayaan setelah kesibukan berakhir. Meskipun tanggal satu sudah terlewati beberapa hari atau bahkan minggu.

Dan tahun ini, mereka kembali harus menunda momen kebersamaan pergantian tahun kembali.

“Aa’ mau kemana?” Nathaniel menatap Bara yang sedang sibuk mengganti pakaiannya.

“Keluar, malem tahun baruan lah.” Jawab Bara sambil menyemprotkan parfum ke bajunya.

“Idih, sama bang Ardio? oh atau sama bang Haidar?! itu parfum banyak banget nyemprotnya. Aku ikut kalau gitu.”

“Dih, biasanya juga ga pernah mau diajakin.”

“Aa’ pasti mau pacaran sama bang Haidar kan? ga boleh berduaan kalo gitu!”

“Siapa yang mau pacaran? orang cuman barbequean, lagian sama Ardio juga. tumben banget sih, pengen banget ngikut.”

“Pokoknya aku ikut! tungguin awas aja ditinggal, aku laporin kakak.”

“Mau ikut yaudah ayo, cepetan sana. Aa’ tunggu di mobil, jangan lupa bilang sama papa.”

“Asyik ada Iel, seenggaknya gue kaga jadi nyamuk sendirian.” Kedatangan Bara dengan Nathaniel membuat Ardio senang. Setidaknya dirinya tidak harus melihat kebucinan dua temannya seperti biasa.

Ardio menyambut kedatangan Nathaniel dan Bara sambil mengupas kulit jagung, sedangkan Haidar yang sedang membuka sosis dari kulitnya, sedikit canggung dengan kehadiran Nathaniel. Begitu juga dengan Nathaniel, Haidar yang biasanya ia anggap hanya sebagai kakak kelasnya sekarang menjadi berbeda, sehingga tiba-tiba ada kecanggungan yang membentang diantara keduanya.

“Iel, lo bantuin gue sini dah.” Ardio meminta Nathaniel supaya membantunya, sekaligus memecah sedikit ketegangan yang terjadi.

Tapi belum sempat Nathaniel melangkah mendekati Ardio, Nathaniel melihat Bara yang melangkah dan ingin duduk di sebelah Haidar. Entah apa yang sedang dilakukannya, Nathaniel justru mendahului Bara dan memblokir tempat duduk tersebut.

“Aku bantuin bang Haidar aja deh, Aa’ aja sana yang bantuin bang Ardio.”

Bara sedikit kaget dengan tingkah aneh adiknya, tapi Bara pikir mungkin karena Nathaniel menginginkan sosis yang ada di depan Haidar. Kalau urusan makanan emang paling cepet itu anak. Bara nurut aja pada akhirnya.

“Dagingnya belum aku cuci sih, mungkin kamu mau cuci daging aja.” Haidar memberi Bara opsi lain.

“Aaaku, kamu.” Nathaniel bolak-balik memandang Bara dan Haidar. Dirinya baru pertama kali mendengar Haidar menggunakan sebutan itu. Dan terdengar begitu aneh sekaligus menggelitik telinganya. Sedangkan Ardio tertawa melihat hal tersebut.

“Biasa aja kali, baru denger ya lo.” Ardio yang sudah terbiasa, hanya bisa menertawakan Nathaniel yang merasa aneh.

“Sorry, gue aja deh yang nyuci, lo sama Iel deh terusin nih sosis.” Menghindari kecanggungan sekaligus tatapan aneh Nathaniel, Haidar segera pergi, memilih untuk mencuci daging yang kan mereka panggang nanti.

—-

Jam sepuluh malam Haidar baru mulai memanggang beberapa daging terlebih dahulu dan Ardio di bagian lain membakar jagung. Bara membawa dua magkok baru keluar dari dalam setelah meracik bumbu untuk saos yang kan dioleskan di atas jagung dan dagingnya.

“Nih, bantuin Ardio.” Satu mangkok bumbu disodorkan ke Nathaniel.

“Kok, ogah. Aku mau ngolesin daging aja.” Nathaniel langsung membawa mangkok tersebut mendekati Haidar yang sibuk menata daging di atas panggangan.

“Iel suka tingkat kematangan yang gimana?”

“Biasa aja.”

“Hah?”

“Maksudnya, biasa aja ngobrolnya. Kaya biasa bang”

“Oh, iya.” Enggak tau kenapa, berhadapan dengan Nathaniel kali ini lebih mendebarkan daripada ketika bertemu dengan papa Bara tempo hari.

“Toilet sebelah mana bang?”

“Masuk, lurus aja, terus sebelah kiri.”

Nathaniel pergi ke toilet dan Haidar bernafas lega, sejak tadi rasanya dirinya tidak bisa bernafas dengan sempurna. Berhadapan dengan Nathaniel di saat seperti ini tidak pernah haidar pikirkan, dan ternyata justru membuatnya lebih kelimpungan.

“Bar, sini deh cobain.” Haidar meminta Bara untuk mencicipi daging yang dipanggangnya.

Bara langsung mendekati Haidar dan membuka mulutnya, padahal daging tersebut masih panas.

“Sabar bego, masih panas.” Haidar protes sambil meniup-niup daging tersebut, supaya tidak terlalu panas. Setelah itu bahkan menggodanya seperti akan menyuapi seorang anak kecil, dengan gaya pesawat terbang.

“Yee, si anjing.” Mulut Bara protes sambil mengunyah. “Enak tapi, udah nih segini aja kematengannya. mau lagi dong.” Mulut Bara terbuka lagi, minta disuapi daging kembali.

“Yaelah, ini si Nathaniel kemana sih, sama aja kalo gini mah. Nyamuk juga gue ujung-ujungnya.” Ardio geleng-geleng dengan kelakuan kedua temannya.

“Lama banget lo.” Tidak kunjung diberi suapan oleh Haidar, Bara berinisiatif mengambil daging sendiri.

“Heh, itu gosong. Itu daging yang pertama sendiri tadi buat percobaan. Makanya sabar.” Tapi berujung dimarahi Haidar.

“Iel kemana sih, lama banget.” Sambil mengunyah Bara mempertanyakan keberadaan adiknya.

“Bilangnya ke toilet, gatau deh kenapa lama banget.—Saat menoleh kebelakang, ternyata Nathaniel sudah ada di belakang mereka— lah itu anaknya.”

“Heh, lama banget. Ngapain lo di toilet?” Bara tanya dengan curiga.

Nathaniel sama sekali tidak menjawab pertanyaan Bara, dirinya malah hanya memandangi Bara dengan seksama. Selanjutnya yang terjadi adalah Nathaniel malah meneteskan air mata, dan tiba-tiba memeluk Bara sambil menangis.

“Heh, kenapa? lo ditanyain ngapain, malah nangis.”

Nathaniel melihat semuanya, malam ini Bara terlihat begitu bahagia. Senyumnya begitu berbeda, Nathaniel tidak pernah melihat Aa'nya tersenyum seperti itu selama ini.

Nathaniel juga tidak tahu kalau Haidar benar-benar begitu memperhatikan Bara, sampai dia liat dengan mata kepalanya sendiri malam ini.

Aa'nya yang selalu mengalah ketika dirumah, Aa'nya yang selalu mementingkan orang lain daripada dirinya ternyata juga butuh dinomer satukan.

Sekecil daging gosong, Haidar tidak membiarkan Bara memakannya. Sedangkan ketika dirumah, Aa'nya yang selalu memilih daging gosong dan memberikan yang matang sempurna kepada dirinya dan abangnya.

Nathaniel pikir itu karena Bara memang menyukai daging yang sedikit gosong, tapi hari ini Nathaniel tahu kenapa Bara selalu memilih daging yang sedikit gosong.

“Heh, bocah kenapa nangis.” Bara makin nangis, karena Nathaniel terus menangis dan memeluknya lebih erat.

Haidar dan Ardio pun juga bingung apa yang sedang terjadi, sehingga keduanya hanya diam.

“Lo kenapa? kesambet apa di kamar mandinya Haidar? udah nangisnya, jelek lo ah.” Bara menghapus jejak air mata yang mengalir di pipi adiknya.

“Aa' maafin Iel ya, Aa' udah banyak ngalahnya sama Iel. Maaf kalau Iel suka egois.”

“Aa' habis ini bahagia ya, ga boleh sedih lagi, ga boleh ngalah terus sama iel.”

“Aa' bahagia ya.” Nathaniel kembali memeluk Bara dengan erat.

Tidak terasa Bara juga ikutan menetaskan air matanya. Memang benar dia sudah banyak mengalah, tapi Bara juga tidak mau marah atau memprotes, karena Bara tidak mau melihat kesenangan anggota keluarganya hilang meskipun itu sesuatu hal yang kecil.

Haidar yang tau bagaimana sulitnya Bara hidup sebagai anak tengah di keluarga Bimantara, bisa merasakan bagaimana adik, kakak tersebut saling mengungkap kasih sayangnya.

Air yang mengalir dari mata Bara, Haidar bantu hapus. “I love you” kalimat itu, Haidar sampaikan tanpa suara tapi Bara tau dari gerakan mulutnya.

“Kenapa sedih gini sih, anjing.” Ardio hampir ikut meneteskan air mata, karena tau bagaimana Bara tumbuh sebagai temannya dari kecil.

“Sorry. udah ah. Jelek banget nangis, tuh dagingnya udah mateng, makan sana.” Bara hapus sisa-sisa air mata milik Nathaniel yang hanya mengangguk.

“Aku mau jagungnya bang Ardio.” Nathaniel menghampiri jagung bakar yang ditinggalkan oleh Ardio demi melihat adik-kakak yang berpelukan sambil menangis. Entahlah gosong atau tidak. Ardio pun tersadar, dan langsung mengikuti langkah Nathaniel.

“Sorry, anaknya emang melow banget.”

“Ngapain minta maaf, kamu udah jadi Aa'nya dia versi paling terbaik. Makasih udah bertahan. Makasih udah jadi yang terbaik.”

“Ngomong apasih, kaga jelas lo.”

“Anjing, gue cium juga lo.”

“Silahkan kalo berani, kamu pikir Nathaniel bakal—belum menyelesaikan kalimatnya, Haidar sudah menyambar pipi Bara dengan kecupan singkat.

“Heh, heh bang Haidar, aku bisa liat ya.” Nathaniel menunjuk kedua netranya dengan kedua jarinya, lalu mengarahkannya ke Haidar. Memberikan isyarat bahwa Haidar tengah di bawah pengawasannya. Jadi jangan macam-macam.

Belum tau aja dia, pikir Haidar.


Tiap pilihan dalam hidup adalah tak lain dari sebuah pilihan egois.

Tertunduk di bawah kaki Sebastian Rudy Bimantara adalah pilihan paling egois yang Haidar pilih untuk saat ini.

“Maaf, Haidar minta maaf Om.”

Egois, buat jadi perenggut salah satu Bimantaranya.

Egois, buat jadi paling berani tantang semesta buat hidup bersama Bimantaranya.

“Maaf, karena saya terlalu takut buat jalan sendirian. Maaf, kalau Baranya mau saya ajak jalan berdampingan. Maaf, kalau jalannya juga bukan di sini.”

Abian Harsa Bimantara, yang berdiri di samping Sebastian, juga rasakan kecewa dan marah kenapa adiknya yang tak banyak mengeluh, ternyata simpan banyak peluh.

Dia tatap Haidar—yang katanya jadi alasan adiknya rasakan bahagia. Berlutut, meminta pengampunan di bawah kaki papanya.

Abian penasaran, apakah mereka yang menyimpang, akan diberi kesempatan. Abian penasaran, apakah semesta mau tunduk pada mereka yang berjalan salah arah, meski berdampingan.

Abian penasaran, apakah adiknya betulan bisa bahagia meski dengan mencurangi aturan.

Sebastian hanya diam. Perih, sebab luka lama kembali dibuat menganga.

Sedangkan Haidar di bawah sana tak henti buat minta pengampunan. Abian pegang pundaknya, supaya dia berdiri.

“Maafin Haidar Bang, Om.”

plak

Satu tamparan panas menjalar keseluruh bagian tubuh Haidar, tapi dia malah bersyukur. Sebastian masih sudi menyentuhnya, setelah mengabaikan tangannya yang minta dijabat sebelumnya.

Kalau bisa Haidar mau lagi, sekalipun berkali-kali Haidar sanggupi, asal diberi ikhlas anaknya dibawa pergi.

“Saya punya salah apa sama kamu?” Dadanya naik turun, Sebastian minta diberi penjelasan, kenapa harus anaknya yang jadi pilihan.

“Saya yang salah Om, Saya yang lancang jatuh suka duluan. Saya juga yang tidak tahu diri minta hidup berdampingan—

Saya yang salah. Tapi saya juga mau bahagia, dan itu bersama Bara.”

“Saya janji akan buatkan rumah buat Bara, meski tak sebesar dan sehangat rumah yang Om ciptakan. Saya janji, rumahnya akan aman dan ramah bagi Bara, bagi kami berdua.”

“Tau apa kamu soal rumah?”

Sebastian merasa lukanya yang kembali menganga, kembali di gores di atasnya sehingga terasa makin perih saja. Dia tinggalkan Haidar yang belum tuntas dengan permohonannya.

“Hati-hati berjuangnya, karena Bara begitu kami sayangi. Jangan sampai dia lupa dengan yang namanya bahagia. Papa saya sudah ijinkan.” Abian turut melangkah pergi, tapi kalimat yang diberinya di akhir adalah bukti bahwa semesta tunduk kali ini.

Selamat, selamat buat berjuangnya hari ini.

| tw // self harm


Haidar Laksana, pernah sandang bahagia, tapi patah karena keluarga.

Haidar Laksana, hidupnya diambang rapuh. Diperkosa luka, dipecundangi norma.

Tolong jangan ejek Haidar kalau harus menangis tersedu-sedu di balik gelap pintu kamarnya setiap jam tengah malam tiba.

Tolong jangan hakimi Haidar, kalau terlalu pengecut menggores luka dengan benda pipih favoritnya yang disembunyikan di dalam laci setiap kali berisiknya kepala datang tanpa permisi.

Dia hanya anak laki-laki yang tersungkur, tersandung realita semesta. Bersyukur meskipun hampir gila, nyatanya Haidar masih hidup dengan waras.

BUGH

Maka ketika satu pukulan keras terjun bebas ke wajahnya, Haidar nihil rasa sakit. Karena semesta dan pukulannya jauh lebih sakit.

“Lo apain adek gue? Hah?”

Ganendra Aji Bimantara, berdiri dengan kecewa. Bertanya, kenapa adiknya harus dibawa menyimpang. Kenapa adiknya dirampas, mau dibawa pergi.

BUGH

“Jawab gue!?”

Haidar bisa apa selain diam, karena dia juga tak punya jawaban. Yang dia tahu, dia jatuh suka lalu mau hidup berdua.

| cw; bxb, kata-kata kasar, kenalakan remaja

| Haruto as Abian Lakeswara Jeongwoo as Jagat Sambara


“Woy anjing brengsek, sini lo kalo berani.”

Jadi lokasi para remaja SMA berselisih, saling unjuk diri siapa paling besar nyali dan pantang undur diri. Katanya mencari jati diri, padahal tak ubahnya sekedar mencari validasi. Situasi gang sempit riuh, ricuh, tak terkendali.

“Bangsat, mati lo anjing.” Abian datang terlambat, lesatkan pukulan-pukulan tajam.

Begitu dengar ada anak buahnya diusik di jalanan sempit, Abian langsung lari layaknya menantang mati. Egonya sebagai ketua panglima tempur dilukai.

“Beraninya main licik, bangsat lo semua.” Meneriaki aksi lawan, yang menurutnya begitu hina, tak tahu malu. Menyerang anak buahnya di jalanan sepi, Abian murka.

“Anjing tawuran.”

Jagat sering dengar gang sempit yang dilewatinya pulang sekolah ini, dan menuju tempatnya kerja paruh waktu adalah lokasi tawuran anak sekolahnya dengan sekolah tetangga sering terjadi.

Tapi baru kali ini, Jagat menemui tawuran itu beneran terjadi. Jagat tak mengerti kenapa mereka begitu mudah cari mati. Babak belur, yang diperjuangkan pun sekedar harga diri tongkrongan remaja labil.

Melihat jumlah mereka dengan almamater yang sama, Jagat berasumsi geng dengan almamaternya akan kalah telak.

“Woy, ada polisi bego.” Suara Jagat menggema, menimbulkan keributan baru bagi berandalan gang di sana. Daripada menunggu lama, Jagat lebih pilih supaya pergulatan di depannya bubar tanpa membawa gelar kemenangan.

Jagat menarik bibirnya, tersenyum. Berandalan sok bengis seperti mereka ternyata mudah dikelabui.

Porak-poranda, bingung cari cara buat sembunyi. Yang tadinya lawan jadi kawan, lari beriringan buat lepas dari kejaran polisi. Padahal hanya akal-akalan Jagat supaya tidak perlu ambil jalan memutar, dan tidak perlu ada gajinya yang harus terpotong nanti.

Abian ikut lari, jiwa sok beraninya ikutan luntur. Polisi bukan lawan yang tepat saat seperti ini. Takut-takut kalau kelakuannya di bawa di hadapan orang paling agung di rumahnya.

“Cepetan pergi, ntar gue bayar. Cepet anjing!”

Motor beat Jagat di ujung gang tiba-tiba punya penumpang. Grasak-grusuk minta segera dibawa pergi, entah kemana tidak peduli.

Jagat langsung tancap gas, pergi membawa penumpang baru nya menyusuri gang sempit dengan kecepatan yang di buat buru-buru. Yang di belakang mencengkram bahunya erat, nafas nya acak-acakan sama seperti rambutnya yang terlihat dari kaca spion.

“Turun lo, gue mau kerja.” Motor beat Jagat sudah mendarat di depan sebuah cafe internet. Tempatnya bekerja paruh waktu selepas pulang sekolah.

“Bentar, —Abian merogoh tiap saku, mencari keberadaan dompet, yang kemudian teringat ternyata tertinggal di sekolah beserta tas—Aduh, duit gue di tas ketinggalan di sekolah.”

“Udah kaga usah, dah sono balik lo.”

Hari itu tawuran berakhir tanpa ada pemenang. Kocar-kacir kabur diterjang badai kebohongan mulut Jagat Sambara. Tapi Abian Lakeswara dan yang lainnya tentu tidak mengetahui. Jagat pun tidak akan membuka aib diri.

Abian tatap punggung malaikat penyelamatnya hari ini—setidaknya baginya—sampai menghilang di balik pintu cafe internet. Pun Abian yang berantakan pergi diawasi mata penuh binar punya Jagat Sambara dari balik pintu kaca.

Gang sempit hari ini sepi. Abian berdiri bertumpu pada dinding lusuh penuh coretan abstrak menghalangi cat putih asli. Tidak ada agenda menyerang kubu lawan, atau agenda bertemu di jalanan sempit menggelar tawuran. Abian berdiri sendiri dengan agenda pribadi;

Menghadang pengendara motor beat, Abian hanya ingin membalas budi atas kebaikannya di tempo hari. Tak sudi kalau sampai jadi hutang nanti. Atau ada sesuatu yang menarik diri, sampai sudi menunggu di jalanan sepi.

“Ngapain sih anjing, gue bukan ojek ya monyet.” Jagat terpaksa berhenti. Tidak ada salahnya menuruti manusia kelewat ganteng ini.

“Gue mau bayar tumpangan yang kemarin.” Abian lakeswara mau bayar budi sekaligus perjelas isi hati sebab terpercik nyalang di tempo hari.

Jagat dan Abian, keduanya cuma remaja denial yang belum banyak mengerti perihal asmara apalagi rasa suka. Tidak mengerti bahwa jatuh cinta bisa tentang mereka, bukan melulu yang digariskan norma—laki-laki dan perempuan.

“Gue nggak mau punya utang budi. Bilang aja lo mau berapa?” Abian berdalih, padahal minta tanggung jawab atas kalutnya hati.

“Buset, enak banget ya jadi anak orang kaya. Dah gue ini aja. Simpen aja duit orang tua lo.” Jagat rampas isi saku di dada seragam sekolah Abian; satu bungkus rokok yang mahal harganya bagi Jagat tidak bagi Abian. Itung-itung ngerasain rokok mahal.

Kalau saja Jagat orang tamak, maka isi di balik dadanya mau Jagat sekalian rampas. Padahal tidak tahu saja, kalau Abian juga rela di rampas hatinya, di buat debar setiap harinya.

Yang Jagat tahu selama ini, hidupnya cuma untuk bisa makan. Kerja sana-sini buat nambal perutnya yang kadang masih kosong di tengah malam. Jagat nggak tahu kalau hatinya yang kosong juga perlu diberi makan.

Lagi.

Dua remaja saling bertaut mata di jalanan sempit lagi. Jagat dan Abian punya rasa yang butuh dikasih validasi.

“Jagat, gue suka. Jadi pacar gue mau?”

“Lo punya apa mau jadiin gue pacar?”

Remaja miskin duit dan afeksi seperti Jagat sebenarnya bisa apa. Sok jual mahal, biar terlihat sedikit punya harga diri tinggi. Padahal hati sudah berteriak mengamini.

“Lo mau apa? Gue bisa jadi sugar daddy buat lo, kalo lo mau.”

Sekali lagi siapa Jagat sembara, mau ditanya berapa kali, Abian Lakeswara sudah terlampaui buat hatinya jatuh pada jurang tak berdasar.

Selanjutnya Jagat bisa apa selain mengiyakan. Dan Abian sambut dengan senyum merekah. Hatinya sudah punya tambatan.

Hati bertaut dan jalanan sempit cuma jadi saksi diam dua remaja yang saling lempar senyum dan mulai titip hati masing-masing.

Keduanya cuma dua anak adam yang sama-sama jatuh hati. Jadi tolong jangan dihakimi. Abian hanya kebetulan dititipi harta berlebihan oleh Tuhan dan Jagat tidak, Abian hanya laki-laki yang hatinya maunya dijabat Jagat bukan yang lain.

“Dah gue mau kerja, gausah cringe karena gue bukan cewek cantik ataupun sugar baby apalah itu. Gue masih cowok yang kebetulan punya gelar pacar panglima tempur.”

Jagat dan motor beatnya pergi dengan gelar baru menggantung di lehernya—'sebagai pacar panglima tempur'.


Written by anotherapi

Menjadi tempat yang paling sering Dika kunjungi, Dufan sebenarnya punya makna tersendiri. Bisa dibilang ada kenangan yang buatnya ingin selalu mengenang, dan tak ingin ia lupakan. Maka kembali ke tempat ini adalah pilihan paling serius agar momentum yang pernah ada tidak terenggut oleh lupa.

Weekend akan selalu menjadi hari dimana tempat wisata manapun berakhir dengan lonjakan jumlah para pengunjung. Meskipun hari sabtu, tentu saja Dufan terlihat cukup padat. Apalagi Dika dan Dewa datang sudah begitu siang, dikarenakan tabiat dewa yang bangun kesiangan.

Sinar matahari bahkan sudah terasa seperti membakar kulit keduanya. Dewa hanya bisa misuh-misuh dalam hatinya, karena seharusnya dirinya sedang bermalas-malasan di rumahnya.

“Ini mau kemana dulu Dik?” Dewa bertanya kepada yang punya rencana dan sedang melihat isi ponselnya, mungkin Dika membuatnya menjadi sebuah kegiatan yang begitu terencana dan mencatat di ponsel miliknya.

“Balik atau nggak ganti tempat aja gimana wa, gue ilang mood disini.”

“Anjing banget mood lu Dika, ini lu serius nggak sih?”

“Serius.”

“Yaudah sih ayo aja gue, panas banget anjir.”

Dewa tidak mengerti kenapa Dika menjadi super aneh, baru saja sampai di tempat yang dirinya mau, tapi malah tiba-tiba mengajaknya untuk kembali saja ke kosan hanya karena mood nya.

Tapi Dewa justru tidak banyak protes, karena jujur dirinya tak sanggup kalo harus berada di bawah terik matahari ini untuk beberapa jam kedepan.

“Sialan.” Dika mengumpat ketika mobilnya tiba-tiba sedikit oleng dan kemudian berhenti di tengah perjalanan saat berpindah dari Dufan dan akan mengunjungi sebuah cafe baru atas rekomendasi Dewa.

“Etdah kenapa Dik?”

“Kaga tau, bocor kayaknya.”

“Kampret bener hidup gue sama lu Dik.”

Dika menghela nafas kasar, melihat mobilnya yang mandek di tengah jalan. Dan mempertanyakan kenapa hari ini dirinya harus begitu sial.

“Gimana? lu minta tolong Ian dah.”

“Kaga ah, gue udah banyak ngerepotin si Iyan.”

“Kaga mau apa cemburu?”

Tebakan Dewa sepertinya benar, dari pertanyaan nya saja Dika tidak memberinya suatu jawaban yang memperlihatkan bahwa dirinya menyangkal pertanyaan tersebut.

Dewa sempat melihat sebuah postingan milik temannya satu kelas yaitu Ana yang memposting foto Ian, tampaknya mereka sedang bersama. Dewa sempat pikir itu yang membuat mood Dika tadinya menjadi berubah aneh, namun Dewa mencoba tidak peduli mungkin Dika saja yang memang lagi tidak mood karena hal lain.

Tapi melihat responnya kali ini, sepertinya perubahan mood anehnya tadi juga disebabkan karena hal itu.

| cw ; sexual tension, kissing.


Puncak bogor menjadi destinasi pelarian bagi Ian untuk mengusir penat setelah hari-harinya diisi menjadi tim sukses bagi calon presiden mahasiswa yang kini telah terpilih dan resmi menjabat.

Dika sudah terbiasa dengan ajakan dadakan Ian. Entah sekedar jalan-jalan malam atau liburan singkat ke luar kota motoran atau hal dadakan lainnya. Begitupun juga kali ini, Dika ngikut aja.

Dari kedatangannya di lokasi pertama; Warpat. Dika dan Ian sudah menghabiskan dua mangkok indomie dan dua gelas susu milo hangat. Obrolan mengalir, meja sudah kosong bersisa bungkus rokok dan isinya yang sudah berkurang. Beralih diapit oleh jari-jari milik Ian dan Dika.

kepulan asap rokok keduanya berbaur dengan angin yang sedari tadi juga tidak berhenti mengusik rambut keduanya. Tapi Ian maupun Dika tidak merasa marah, meskipun harus menyisir rambutnya berulang kali dengan jari-jarinya. Keduanya setuju untuk menanti sampai senja datang. Entah apa yang akan disuguhkan senja hari ini, sampai keduanya mau menunggu begitu lama.

“Liat Dik, makin siang makin banyak yang dateng bawa gandengan. lu mana gandengannya?” Ian bertanya sambil tersenyum setelah mengabsen pengunjung warpat yang kebanyakan muda-mudi kasmaran.

Dika yang ditanya ikutan senyum dan sedikit menelisik para pengunjung lain, memastikan kalau Ian tidak salah bicara. “Harusnya gue yang nanya, gandengan lu mana? masa ngajaknya gue mulu.”

“Justru karena itu, gue ngajaknya lu mulu. Ya karena gue kaga punya yang bisa digandeng. Lu mau gue gandeng?”

Dika mesam-mesem, jelas sumringah. Ian seketika membuatnya memerah. Tapi Dika buru-buru mungut warasnya, karena jelas pertanyaan Ian hanyalah sebuah candaan.

“Lu pikir gue kaga bisa nyebrang sendiri pake digandeng segala.”

Yang disuguhkan senja hari ini adalah corak hangat yang membentang menyelimuti apa yang ada di bawahnya. Ian dan Dika beranjak, tujuan keduanya adalah tempat untuk menginap. Dika tidak tahu di mana mereka akan bermalam. Karena lagi-lagi Dika ngikut aja, Ian yang ngatur semuanya.

Glamping; tujuan kedua, adalah pilihan Ian untuk bermalam.

“Anjay cakep banget yan.” Dika terpana dengan pemandangan yang tersaji di depan matanya.

“Suka kan lu, gue kaga pernah salah milih tempat.”

Akhir pekan Dika memang benar kebanyakan diisi dengan mengunjungi tempat-tempat pilihan Ian yang selalu terkesan nyaman, meskipun seringkali dadakan. Sedangkan pilihan Dika melulu hanya Dufan.

Tentu saja Ian memilih tempat bukan hanya dengan pertimbangan yang dirinya suka, tapi juga mempertimbangkan apa yang akan disukai Dika. Ian tidak akan membiarkan orang yang dibawanya sebagai teman urai isi kepalanya yang sedang acak-acakan merasakan ketidaknyamanan. Dan orang itu seringkali adalah Dika.

“Lu gak capek apa Yan?”

Berbaring bersama, setelah menikmati suasana malam dan hamparan bintang yang bergelantungan. Dika lontarkan tanya pada Ian yang tidur terlentang dan mata menengadah menatap langit-langit.

“Capek sih capek Dik, tapi gue seneng kok. Lu tau sendiri gue dari kecil sendiri makanya selalu nyari kesibukan sama orang lain, biar rame aja hidup gue.”

Ian sebagai anak tunggal memang seringkali merasakan rasanya sepi. Mungkin ini juga salah satu alasan Ian suka banget gangguin Dika.

“Diem Dik!”

PLAK

“Anjing sakit goblok.” Ian tidak dengan sengaja menepuk pipi Dika dengan cukup keras, hanya saja nyamuk di pipi Dika seperti sedang menantangnya. Dika ngamuk dan meringis merasakan sensasi panas di pipinya.

Dika masih tak terima, tendangan dilayangkan pada tubuh Ian beruntung tubuhnya tidak terhempas dari sisi kasur.

“Ada nyamuk tadi,” Ian protes tapi sambil ketawa-ketawi karena melihat wajah Dika yang merengut lucu akibat ulahnya. Kalau Dika tahu nyamuknya berhasil kabur pasti lebih ngamuk.

“Sorry Dik, sakit banget emang? coba sini gue liat.

Sebenarnya sakitnya sudah mereda, tapi Dika juga tahu cara bermain-main dengan sedikit melebih-lebihkan. Ian mengusap lembut pipi Dika supaya merah dan marahnya Dika reda.

Merah banget dik, emang gue keras banget tadi?”

“Hah” Dika hilang fokus sejak tangan Ian mampir di pipinya lagi bukan untuk memburu nyamuk.

Nafas Dika pendek-pendek seperti diajak berlari, jantungnya memompa tak terkendali. Sedangkan Ian tak kunjung mengerti kalau gerakan tangannya yang buat pipi Dika makin memerah.

Ian tidak mengerti kenapa pipi Dika justru terlihat makin merah. Ian juga tidak mengerti kenapa fokusnya kini ada yang ambil alih; bibir Dika.

“Bibir lu bagus Dik.” Bukan Ian kalau tidak mengutarakan isi kepalanya. Tapi setidaknya yang kali ini hanya satu point yang disuarakan, sedangkan point lainnya—ingin menciumnya—lebih baik dia simpan.

“Enak buat di cium maksud lu?”

“Dih, kaya jago aja.”

“Yang jelas lebih jago daripada lu.”

Posisi keduanya sama sekali tidak berubah, tangan keduanya masih bertengger di atas pipi Dika dengan jarak tubuh yang begitu minim. Yang berubah kini adalah tensi diantara keduanya setelah jawaban Dika sedikit menekan titik harga diri Ian.

“Ngomong doang, bisa buktiin gak lu?”

“Ntar ketagihan lu yang ada.”

Dika sepertinya salah langkah, boro-boro jago ciuman, terakhir kali dirinya ciuman saja di kelas satu SMA itu pun serampangan. Tapi tubuh Ian yang makin menantang membuat dirinya penasaran.

Darah berdesir, keduanya tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Pandangan sudah jatuh pada masing-masing objek yang jadi perdebatan milik siapa yang paling hebat ketika berjabat.

Seharusnya logika yang menentang keduanya patuhi, bukan malah jadi aksi layaknya dua orang yang kehausan afeksi.

Jiwa kompetitif Ian rasakan pada tautan pertama, ciuman Dika terkesan terburu-buru seolah tak mau ucapannya tadi terbantah.

Tautan kedua Dika biarkan Ian yang yang mendominasi. Lembut dan tidak terburu-buru, Ian membiarkan Dika mengerti bagaimana menikmati waktu. Dika merasa kalah telak, karena ciuman Ian jauh terasa lebih adiktif.

Dika tau keduanya sudah kepalang dikuasai nafsu, tapi Dika nggak tahu pertemanan apa yang akan berlanjut diantara keduanya setelah ini.

Maka ketika ada sesuatu yang menelusup ke dalam kaosnya dan menyapu perutnya, Dika lebih dulu melepas tautan. Menyingkirkan tangan dingin Ian dari dalam kaosnya.

“Mau ngapain Yan?”

Pertanyaan Dika membuat Ian kembali berbaring seperti semula kembali. Nafas keduanya masih tidak beraturan, kemudian muncul tawa di sela-sela mengatur nafas diantara keduanya.

Ian tidak menjawab, dadanya masih naik turun. Dirinya juga bingung.

“Gatau Dik, aneh banget sumpah.”

“Emang, mana ada temenan model kaya gini. Dahlah gue mau tidur, lain kali kalo mau ciuman sama pacar anjing!”

“Bilang aja jagoan gue.”

“Bodo amat, gue ngantuk.”

“Udah mau lulus nyari perkara aja sih.” Bara mengomel tidak memperdulikan Haidar yang mendesis akibat rasa perih di ujung bibirnya.

“Si bangsat yang nyari perkara, mulutnya emang pantes banget buat di tonjok tadi.” Haidar protes dengan wajah merah, masih kesal.

Duduk di sofa, paha Bara jadi sandaran kepala Haidar buat rebah. Dia tatap nanar Haidar yang wajahnya masam dan kacau. Dia sisir surai hitam legam Haidar lembut dengan jarinya, berharap bisa urai isi kepala Haidar yang sedang semrawut, juga hatinya yang ikut sakit.

“Masih bisa nggak sih Bar?”

Bara diam. Rumah Haidar sepi ditambah keheningan di antara keduanya. Hanya isi kepala yang saling bersahutan. Lidah Bara kelu buat jawab pertanyaan Haidar.

“Baru gini aja udah sakit, dunia jahat banget dah.” Haidar mengeluh, dunia kenapa begitu kaku buat mereka yang mau juga ukir bahagia.

Bara lagi-lagi nggak menyahut. Matanya panas, ada yang minta buat bebas lepas. Tangannya bergerak dari surai, turun ke wajah milik Haidar. Telapak tangannya menyapu pahatan yang kelewat indah dicipta Tuhan.

Giliran telapak tangan Haidar yang mampir pada kulit wajah Bara, jarinya mengusap bibirnya lembut. Netra yang bersitatap, saling mengadu.

“Boleh?”

“Lakuin apa yang mau lo lakuin.”

Lewat hembusan nafas yang saling bertegur sapa, bibir yang saling bertaut, serta saliva yang saling ditukar. Air mata yang sudah diberi kebebasan tak luput buat saling bersentuhan, saling tukar rasa sesak milik tuan masing-masing—keduanya menyatu.

Sentuhan dingin bibir keduanya ternyata mampu bawa hangat. Mata yang saling memejam, resapi sesapan lembut yang setiap detiknya sarat akan keputusasaan. Rasa sesak yang tangan Haidar berikan pada tengkuknya, Bara tidak akan protes. Dadanya jauh lebih sesak dari itu.

Di tiap decakan, ada harapan yang terus digantungkan.

Bertukar ciuman tidak pernah terasa sehina ini. Kejadian di kantin sekolah hari ini, seolah beri isyarat bahwa dunia tidak akan pernah mau menjadi sekutunya.

Keduanya tutup afeksi pilu dengan susunan harapan, dan kecupan tipis serta genggaman tangan yang terlampau erat.

‘Dunia kalau nggak mau jadi sekutunya, tolong jangan jahat-jahat ya.’


[haidar, bara] by anotherapi