anotherapi

Menjadi tempat yang paling sering Dika kunjungi, Dufan sebenarnya punya makna tersendiri. Bisa dibilang ada kenangan yang buatnya ingin selalu mengenang, dan tak ingin ia lupakan. Maka kembali ke tempat ini adalah pilihan paling serius agar momentum yang pernah ada tidak terenggut oleh lupa.

Weekend akan selalu menjadi hari dimana tempat wisata manapun berakhir dengan lonjakan jumlah para pengunjung. Meskipun hari sabtu, tentu saja Dufan terlihat cukup padat. Apalagi Dika dan Dewa datang sudah begitu siang, dikarenakan tabiat dewa yang bangun kesiangan.

Sinar matahari bahkan sudah terasa seperti membakar kulit keduanya. Dewa hanya bisa misuh-misuh dalam hatinya, karena seharusnya dirinya sedang bermalas-malasan di rumahnya.

“Ini mau kemana dulu Dik?” Dewa bertanya kepada yang punya rencana dan sedang melihat isi ponselnya, mungkin Dika membuatnya menjadi sebuah kegiatan yang begitu terencana dan mencatat di ponsel miliknya.

“Balik atau nggak ganti tempat aja gimana wa, gue ilang mood disini.”

“Anjing banget mood lu Dika, ini lu serius nggak sih?”

“Serius.”

“Yaudah sih ayo aja gue, panas banget anjir.”

Dewa tidak mengerti kenapa Dika menjadi super aneh, baru saja sampai di tempat yang dirinya mau, tapi malah tiba-tiba mengajaknya untuk kembali saja ke kosan hanya karena mood nya.

Tapi Dewa justru tidak banyak protes, karena jujur dirinya tak sanggup kalo harus berada di bawah terik matahari ini untuk beberapa jam kedepan.

“Sialan.” Dika mengumpat ketika mobilnya tiba-tiba sedikit oleng dan kemudian berhenti di tengah perjalanan saat berpindah dari Dufan dan akan mengunjungi sebuah cafe baru atas rekomendasi Dewa.

“Etdah kenapa Dik?”

“Kaga tau, bocor kayaknya.”

“Kampret bener hidup gue sama lu Dik.”

Dika menghela nafas kasar, melihat mobilnya yang mandek di tengah jalan. Dan mempertanyakan kenapa hari ini dirinya harus begitu sial.

“Gimana? lu minta tolong Ian dah.”

“Kaga ah, gue udah banyak ngerepotin si Iyan.”

“Kaga mau apa cemburu?”

Tebakan Dewa sepertinya benar, dari pertanyaan nya saja Dika tidak memberinya suatu jawaban yang memperlihatkan bahwa dirinya menyangkal pertanyaan tersebut.

Dewa sempat melihat sebuah postingan milik temannya satu kelas yaitu Ana yang memposting foto Ian, tampaknya mereka sedang bersama. Dewa sempat pikir itu yang membuat mood Dika tadinya menjadi berubah aneh, namun Dewa mencoba tidak peduli mungkin Dika saja yang memang lagi tidak mood karena hal lain.

Tapi melihat responnya kali ini, sepertinya perubahan mood anehnya tadi juga disebabkan karena hal itu.

Menjadi tempat yang paling sering Dika kunjungi, Dufan sebenarnya punya makna tersendiri. Bisa dibilang ada kenangan yang buatnya ingin selalu mengenang, dan tak ingin ia lupakan. Maka kembali ke tempat ini adalah pilihan paling serius agar momentum yang pernah ada tidak terenggut oleh lupa.

Weekend akan selalu menjadi hari dimana tempat wisata manapun berakhir dengan lonjakan jumlah para pengunjung. Meskipun hari sabtu, tentu saja Dufan terlihat cukup padat. Apalagi Dika dan Dewa datang sudah begitu siang, dikarenakan tabiat dewa yang bangun kesiangan.

Sinar matahari bahkan sudah terasa seperti membakar kulit keduanya. Dewa hanya bisa misuh-misuh dalam hatinya, karena seharusnya dirinya sedang bermalas-malasan di rumahnya.

“Ini mau kemana dulu Dik?” Dewa bertanya kepada yang punya rencana dan sedang melihat isi ponselnya, mungkin Dika membuatnya menjadi sebuah kegiatan yang begitu terencana dan mencatat di ponsel miliknya.

“Balik atau nggak ganti tempat aja gimana wa, gue ilang mood disini.”

“Anjing banget mood lu Dika, ini lu serius nggak sih?”

“Serius.”

“Yaudah sih ayo aja gue, panas banget anjir.”

Dewa tidak mengerti kenapa Dika menjadi super aneh, baru saja sampai di tempat yang dirinya mau, tapi malah tiba-tiba mengajaknya untuk kembali saja ke kosan hanya karena mood nya.

Tapi Dewa justru tidak banyak protes, karena jujur dirinya tak sanggup kalo harus berada di bawah terik matahari ini untuk beberapa jam kedepan.

“Sialan.” Dika mengumpat ketika mobilnya tiba-tiba sedikit oleng dan kemudian berhenti di tengah perjalanan saat berpindah dari Dufan dan akan mengunjungi sebuah cafe baru atas rekomendasi Dewa.

“Etdah kenapa Dik?”

“Kaga tau, bocor kayaknya.”

“Kampret bener hidup gue sama lu Dik.”

Dika menghela nafas kasar, melihat mobilnya yang mandek di tengah jalan. Dan mempertanyakan kenapa hari ini dirinya harus begitu sial.

“Gimana? lu minta tolong Ian dah.”

“Kaga ah, gue udah banyak ngerepotin si Iyan.”

“Kaga mau apa cemburu?”

Tebakan Dewa sepertinya benar, dari pertanyaan nya saja Dika tidak memberinya suatu jawaban yang memperlihatkan bahwa dirinya menyangkal pertanyaan tersebut.

Dewa sempat melihat sebuah postingan milik temannya satu kelas yaitu Ana yang memposting foto Ian, tampaknya mereka sedang bersama. Dewa sempat pikir itu yang membuat mood Dika tadinya menjadi berubah aneh, namun Dewa mencoba tidak peduli mungkin Dika saja yang memang lagi tidak mood karena hal lain.

Tapi melihat responnya kali ini, sepertinya perubahan mood anehnya tadi juga disebabkan karena hal itu.

Seperti yang Ardio bilang, kali ini Bara nurut.

Tidak seperti beberapa hari kemarin, kebas Haidar sama sekali tidak bisa buat keras kepalanya Bara melunak.

Haidar sudah seperti seorang intel atau bahkan seorang teroris. Bolak-balik masuk komplek perumahan Bara dan hanya berdiam diri.

Yang diharapkan ya cuma perkara Bara mau diajak berdiskusi.

Karena di sekolah pun Haidar juga tidak diberi ruang, selalu menghindar. Atau pasang muka buta dan tuli buat eksistensi Haidar.

“Thank you, Bar.”

“Langsung jalan aja bisa kan?”

Bara masih dengan egonya. Haidar bisa apa selain menuruti, daripada berubah gagal kunjungi makam papanya hari ini.

Sesi perjalan terisi dengan yang namanya sunyi. Ada yang berisik, tapi cuma isi kepala Haidar yang nggak bisa dilantangkan.

Meributkan banyak hal tentang orang di sebelahnya. Tapi Haidar cuma jadi pengecut yang pilih bungkam, karena belum berani lawan ego milik Bara yang kelewat tinggi.

Nanti, nanti Haidar akan berusaha lagi.

“Gue tunggu di sini.” Katanya. Lihat Haidar yang sudah mau turun dari mobilnya. Karena sudah sampai pada titik tujuan.

Pintu mobil ditutup kembali. Haidar diam sejenak.

“Bar, gue minta maaf karena udah ganggu lo hari ini. Tapi buat apa gue nyari temen ke sini kalo cuma nemenin sampe sini.

Kalo gue bisa sendiri, gue bakalan dateng sendiri Bar. Tapi sayangnya gue belum sanggup kalo harus sendirian.”

Haidar tidak bohong. Dan Bara sebenarnya tahu betul itu dari sorot mata Haidar. Sempat terus ingin bersikap bodo amat tapi berakhir mengekor di balik punggung Haidar.

Karena inilah Bara seringkali menghindar, karena dia tahu bakalan kalah.

Senyum getir dari Haidar muncul saat berhasil berjongkok di depan makam papanya.

“Pa, maaf ya Idar baru bisa dateng hari ini.” Batu nisan diusap lembut.

“Pa, Idar dateng sama orang yang sama lagi. Masih nggak berani dateng sendiri hehe.

Kalau nanti dia nggak mau, Idar dateng sama siapa ya pa?”

Tawa renyah Haidar sebenarnya menutup luka yang tiba-tiba menganga di hatinya.

“Maaf ya kemarin Idar kelamaan di rumah mama. Papa nggak kangen kan? Nggak sih pasti, yang kangen pasti aku doang.

Mama hidupnya udah bahagia pa. Idar seneng, papa juga pasti seneng kan?

Papa nggak usah khawatir lagi.” Kali ini tubuh Haidar bergetar, air matanya juga sudah tidak bisa bersembunyi lagi.

“Haidar tahu pa, selama ini yang papa khawatirin cuma hidup aku sama mama.

Papa selalu nyalahin diri sendiri.” Tubuhnya bergetar makin hebat, tangisnya juga halangi dia buat nafas tanpa sesak.

Semua memori dia bersama papa dan mamanya berputar memenuhi otaknya. Mengembalikan masa paling bahagia dan sedih saat hidup bersama.

Bara nggak tahu harus apa, tapi hatinya tiba-tiba juga ikutan sesak.

Rangkulan buat Haidar, Bara harap sedikit bantu buat hatinya tenang. Karena tidak ada yang bisa Bara lakukan selain itu.

Buyar.

Semua keluh kesah yang mau Haidar sampaikan seketika buyar, hanya karena tangan sesorang yang merangkul pundaknya.

Dia mau berteriak supaya papanya dengar, kalau tangan ini yang biasanya dia buat bersandar, sedang marah. Tapi masih mau menawarkan jadi sandaran. Tapi Haidar nggak sanggup, buat nafas saja dia tersengal-sengal.

“Tenangin diri Dar, papa lo pasti nggak suka liat lo nangis.” Punggungnya Bara usap dengan lembut.

Tidak sanggup lagi buat bicara, Haidar hanya banyak rapalkan doa buat papanya lewat batinnya.

Tapi dari segala doa, ada frasa yang dia sisipkan;

Pa, doain juga dong dia marahnya jangan lama-lama. Idar udah nggak sanggup.

“Mau abis berapa batang lagi sih lo?”

Semrawutnya hati, mungkin Ardio tidak bisa mengerti. Tapi kawannya yang berwajah kusut dan hisap batang rokok keempatnya ini dia coba pahami.

Bolos di hari pertama sebagai kelas 12, setidaknya buat Ardio bisa lepas dari kebosanan ruang kelasnya.

“Bagus dong doi balik, jadi lo kaga galau-galau lagi.”

“Gue capek Ar, polanya bakalan terus kayak gini.” katanya. Hisap sisa batang keempatnya, diinjak supaya mati bara apinya juga hatinya kalo bisa.

“Kaga ada yang tahu masa depan ego, besok aja lo nggak ngerti bakalan ngapain aja.

Bar,” panggilnya. Ada beban yang dia rasa perlu buat bantu kawannya ini urai sesuatu yang ruwet di kepalanya.

Bara jawab cuma dengan deheman. Merasa kecewa karena yang baru diapit jarinya adalah batang terakhir yang tersisa.

“Lo, Haidar itu manusia paling keren yang pernah ada dalam hidup gue.

Gak semua orang punya berani. Selagi bisa diperjuangkan, tolong buat dilanjutkan.” Sama sekali tidak ada kalimat yang Ardio jadikan bualan.

Dia anggap jatuh cintanya Haidar, Bara itu keren. Melawan dunia dan segala isi bacotannya.

Ardio pikir cinta tidak lagi bisa diukur oleh standar norma.

Dari awal sampai sekarang Ardio akan jadi orang nomor satu yang siap jadi tameng buat mereka. Mendukung apapun yang mereka sanggup jalani, meski tahu konsekuensi apa yang ditanggungnya nanti.

“Gue tahu Haidar mungkin salah, tapi lo liat, dia masih perjuangin lo dengan balik lagi.”

Dibawah langit yang merunduk dengan rona abu, Bara nggak tahu dunia mau uji dia dengan rasakan kehilangan berapa kali lagi nanti. Tapi dia mau jatuh cintanya nggak sia-sia.

Tapi apa ada akhir bahagia buat dua orang yang jatuh cintanya salah?

Berkali-kali Haidar menekan tombol 'calling' namun tidak ada satupun yang berhasil mendapatkan respon.

Nafasnya sudah tidak beraturan akibat berusaha menemukan si manis yang tiba-tiba berubah sikap dan menghilang.

Haidar mengacak rambutnya dengan frustasi sambil terus berjalan gusar berharap bisa dengan cepat menemukan keberadaan Bara.

Kata 'udahan' yang Bara sampaikan melalui kolom pesan, turut berdengung mendominasi kebisingan kepala Haidar saat ini. Karenanya Haidar sama sekali tidak bisa berpikir jernih, apa yang salah dari dirinya belum sempat dia temukan.

Langkahnya tiba-tiba berhenti saat panggilan kesekian kalinya ternyata mendapat respon oleh Bara yang entah saat ini sedang berada dimana. Betulan sudah pulang meninggalkan bandara sesuai apa yang dia bilang atau justru berbohong dan bersembunyi dari pandangan Haidar.

“Bar, kamu di mana?” Haidar berusaha selembut dan setenang mungkin agar yang di seberang telepon mau berkompromi. Tapi tidak ada jawaban sama sekali yang Haidar dengar, bahkan ketika pertanyaan sudah diulanginya sebanyak tiga kali.

“Oke, kalau kamu nggak mau kasih tahu kamu di mana,” Haidar masih berusaha menahan sikap supaya tidak jadi makin keruh. “Tolong kasih tau ya, aku salah apa kali ini, biar aku ngerti harus gimana.”

Setidaknya Haidar mau mendengar bahwa yang di seberang masih mau berbicara kepadanya. Bukan hanya diam dan mengabaikannya. Sebab diam dan abainya Bara adalah lemah yang sulit Haidar bisa sanggup hadapi. Dan kali ini harapannya dikabulkan, tapi dengan suara isak tangis yang ditahan dari seberang, bukan suara jawaban atas pertanyaan.

“Kamu nangis Bar?” Haidar tanya dengan penuh hati-hati.

Kaki yang tadinya berdiri tegak seketika lemas, seakan sudah tak mampu menopang diri. Apa yang Haidar dengar benar-benar buat dirinya merasakan sesak luar biasa ketika lagi-lagi hanya suara isak tangis yang didengar.

“Hey, jangan nangis,” Meskipun begitu, Haidar biarkan meski tak sanggup mendengar. Haidar sadar Bara mungkin perlu melepas apa yang menyesakki dadanya. Cukup lama, hingga yang terjadi sama sekali tak ada kata yang saling terdengar dari keduanya.

“Udah ya, jangan nangis. I'm sorry.” Meskipun belum paham apa kesalahannya, Haidar berusaha untuk menjadi selayaknya orang yang harus meminta maaf. “Aku nggak akan kemana-mana, ayo ngobrol kalau kamu udah siap.”

“Nggak Haidar.” Jawaban dari seberang telepon terdengar sedikit bergetar.“Berhenti di sini, dan silahkan pergi.”

“Aku bilang stop bilang gitu Bara!.” Apa yang Haidar tahan sejak tadi sepertinya sudah muak ingin meledak. “Segampang itukah kamu ngomong kaya gitu?” Tak habis pikir bagaimana Bara beberapa kali mengucapkannya semudah itu. Apa yang sudah mereka lewati selama ini tampaknya sama sekali tidak ada yang memiliki arti bagi Bara.

“Apa sulitnya Haidar, justru akan lebih mudah semuanya kan? daripada bikin capek doang.”

“Sekarang, kamu mau gimana?”

“Stop di sini.”

“Oke, tapi aku tanya sekali lagi apa alasannya Bar?”

“Udah gak ada lagi yang bisa dilanjut Dar, percuma. Dari awal hubungan ini gak ada gunanya.”

“Bukan jawaban itu yang gue mau Bara!, lo ngerti gak sih apa yang gue tanyain?”

Tiba-tiba hening. Haidar tak tahu apa yang Bara lakukan. Ucapannya barusan cukup membuat dirinya sendiri terkejut.

Sudah cukup rasanya Haidar dibuat bertanya-tanya, dan harus kalah dengan keras kepalanya Bara.

Terdengar tawa kecil dari seberang serta nafas yang turut tak wajar.

“Ngomong Bara, ngomong!.” Haidar terus berusaha mendesak Bara.

“Selamat buat beasiswa Belanda.”

Akhirnya Haidar berhenti mengira-ngira letak tingkah salahnya. Dirinya bungkam seketika, tidak ada satu katapun yang menyambut ucapan selamat dari Bara. Mulut dan lidahnya terasa beku.

“Apa lagi yang mau lo denger? apa lagi Haidar? kenapa sekarang lo diem? Hah?”

“Bar, aku bisa jelasin.”

“Tapi gue gak butuh Haidar.”

“Bar, ini gak sep-”

“Stop this fucking shit Haidar, gue bilang gue gak butuh.”

Ketika suara panggilan ‘Haidar’ dari si manis yang biasa terdengar begitu candu sehingga ingin dirinya dengar berulang-ulang, kini justru berubah tak ingin Haidar dengar berulang kali. Yang biasanya menghasilkan rasa menggelitik, kini menghasilkan rasa sesak.

“Aku harus apa Bara?”

“Pergi Haidar, selesai di sini. Karena semua rencana lo gak akan pernah ada gue di dalamnya.”

“Enggak Bar,” Haidar menggelengkan kepalanya seakan yang di seberang telepon bisa melihatnya. “Kamu salah.”

“Pergi Haidar,” Suara Bara kali ini melemah, menyiratkan bahwa Bara sudah lelah dengan semua yang terjadi. Yang ada dalam pikirnya saat ini hanyalah ingin mengakhiri semuanya. Dan Haidar sudah kehilangan kata-kata untuk menyakinkan Bara.

Keduanya ada dalam kabut emosi yang sama, sehingga perdebatan lewat sambungan telepon berakhir dengan luka yang sama terasa perih. Sebab, bukan hanya sambungan telepon yang berakhir tapi juga hubungan keduanya yang dipaksakan untuk berakhir.

Janji Pulang

Cukup lama Bara terdiam, hanya memandang piring dengan sisa-sisa bumbu batagornya. Banyak hal yang muncul yang ingin disampaikan dan tanyakan, tapi berujung mandek tercekat pada ujung tenggorokan.

Bara tahu bahwa ini juga akan jadi keputusan berat bagi Haidar. Dirinya hanya takut bahwa ujung dari bicaranya nanti tak bisa tahan Haidar buat tetap di sini.

Wajahnya dia usap acak, surainya dia sugar ke belakang kemudian tatap Haidar yang sedari tadi cemas menunggu tanggapannya. “Jadi, pergi atau enggak, keputusan kamu?”

Haidar merasa kesulitan untuk menjawab, sebab netra Bara yang menusuk tepat di kedua netranya. Menuntut jawaban pasti mana yang akan keluar dari mulut Haidar.

“Aku bakalan nyusul Mama.” Satu bulir air bening berhasil lolos dari salah satu netra Bara. Rasa sesak juga tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.

Hidup Haidar bukan hanya berisi Bara, tapi ada banyak hal yang bahkan lebih penting dan lebih layak untuk Haidar tuju. Dan Bara sadar itu.

“Bagus kalo gitu, Mama kamu juga pasti khawatir kamu di sini sendirian.” Bukan jawaban seperti ini yang Haidar harapkan. Bukan jawaban seperti ini yang Haidar mau.

Apa yang bisa Bara lakukan, menahan Haidar hanya akan jadi ide buruk dari segala ide buruk yang ada. Nantinya takut banyak penyesalan.

Jalannya masih panjang, masih harus menemui banyak persimpangan, maka ketika Haidar pilih untuk pergi dan tak membawa apa yang dia temui di persimpangan saat ini, Bara rasa jalannya akan lebih ringan.

“Kamu mau berangkat kapan emang? apa aja yang kamu butuhin, kalo butuh bantuan bilang aja.” seketika hati Haidar mencolos.

Seharusnya Bara marah, bukan malah tahan emosinya seperti ini. Seharusnya Bara tahan supaya Haidarnya tidak pergi, bukan pura-pura tidak apa-apa seperti ini.

“Sini piring kamu, ntar kalo kering susah dicuci.” Bara hendak berdiri, pergi membawa dua piring untuk di cuci sekaligus pergi karena tak sanggup menahan sesak dadanya di hadapan Haidar.

“Bar, jangan kaya gini.” Haidar tahan tangan Bara.

“Trus aku harus apa, nahan kamu supaya gak pergi, itu namanya aku egois Haidar.”

“Sama sekali enggak egois Bara.”

“Oke, kalau aku bilang jangan pergi, kamu mau tetap di sini?” Bara benar, nyatanya Haidar tak sanggup beri jawab. “Kenapa diem?”

Haidar ambil alih piring di tangan Bara dan di letakkan kembali di atas meja. Dia rengkuh Bara supaya tenang hatinya.

“Kenapa diem Haidar?” Air mata yang dari tadi sudah brontak ingin lolos lepas, kini jatuh terjun bebas melewati pipi Bara yang bertumpu pada bahu Haidar.

Tangisnya tumpah, sebab sekelebat bayangan hidup tanpa ada Haidar memenuhi dirinya bergantian.

Haidar angkat kepala Bara agar netranya sejajar dengan netra Bara. Dia hapus air mata Bara yang basahi spot favoritnya untuk mendaratkan sebuah cubitan.

“Hey, aku janji pasti pulang, dan gak akan lama di sana. Kalo tadi kamu bilang egois, aku mau kamu egois. Aku mau kamu tahan aku di sini. I know, aku akan tetap pergi tapi untuk pulang lagi karena kamu ada di sini.”

Haidar benarkan rambut hitam Bara yang basah akibat peluh. “Aku janji pulang secepatnya.”

Haidar cium kening Bara cukup lama, supaya bisa dia simpan dan ingat nantinya. Kalau-kalau perginya nanti dilanda rindu.

Keduanya saling rangkum, lewati beberapa kali sulitnya bersama kini seolah di uji dengan tingkat kesulitan yang semakin tinggi. Setelah ini kalau mampu terlewati, sulit setinggi apa lagi yang harus dua adam ini lewati.

Bara menenteng dua bungkus batagor kesukaan Haidar. Rencananya Bara akan mengajak Haidar bicara bahwa bahwa pola hidupnya sekarang sudah salah kaprah, dan berharap hubungannya setelah ini bisa kembali baik-baik lagi seperti dulu.

Saat masuk ke dalam rumah Haidar, Bara kembali di sambut dengan bau asap rokok yang begitu menyengat. Haidar tengah sibuk dengan rokok di sela-sela jarinya, serta begitu tampak berantakan.

“Rokok lagi, stop Haidar.”

“Kamu ngapain ke sini?”

“Aku bawain kamu batagor, makan dulu yuk. Jangan rokok mulu.”

“Kamu makan aja sendiri. Aku gak laper.” Haidar benar-benar tak memperdulikan Bara yang sudah dengan niatnya membawakan dirinya makanan kesukaannya.

“Aku tau kamu belum makan, berhenti ngerokok aku bilang.” Bara merebut rokok di tangan Haidar, dibuangnya rokok itu.

“Kenapa di buang sih, aku bilang aku gak laper, ngerti gak sih.”

“Terserah kamu, sekarang makan dulu pokoknya ayokkk. “Bara membawa lengan Haidar untuk mengikuti dirinya.

“Stop Bar,” Haidar melepaskan lengannya dari cengkraman Bara. “Kalo masih gak paham sama omongan gue, mending lo keluar dari sini.”

Hati Bara sungguh sakit mendengar ucapan yang baru saja di lontarkan Haidar.

“Mau kamu apa sih?”

“Lo keluar dari sini, gak usah banyak bacot soal hidup gue lagi.”

Netra Bara tiba-tiba dipenuhi dengan cairan bening. Bara tatap lamat-lamat orang di depannya yang sudah bukan lagi Haidarnya yang dulu.

“Oke, kamu pikir aku gak capek selama ini. Setelah ini aku gak akan ganggu kamu lagi, lakuin apapun yang kamu mau.” Bara segera berjalan keluar dari rumah Haidar, karena tak sanggup lagi tahan pelupuk matanya yang sudah penuh dan akan jatuh isinya.

Tepat di depan gerbang rumah Haidar, Bara berhenti, berjongkok dan menangis. Rasanya begitu sesak, dirinya tak sanggup lagi berdiri.

'Ternyata cuma sampe sini ya Dar, buat apa dulu aku harus jatuh sama kamu.'

Bara merasa bodoh, khawatirnya selama ini akan Haidar yang pergi dan rasa sukanya yang harus bertahan sendiri. Akhirnya benar terjadi. Rasanya begitu sakit.

Harusnya dari awal Bara tak pernah turuti hati, dan Haidarnya yang ternyata ingkar janji.

Sudah cukup lama Haidar membawa mobil menyusuri jalanan malam, hingga sepi para pengendara dan tinggal beberapa saja yang melintas serta berpapasan.

Sudah banyak pula lagu-lagu yang Haidar dan Bara putar, mulai dari lagu-lagu lawas milik The Beatles hingga lagu-lagu Justin Bieber turut mengisi ruang diantara keduanya.

“Berhenti dulu yuk.” Sebenarnya ajakan Haidar tidak lebih kepada pernyataan, karena belum sempat Bara memberinya jawab, Haidar sudah menghentikan laju mobil tersebut.

Genggaman tangan Haidar lepas, kemudian keluar dari mobil dan diikuti Bara. Keduanya duduk di atas trotoar.

Merokok menjadi salah satu opsi yang Haidar pilih untuk dia lakukan saat ini. Sedang Bara memilih untuk tidak menghisap batang racun tersebut.

“Are you happy?” Bara tahu Haidarnya lagi senang hati, tapi ada sedikit rasa penasaran bagaimana rasa bahagia yang Haidar rasakan saat ini.

Haidar terseyum, sebelum memberikan jawabannya dirinya terlebih dulu menghisap batang rokoknya. “I don't know—

Kembali dengan menghisap rokoknya, Haidar rasanya butuh waktu untuk mengolah kata yang akan disampaikan, karena rasa bahagianya kali ini cukup rumit Haidar rasa.

Aku seneng ngeliat Papa dan perubahannya hari ini, tapi gak tau kenapa ini tuh rasanya abu-abu.” Haidar menoleh, mempertemukan netra keduanya. Berharap Bara bisa paham dengan apa yang sedang dirasakannya.

“Tapi tiba-tiba aku juga ngerasa takut, takut kalau-kalau Papa pergi. Entah Papa yang malam ini pergi karena sudah berganti hari dan jadi Papa yang lain lagi, atau Pergi tanpa kembali karena merasa sudah berpamitan dengan baik malam ini.”

Sadar nafas yang Haidar buang cukup berat, Bara mulai paham dengan bahagia dan khawatirnya Haidar.

“Kalau ini beneran jadi pamitnya Papa, rasanya akan lebih sakit. karena, Papa udah jadi yang Aku mau.” Ujung rokoknya yang sudah menjadi abu karena sibuk urai perasaannya lewat kata, Haidar buang.

“Lebih baik Aku bangun, dengan ngeliat Papa kembali jadi orang yang gak banyak punya rasa peduli.”

Bara tidak pernah tau bagaimana rasanya begitu takut kehilangan, yang Bara tahu adalah bahwa kehilangan adalah sesuatu yang begitu menyakitkan. Apalagi yang pergi tanpa berpamitan.

Antara rasa takut kehilangan dan rasa ketika sudah ditinggalakan, Bara juga tak paham mana yang lebih menyakitkan. Bisa jadi rasa takut kehilangan akan lebih menyakitkan, karena disiksa dengan yang namanya suatu ketidakpastian.

Bara tak memberi tanggapan sepatah katapun, dia hanya mengambil satu tangan Haidar yang menganggur. Dia genggam dan sembunyikan di balik kemejanya. Ibu jarinya bergerak pelan di atas tangan Haidar, berharap memberikan rasa tenang dan meredakan rasa khawatirnya akan banyak hal.

Bara bukan orang yang pandai memberikan respon dengan rangkaian kata manis atau kata yang mampu memberikan solusi dan ketenangan hati. Tapi dia akan menjadi telinga yang siap sedia mendengar semua keluh kesah Haidar. Setidaknya Haidar tidak harus merasakan khawatirnya seorang diri.

“Kehilangan kamu sekarang juga jadi bagian rasa takutku Bar.” Haidar injak batang rokoknya yang tinggal putungnya saja. “Jangan kemana-kemana,”

Bara sanggupi dengan anggukan, dan mempererat yang tersembunyi di balik kemejanya.

Keduanya kemudian sama-sama diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai 4rcukup lama.

“Kok aku udah ngantuk ya.” senyum canggung mengiringi Bara menatap Haidar sambil menahan rasa kantuk yang tiba-tiba menulusup ke dalam dirinya.

“Tadi aja minta sampek pagi, masa udah ngantuk duluan.”

“Ya kan yang bikin ngantuk, gak ngantuk bukan aku. Masuk ajalah mau tidur bentar aja.” Bara berdiri, menepuk celana belakangnya yang mungkin saja ada kotoran yang menempel. Haidar mau tak mau mengikuti.

“Pulang aja biar enak tidurnya, lagian mau ngapain lagi sih.” Melihat Bara yang sudah pasang posisi untuk tidur dengan posisi yang menurutnya tidak nyaman. “Tidur dulu juga gapapa, nanti aku bangunin.”

Rasa kantuk sepertinya benar-benar sudah menguasai Bara, sehingga dirinya mengiyakan ajakan Haidar dan betulan tertidur setelahnya. Hingga tak terasa Haidar sudah membangunkan dirinya.

“Udah nyampek, masuk gih.”

“Lah kok pulang ke rumah, kamu pulangnya?” Bara baru sadar kalau mobilnya berhenti di sekitar kompleks rumahnya.

“Aku udah pesen grab. Tenang aja.”

“Emang ada jam segini?”

“Ada. Dah sana masuk, tidur.”

“Nunggu kamu dulu deh,”

“Mata udah merah banget gitu, lagian drivernya udah deket. Dah sana masuk.” Haidar berniat untuk keluar dari mobil Bara, supaya Bara segera masuk ke rumahnya dan menyelesaikan tidurnya yang belum selesai dan sama sekali tak nyaman.

“Bentar.” Pintu belum terbuka, Bara menahan tangan Haidar untuk tidak buru-buru keluar terlebih dulu.

“Kenapa la— belum selesai kalimatnya Bara menghadiahi pipi kiri Haidar dengan ciuman singkat. —gi.”

Haidar tersenyum, menampilkan gigi-gigi rapihnya. “Tumben banget, kenapa?”

“Aku gak bisa janji tapi aku bisa bilang untuk saat ini aku bakalan gak akan kemana-mana Haidar.”

“Makasih ya.” Haidar tangkup wajah si manis. Sedikit rapikan rambut yang berantakan akibat tidurnya tadi.

“Udah, sana masuk.” Haidar kembali akan membuka pintu mobil.

“Gitu doang.”

“Hah? apanya?” Haidar mengerutkan dahi.

“Tau ah.”

“Kenapa lagi? bilang aja, aku mana tau kalau kamu gak ngomong.”

Bara hanya menyentuh pipi kanannya dengan jari telunjuknya, tanpa ada keberanian sampaikan lewat suara. Dan matanya beri isyarat supaya Haidarnya mendekat.

“Pamrih juga kamu ternyata ya. Sini.” Bara mendekatkan pipi kanannya. Tapi Haidar malah tangkup wajahnya kembali dan memberikan ciuman pada beberapa titik di wajah Haidar. Dahi, pipi kanan dan kiri, hidung. Bara sama sekali tak bisa melawan.

“Ini mau juga gak?” Haidar menatap bibir Bara.

“Ish udah-udah, gak bakalan pulang kamu nanti. Lagian udah dikasihnya sekali malah ngelunjak kamu.” Bara mendorong tubuh Haidar.

“Hahaha, yaudah. Aku keluar ya, kamu langsung masuk.”

“Hmm”

Mobil Bara sudah meninggalkan Haidar yang berdiri sendiri, menunggu driver grab dengan senyum yang tak bisa lepas karena sikap manis Bara yang masih utuh di pikirannya.

Bara dibuat bingung dengan Haidar, dari tadi malam handphone miliknya sudah tidak aktif setelah pesan terakhir. Hari ini pun dirinya tidak masuk kelas, padahal Bara coba tanya yang lain sempat lihat Haidar datang tadi pagi.

Haidar selalu seperti ini, memilih pergi dan menenangkan diri kalau ada yang buat dirinya risau hati.

Sebenarnya Bara sudah hafal, tapi tiap kali Haidarnya menghilang begini, Bara masih saja tak bisa kalau tidak menahan rasa kesal dan khawatirnya.

Setidaknya untuk kali ini Bara tahu harus pergi kemana. Belakang toilet cowok yang berada di pojok sekolah.

Benar.

Haidar ada di sana, berdiri bersandar ke tembok, tangannya mengapit satu batang nikotin.

“Mau dong.” Suara Bara berhasil buat Haidar mau tak mau bersitatap dengan Bara. Dan tanpa sepatah kata Haidar mengeluarkan satu bungkus rokok miliknya dari kantong, dan disodorkan pada Bara.

“Mau yang itu.” Bara malah menunjuk batang rokok yang sedang dihisap oleh Haidar.

Setelah rokok miliknya berpindah kepemilikan, Haidar menghidupkan batang rokok baru.

Beberapa menit keduanya merenung dan sibuk menghisap batang rokok masing-masing. Sesekali mata Haidar pilih buat pandangi Bara, Bara yang sedang merokok di depannya ini entah kenapa buat Haidar tenang hatinya.

Sorry.” Haidarnya akhirnya buka suara. Bara menoleh sekilas.

“Buat?”

“Cemburu.” Haidar jujur bahwa sikapnya kemarin adalah bentuk atas dirinya yang dilingkupi perasaan cemburu.

Bahwa Haidar tiba-tiba tidak memiliki rasa percaya diri. Baranya takut kalau harus berpaling hati, takut posisinya yang sudah sulit ini, harus diambil orang lain.

I know Dar, aku juga minta maaf. Harusnya aku bisa hargai kamu dengan tidak bersikap berlebihan.”

Kalau saja Bara yang di posisi Haidar, dirinya tidak menutup kemungkinan akan bersikap sama seperti Haidar.

“Sulit ya Bar?” Haidar tanya sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Kamu serius nanya kaya gitu?” bukankah sudah dari awal kalau keduanya memilih jalan sulit ini.

“Masih sanggup gak?” Bara cuma tanggapi pertanyaan Haidar dengan tawa rendah. Buat apa Bara iyakan dari awal kalau sudah tidak sanggup di tengah jalan.

“Disya, suka sama kamu.”

“Tau, aku sukanya kan kamu.” Ucap Bara sambil menatap netra Haidar. Rokoknya sudah kandas, puntung rokoknya Bara injak dengan sepatunya.

“Kalau gitu kasih tau kalau kamu punya pacar, biar gak kebablasan.”

“Oke.” Bara iyakan maunya Haidar. Nanti biar dia kasih tahu pada Disya, bahwa dia tidak suka dan sudah punya orang yang begitu dicintainya.

Keduanya kemudian saling tertawa, pandangan di antara keduanya tidak pernah bohong, bahwa rasa cinta yang keduanya punya, makin besar dirasa.

Rokok punya Haidar juga kandas, dibuangnya puntung rokok begitu saja. Tangannya dibuka lebar.

“Sini mau peluk dulu.”

Bara tersenyum, Haidarnya sudah kembali. Dirinya berjalan gontai seolah tidak ikhlas memberi pelukan untuk Haidar. Tapi ketika jarak sudah tak lagi jadi penghalang, Bara yang lebih erat memeluk Haidarnya. Menghirup rakus wangi Haidar yang menguar dari ceruk lehernya.

“Udah gak marah kan?” Haidar hanya sanggup menggelengkan kepala. Pelukan Bara adalah satu tempat yang paling nyaman buatnya bersandar ketika dunia sedang jahat padanya. Begitu nyaman, sampai Haidar nggak mau buat lepas.

Kalau saja Bara tahu, Haidar ini tidak bisa marah kalau dia buat salah. Yang ada Haidar lebih marah kepada dirinya ketika Bara tidak bisa tahu apa maunya. Haidar merasa apa yang salah dari dirinya sampai Bara bisa tak paham dengan isi hati dan kepalanya.

“Lain kali tolong jangan bikin khawatir.” Bara merenggangkan pelukannya, mengerutkan dahi dan pasang wajah bingung dengan ucapan Haidar.

“Aku takut kamu pergi.” Haidar buru-buru kasih penjelasan atas kalimatnya, dan mengeratkan kembali pelukan.

Bara tersenyum dan seketika wajah dan telinganya memerah, untung saja Haidarnya tidak bisa melihat.

Cemburunya Haidar begitu valid, rasa khawatir akan banyak hal yang kemungkinan terjadi, menumbuhkan rasa takut akan kehilangan Bara. Dan hal ini yang menjadi paling berisik dari isi kepalanya, sampai mengusik isi hatinya.

Buat Disya maaf ya, rasa suka kamu buat Bara sebaiknya kamu hapus saja. Sebab Haidar dan Bara keduanya sudah pasang ikatan yang simpulnya terlalu kuat.

Susah buat dilepasnya.

Langkah kaki Haidar bawa masuk dirinya ke sebuah cafe yang bisa Haidar lihat isinya lebih banyak didominasi oleh anak-anak muda seperti dirinya.

Berhenti sebentar.

Kaki Haidar berhenti melangkah, sebab matanya tangkap dua muda-mudi dalam satu meja. Keduanya duduk bersebelahan, menatap layar laptop sambil sesekali tersenyum akibat lelucon yang mungkin turut hadir di tengah-tengah keduanya.

Orang lain yang melihatnya, mungkin akan bilang kalau keduanya layaknya pasangan anak remaja yang baru saja memadu kasih. Sedang Haidar, rasakan sedikit nyeri hati.

“Woy Bar, di sini lo.” Haidar tentu berpura-pura tak sengaja bertemu keduanya.

Bara putar malas bola matanya, melihat Haidar yang sudah tiba-tiba ada di hadapannya. Bara ini sadar, Haidarnya sedang cemburu. Tapi bukankah semestinya dia tidak bertingkah seperti ini.

“Dis. lagi nugas lo pada?” giliran Disya yang Haidar kasih tatapan matanya.

“Iya dar, lo sendirian aja?”

“Iya nih, gue gabung boleh kali.”

“Boleh lah, duduk aja situ. Kita tadi udah pesen makan, lo pesen aja dulu.”

Senyum miring Haidar berikan buat Bara yang kesal pandangi dirinya.

Bara dan Disya seolah sibuk dan tak memperdulikan Haidar yang ada di depan mereka.

Intensitas obrolan mereka juga terlihat intim, seolah Haidar tak boleh dengar satu kalimat pun apalagi ikut campur.

Kesal.

Haidar kesal dengan Bara yang tak paham dengan apa maunya, malah semakin terlihat akrab saja dengan Disya.

“Ekhem, ekhem. Lo berdua sering ya ngerjain tugas di sini?”

“Lumayan gak sih Bar, akhir-akhir ini soalnya gue sama Bara satu kelompok terus. Enak gitu suasananya.” Disya yang jawab pertanyaan basa-basi Haidar.

Haidar terus memecah keseriusan antara Bara dan Disya dengan pertanyaan-pertanyaan nyeleneh.

Bara hanya berdecak kesal. Apa sih maunya Haidar, kalau dianya tanya terus kapan ini selesainya, pikir Bara.

“Eh makanan gue dah dateng duluan, ini tuh enak banget. Dari kemarin kehabisan mulu, nih cobain Bar.” Disya bawa satu sendok berisi cake yang katanya kesukaanya, supaya Bara bisa cicipi bagaimana rasanya.

sendoknya sudah di depan mulut, tapi Bara lirik Haidar yang ternyata beri dia tatapan jengah. Tapi apa boleh buat, gak enak juga kalo harus ditolak.

“Aduh jadi belepotan Bar, sorry.” Tangan Disya yang tanggap, ambil tisu buat lap bibir Bara yang sedikit belepotan. Tapi ditangkis duluan tangannya sama Bara, keduanya malah liat-liatan gak tau kalau ada orang yang lagi tahan buat gak balikin meja di depannya.

Haidar rasakan amarah menguasai dirinya, kalau bisa sudah dia tarik Baranya untuk pulang. Kekesalannya meningkat saat Bara malah meladeni Disya dengan entengnya, padahal ada Haidar di depannya. Gak mikir apa!.

“Gue ke depan dulu deh, mau ngerokok.” Haidar pergi, Bara yang sadar sebenarnya tak enak hati. Tapi kalau Bara susul Haidar yang lagi emosi begini, sama aja gak bakalan reda.

Menghabiskan satu batang rokok, Haidar akhirnya pilih buat meninggalkan cafe saja. Percuma juga Baranya masih sibuk dengan orang lain, dan tak menggubrisnya.

Haidar tau betul bahwa si manis miliknya sedang jadi objek sukanya Disya, teman satu kelasnya. Yang tentu saja tak tahu terkait hubungannya dengan Bara. Haidar cuma mau bahwa miliknya jangan sampai pindah hati, sebab susah payah dia dapatnya.

Juga beri Bara peringatan, bahwa Haidarnya sedang cemburu, jadi tolong kalau bisa jauh-jauh. Disya ini berpotensi ambil posisinya.