anotherapi

“Kok lo bisa tau itu gue yang punya.”

Ara langsung menyodorkan pertanyaan kepada Gez sambil mendaratkan dirinya pada kursi di depan Gez. Ara berusaha mungkin tidak menatap langsung pada matanya, ia benar-benar berharap bahwa laki-laki di depannya ini sudah lupa terhadapnya dan tidak mengenalinya lagi.

“Lo gak inget sama gue, apa karena gue makin ganteng kali ya.

Ghazy Adnan Magani, yang dulu lo panggil Gani.” Gez perjelas siapa dirinya.

Perkiraannya salah.

Ternyata laki-laki itu mengingatnya. Sedang Ara hanya diam karena tak tau lagi harus merespon bagaimana. Sejujurnya ia merasa sangat canggung.

“Lupa gapapa kali Ra, gue bukan mantan terindahkan”

“Eh gak gitu.” jawab Ara tergesa, karena merasa tidak enak pura-pura lupa terhadapnya.

“Jadi gue mantan terindah nih”

“Hah”

Gez tersenyum tipis dengan tingkah Ara yang berhasil digodanya. Ara salah tingkah.

Semburat merah yang muncul pada pipi Ara, semakin membuatnya malu. Ia mengutuk dirinya sendiri.

“Maaf banget tapi gue buru-buru banget, kalo gue pergi dulu gapapa nih.” Ara teringat akan ia yang harus beres-beres untuk pindahan.

“Ini udah gue pesenin minum, nggak diminum dulu Ra” minuman yang memang sudah tersaji di meja sudah Gez pesan sejak dirinya sampai terlebih dahulu di cafe.

Melihat Ara yang sepertinya memang sedang terburu, Gez tidak mungkin menahannya.

“It's Okay Ra, nih journal book lo” disodorkan buku yang tidak sengaja membawa mereka bertemu kembali.

“Sorry banget ya. Nanti gue hubungin lo lagi, gue pergi dulu ya.”

Ara pamit, tubuhnya dibawa keluar dari cafe tersebut. Sedang Gez di sana masih tidak percaya bahwa yang ia temui itu benar Ara, yang sempat menjadi gadisnya; dulu.

Entah mengapa hatinya seakan merapalkan banyak rasa syukur saat kembali bertemu dengannya lagi.

And without Gez knowing it, he fell again for her


Cw : mature content 🔞

Setelah mengirim pesan kepada Aca, Marel langsung ijin keluar dari ruang rapat bersama anggota BEM itu, tentunya dengan alasan yang sudah dipersiapkan.

Marel tak ingin sahabatnya itu menunggu terlalu lama, karena itu akan merusak mood nya dan berujung akan mendiamkannya. Kalau sudah begitu, akan sulit untuk membujuknya.

Sudah dua minggu sejak kejadian acara dating yang diisi dengan menonton, lalu keduanya malah lepas kontrol. Kegiatan yang seharusnya tidak dilakukan, ketika ikatan diantara keduanya hanya sebagai sahabat.

Tapi semenjak itu pula, keduanya tidak ada yang berani membahas akan hal itu. Baik Marel maupun Aca keduanya seolah saling menghindari pembahasan tersebut.

Dua minggu sudah, meskipun begitu kedua nya masih bersikap seperti biasa. Keduanya masih dekat tanpa rasa canggung. Seolah kegiatan panas sebelumnya hanya angin lalu.

Marel berdecak kala tempat martabak yang diinginkan Aca lumayan ramai pengunjung, terpaksa dirinya harus mengantri dengan sabar.

Setelah setengah jam lebih, akhirnya keluar dari kerumunan antrian, lantas membuat Marel membuang nafas lega. langsung ia bawa mobilnya melaju kencang agar segera sampai apartemen sahabatnya itu.

Aca sebenarnya tidak terlalu perduli dengan martabak yang akan dibawa Marel untuknya, ia hanya sedang ingin bertemu dengannya. Martabak hanya sebagai alasan saja.

Entah kenapa Aca benar-benar dibuat bingung hari ini, dirinya seakan dibuat gila karena seharian terus memikirkan Marel.

Aca yang terus mengganti channel TV nya merasa semakin bosan menunggu Marel. Tapi setelah itu pintu apartemennya terbuka, ia pura-pura tidak peduli.

Marel segera duduk di sebelah Aca, dan meletakkan martabak pesanan Aca pada nakas di depannya.

“Sorry lama, antri banget” Marel berkata sambil mengusak pelan puncak kepala Aca. Itu yang Aca rindu.

Dibukanya bungkusan martabak, lalu di masukkan ke dalam mulut. Aca seolah begitu menikmati martabaknya.

“Ca ambilin gue minum dong, capek banget gue ngantri.”

“Ambil sendiri kenapa sih, lo gak liat gue lagi makan.”

“Yaelah Ca, bentar doang.” Aca seakan tidak peduli ocehan Marel, ia terus melahap martabaknya.

Marel yang geram melihatnya, lantas mengambil bantal di pangkuan Aca dan melemparnya. Marel memaksa Aca untuk segera berdiri.

Aca berdecak kesal, Marel layaknya bayi yang merengek minta di beri susu. Akhir nya Aca berdiri dan berjalan menuju lemari es nya.

“Gitu kek dari tadi.” Marel tersenyum senang.

Tapi saat Aca berjalan di depannya menuju lemari es, ada sesuatu yang Marel sadari. Ia susul sahabatnya itu yang sudah berdiri membuka pintu kulkas.

Aca sedikit kaget kala merasakan ada tangan yang melingkari pinggangnya dari belakang, kepala di bahunya serta wajah yang menempel pada ceruk lehernya. Aca bisa merasakan hembusan nafas menyapu lehernya.

“Ca, lo sengaja mancing gue ya?” Aca tersenyum tipis yang tak bisa Marel lihat. “Lo lagi pengen hmm?” nafas Marel di lehernya semakin membuatnya meremang.

Aca buang jauh-jauh gengsi dan egonya. Ia balikkan badannya menghadap Marel, lalu tersenyum miring.

Memang. Aca memang sengaja, di balik kaos oversize nya Aca sama sekali tak mengenakan apapun. Ia sengaja, karena sudah hampir gila dibuat sangat menginginkan Marel.

Sentuhan Marel dua minggu lalu ternyata memberinya candu, hingga ia dibuat merindu.

“Anjing, lo beneran sengaja” Marel benar-benar dibuat heran dengan sahabatnya ini yang terang-terangan menggodanya.

“I miss you so bad Marel” Bisikan lembut di telinga Marel membuat kakinya lemas. Namun tetap berdiri tegak di depan Aca.

Marel pandangi lamat-lamat garis wajah sahabatnya yang kelewat indah, diusapnya lembut wajah itu, disingkirkannya beberapa anak rambut yang mengganggu pandangannya, ia selipkan di balik telinga Aca.

Bibir merah nan kenyal diusap Marel dengan ibu jarinya, lalu ia dekatkan wajahnya untuk bisa menggapai bibir itu.

“Nih minumnya, minum dulu” Aca tempelkan satu kaleng minuman soda pada mulut Marel yang hampir menyapa bibir ranumnya. Marel dibuat berdecak kesal, Aca tersenyum senang menggodanya.

Aca tutup pintu lemari es yang sedari tadi masih terbuka, dan memberikan sensasi dingin pada tubuh belakangnya.

Kedua tangan Aca kalungkan pada leher Marel yang sedang menenggak minuman sodanya. Kaleng dibuang, lantas Marel segera menyatukan bibir ranum milik Aca dengan bibir miliknya yang sempat tertunda karena kejailan sahabatnya itu.

Marel angkat tubuh Aca untuk melingkarkan kakinya pada pinggangnya, digendongnya layaknya bayi koala untuk menuju sofa agar kegiatannya nyaman, tanpa melepaskan tautan bibirnya.

Aca berada di pangkuan Marel dan bersandar pada sandaran sofa. Bibir keduanya masih saling bertaut, tidak tergesa, saling bertukar saliva.

Didorongnya tengkuk Aca oleh Marel, untuk mempermudah memperdalam ciumannya.

Selagi mengeksplor rongga mulut sahabatnya, tangan Marel menelusup masuk ke dalam kaos kebesaran milik Aca, dan menemukan payudara sintal tanpa berbalut bra.

Diusap lembut payudara Aca secara bergantian, sesekali meremas, dan memilin puting itu hingga membuatnya semakin mengeras.

“Mpphhh……” lenguhan-lenguhan kecil berhasil keluar dari mulut Aca di sela-sela peraduan lumatan.

Aca memukul-mukul dada Marel serta mendorongnya pelan, nafasnya dirasa sudah habis. Kala pagutan dilepas Aca raup oksigen secara rakus.

Sementara Marel turun ke bawah menuju ceruk leher Aca, membenamkan wajahnya di sana, menghirup aroma sahabatnya yang menyeruak memenuhi hidungnya.

Bibirnya menjilat, menghisap hingga membuat beberapa kissmark di sana. Aca menengadah, mendesah merasakan nikmat.

Marel lepas satu-satunya kain yang membungkus tubuh sahabatnya itu.

Ditangkupnya kedua payudara Aca yang menyembul dengan kedua tangannya, di usapnya memutar, diremasnya perlahan, lalu dijilatnya bergantian.

Puting Aca yang sudah begitu mengeras dimainkan, dijilat, serta sesekali digigitnya kecil. Marel semakin agresif tatkala di tengah kegiatannya dirinya mendongak dan melihat Aca yang menengadah, desahan nikmat yang juga terus keluar dari mulutnya.

“Fuck” Ucap Marel saat dirinya sudah tidak bisa membendung nafsu birahinya, yang di bawah sudah sangat tegang dan minta di keluarkan.

“Masukin sekarang rel, gue juga udah nggak tahan”

Dilucutinya dengan sendiri pakaian Marel, dibuang sembarang, hingga tidak ada satupun helai benang yang menutupi tubuh nya.

Dibaringkannya tubuh Aca di atas sofa, di kecupnya singkat bagian-bagian tubuh sahabatnya itu dari atas hingga turun ke bagian vaginanya.

Disesap, dijilat serta di permainkan klitoris milik Aca dengan lidahnya, didorongnya lidah itu memasuki lubang hangat itu, hingga Aca mendesah keenakan.

“Ahhh…..Marel…..” Desahnya sambil meremas sofa dan rambut Marel.

Jemari Marel mulai membelai lubang vagina Aca, lalu dua jarinya melesak masuk, digerakkan dengan pelan, namun tempo gerakan terus berubah dipercepat.

“Ahhh….Nghhh…..” Marel makin dibuat buat semakin agresif dengan lolosnya desahan-desahan yang keluar dari mulut Aca semakin terdengar jelas.

Junior Marel yang sudah berdiri tegak diurut, kemudian ujungnya digesekkan pada bibir vagina sahabatnya itu, pelan-pelan Marel masukkan hingga penisnya masuk sempurna.

Sementara Aca meringis merasakan perih dan nyeri yang begitu kentara saat junior Marel memenuhi lubang vaginanya.

“Arghhh...sakit…”

“Sabar Ca,” Marel usap peluh yang membasahi kening dan pipi sahabatnya itu, lalu lumatan kembali Marel berikan pada bibir Aca. Lantas, yang di bawah sana mulai bergerak maju mundur.

Tempo yang dilakukan Marel perlahan makin dipercepat, membuat tubuh Aca menggelinjang merasakan kenikmatan, hingga desahan nikmat makin keras yang lolos dari bibirnya, beradu dengan milik Marel yang memenuhi ruangan.

“Ahhh….faster Ma...nghhh...rel—

aku mau keluar….”

Ucap Aca yang bercampur dengan desahan hebat dan menarik rambut Marel. Dirinya sudah ingin mencapai klimaksnya.

“Barengan ya Ca, arghhh…..” Marel yang juga merasakan juniornya semakin membesar dan dijepit kuat oleh vagina Aca, menambah tempo gerakannya.

Marel terus mempercepat dan beberapa kali menghentakan dengan keras dan mengenai spot sensitif milik sahabatnya.

Hentakan entah yang keberapa, akhirnya Marel dan Aca mencapai pelepasannya secara bersamaan.

“Ahhhhh….” Desahan panjang di akhir pun keluar sebagai penutup.

Cairan sperma yang hangat milik Marel memenuhi rahim milik Aca.

“Mau langsung tidur aja, atau mandi dulu Ca?”

“Tidur aja, aku capek.”

“Ya udah bentar” Marel beranjak dari sofa dan mengambil tissue di samping tv, ia bersihkan tubuh Aca dari cairan kenikmatan mereka, juga membersihkan miliknya.

Digendongnya Aca ala bridal style, dibawanya masuk ke dalam kamar dan direbahkannya di atas kasur.

Marel berbaring di sebelahnya dan meletakkan satu tangannya sebagai bantalan Aca, keduanya masih tanpa busana.

“Ca, lo gapapa gue gak pake pengaman?” Tanya Marel ragu.

“Nggak papa, gue udah minum obat, lo nggak usah khawatir Marel.” Jawabnya kelewat santai, kemudian memeluk Marel dan membenamkan wajahnya pada dada bidangnya.

Marel dibuat tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu, rupanya ia benar-benar menggodanya dengan penuh persiapan, senyuman manis pun terbit pada bibir Marel.


cw : mature content 🔞

Hawa dingin malam yang semakin menusuk pertanda bahwa malam sudah semakin petang. Jam dinding yang terpatri dan menggantung di atas televisi sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

Di ruang tengah ini, aku sengaja menunggu Raka—suamiku yang belum pulang dari kerjanya. Sepertinya hari ini dia sedang lembur hingga sudah larut malam begini belum kunjung pulang.

Usia pernikahan ku dengan Raka baru saja memasuki bulan ke dua. Sudah dua bulan kita tinggal bersama di apartemen milik Raka. Sudah dua bulan pula semenjak kita mengikrarkan janji suci kita di depan orang tua dan para kerabat. Serta dua bulan sudah sejak menikah kami belum sama sekali melakukan hubungan intim layaknya suami istri.

Bukan Raka yang tidak mencintaiku. Justru aku tahu dia begitu mencintaiku, hingga untuk melakukan itu Raka butuh kesiapan diriku, yang entah sampai saat ini aku belum bisa mengizinkan Raka melakukan itu padaku.

Karena suatu alasan yang Raka juga tahu, aku selalu menolak saat Raka beberapa kali meminta akan hal itu. Dan berakhir dengan kata 'maaf' dariku.

Aku tahu Raka sudah susah payah menahan dirinya selama ini. Tapi Raka tak pernah sekalipun menuntunku, dia selalu mengatakan 'tidak apa-apa' padahal jelas-jelas air mukanya mengatakan bahwa dirinya kecewa.

Lantas apakah aku sendiri tidak kecewa?, tentu saja. Aku bahkan merasa lebih kecewa, aku merasa tidak bisa menjadi istri yang baik bagi Raka.

Pernikahan kami masih begitu muda, Raka masih bisa menerima itu dan mencintai ku. Lalu bagaimana dengan bulan dan tahun-tahun selanjutnya?. Apakah aku akan terus menjadi seorang istri yang gagal seperti ini? akankah Raka bersedia untuk terus bersamaku jika aku terus bersikap seperti ini?.

Tepat pukul sebelas lewat lima belas menit, aku mendengar seseorang memasuki unit apartemen. Benar, itu Raka yang baru saja pulang bekerja dengan wajah lesu yang mendominasinya. Raka lantas tersenyum tipis saat melihatku dan mengecup singkat keningku.

“Kamu kenapa gak tidur dulu sayang? Aku udah chat kamu loh bakalan lembur” protes Raka padaku yang masih terjaga menunggu nya pulang.

“Aku gak bisa tidur, kalo kamu belum pulang.”

Raka meletakkan tas miliknya di atas nakas, di lepasnya jas serta dasi yang sudah longgar. Raka lantas membaringkan tubuh lelahnya di atas kedua pahaku sebagai bantalan, mukanya ia sembunyikan menghadap perutku, tangannya ia lingkarkan pada pinggangku.

“Kayak gini dulu ya, aku capek.” keluhnya padaku, rambut hitam legam miliknya ku sugar, sesekali punggungnya kuusap perlahan guna mengalirkan rasa nyaman.

Lima belas menit berlalu Raka terbangun dari tidur singkatnya.

“Mandi dulu ya? udah aku siapin air angetnya” Raka hanya mengangguk lantas berdiri dan mengecup singkat bibirku sebelum beranjak pergi untuk membasuh diri.

Raka keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambut basahnya. Tubuhnya hanya berbalut handuk dari perut hingga bawah lutut.

Aku yang sedang menyiapkan pakaian untuknya, merasakan tangan yang mulai melingkari perutku dari belakang. Raka meletakkan kepalanya pada ceruk leherku, bisa kurasakan hembusan nafasnya yang menyapa leher jenjangku.

Tangan dingin itu justru memberikan rengkuhan yang begitu hangat, kecupan-kecupan ringan dari bibir manisnya pada leherku membuat bulu kudukku seketika meremang.

Jemari Raka mulai menyusup ke dalam kaos yang menyelimuti tubuhku. Tangannya memberikan sentuhan yang menggelitik luar biasa, seakan jutaan kupu-kupu tengah bersarang di dalam perutku.

Tanpa sadar lenguhan pelan keluar dari mulutku akibat dari cumbuan itu. “Ahhh”

Raka membawa tubuhku untuk berbalik menghadapnya, menatap lamat-lamat setiap inci wajahku. Disisihkan nya rambut yang menghalangi wajahku dan diselipkannya ke belakang telingaku..

“can we do it?, it's okay if you're not ready”

Degup jantungku seolah berpacu kala mendengar kalimat itu keluar dari bibir Raka. Aku terdiam, Mulutku sama sekali tak mampu menjawab.

Raka melihat perubahan air mukaku berubah sendu. “it's okay sayang, next time if you're really fine” dikatakannya dengan mengelus lembut pipiku.

Aku sibuk berkecamuk dengan pikiranku sendiri, banyak hal seolah singgah di benakku. Tapi, rasa takut yang biasa mendominasi kini seolah mulai terkikis. Perasaan berani mulai muncul ke permukaan.

'Apakah hari ini adalah hari itu?' 'Apakah aku bisa?' 'Setidaknya aku harus mulai mencobanya'

Raka hendak memakai kaos yang sudah kusiapkan. Tapi, sebelum kaos itu membungkus tubuhnya aku terlebih dulu merengkuh tubuhnya dari belakang. Ia pun berbalik lantas menatapku.

“I want Rak, but please do it slowly”

“I won't treat you like those bastards 20 years ago, sayang”

Bibir kami lantas bertemu, berpagut dalam satu tautan mesra. Kusambut perlahan bibir manis Raka yang melumat dengan penuh hati-hati bibirku yang memberikan rasa candu.

Lumatan demi lumatan yang dilakukan Raka begitu lembut. Kedua tangannya sibuk melucuti pakaianku, lalu tubuh polosku direbahkan di atas ranjang, ditindihnya lalu ia berikan kecupan-kecupan manis pada bibirku. Kemudian menciumi leherku, menyesapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan.

Tubuhku melengkung tatkala tangan Raka mulai menggerayangi payudaraku. Diremasnya pelan dua gundukan itu secara bergantian membuat ku menggeliat frustasi.

Raka memberiku rangsangan yang begitu hebat. Diremas serta sesekali dimainkannya puting payudaraku yang sudah begitu mengeras. Sesekali ia gigit puting yang begitu memerah itu.

Aku dibuatnya menggila dengan setiap sentuhan yang Raka berikan, setiap sentuhannya begitu lembut. Hingga hanya lenguhan dan desahan namanya yang menguar dari mulutku di dalam ruang kamar kami.

“Ahhh…..Raka”

“Ssst….Ahhh….Ahhh”

Mulut Raka bergerak semakin rakus, ia jilati puncak payudaraku, dipermainkan dengan lidahnya yang begitu lihai. Dilahapnya dengan mulutnya secara bergantian. Hingga membuatku menggelinjang hebat.

Lalu perlahan bisa kurasakan tangan Raka mulai merambat turun ke bawah, meraba milik ku yang sudah sangat basah. Menyapa klitorisku dengan jemarinya secara perlahan. Hingga membuat wajahku memerah tersipu.

“Nngghh Rak”

Raka memasukkan satu jarinya ke dalam liang vagina ku, aku tersentak hingga tanganku meremas sprei akibat rasa nyeri yang hadir di bawah sana.

Peluh keluar membasahi tubuh kami, Raka usap pipiku lembut serta ditariknya ke belakang telingaku beberapa anak rambut di wajahku. Ia tatap lamat kedua netraku kemudian mendaratkan kecupan pada bibirku, lalu menjadi lumatan yang berbeda, dimana sedikit lebih menuntut dari permulaan.

Lidahnya menerobos masuk dan mengeksplor tiap bagian dalam mulutku, saling bertaut dan bertukar saliva.

Ia lumat bibirku guna mengaburkan rasa sakit di bawah sana. Mulai digerakkan jari tengah yang menancap di bawah sana perlahan. Aku mendesah ringan di tengah pagutan ketika pergerakan itu mulai menjalarkan rasa nikmat.

“Ahhh…..Nggghh”

Kini sudah dua jari yang bersarang di bawah sana, jari itu Raka gerakkan dengan begitu lihai, tempo gerakan semakin ditambah kala desahan-desahan yang keluar dari bibirku semakin kencang.

Di bawah sana milikku mulai berkedut dan mengetat, hingga akhirnya aku mendapat pelepasan pertamaku. Cairan itu membasahi kedua jari Raka dan mengalir di antara pahaku.

Raka yang masih berbalut handuk segera melepaskannya ketika merasakan miliknya yang sudah menegang di bawah sana. Aku menegang tatkala melihat penis milik Raka yang panjang dan besar serta berdiri tegak membuatku bergidik merinding dan menutup mataku setelahnya.

Gesekan ujung penis Raka bisa aku rasakan pada bibir liang vaginaku. Aku mencengkram kuat punggung Raka ketika penisnya mulai merangsek memasuki liang vaginaku.

Penis Raka teras begitu penuh di bawah sana, kakiku secara otomatis kubuka lebar untuk memberikan akses mudah untuk Raka bergerak.

Raka gerakkan penisnya perlahan, agar aku tak merasakan sakit luar biasa di bawah sana. Tubuhku melengkung, mulutku tak habis meracau dan mendesah ketika gerakan Raka yang semakin menambah tempo kocokannya.

“Ahhh...fas..ter...Rak”

Suara gesekan peraduan kulit saling bersahutan dengan suara desahan dari mulutku serta Raka. Hentakan yang Raka berikan beberapa kali menyentuh titik sensitif milikku. Hingga rasanya sangat mengetat dan mencengkram penis milik Raka.

Raka semakin menambah tempo gerakannya saat merasakan kita berdua hampir memperoleh klimaks, hentakan yang begitu keras membuat kita mengeluarkan cairan secara bersamaan, cairan Raka memenuhi vaginaku, hal itu mampu membuat tubuhku bergetar dan kedua kakiku lemas seketika.

“Thank you sayang, I love you”

Bisikan Raka di telingaku membuat tubuhku meremang, Raka lepas miliknya di bawah sana dan merebahkan dirinya di samping tubuhku. Kita mengatur nafas masing-masing.

“It's fine sayang, you are really fine”

Air mataku tiba-tiba saja menggenang mendengar kalimat itu, dan seketika jatuh membasahi pipiku tatkala Raka membawa tubuh polosku masuk kedalam pelukannya.

“I am Rak?”

Raka mengusap pelan punggungku, memberikan rasa nyaman serta seolah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.


cw : mature content 🔞

Hawa dingin malam yang semakin menusuk pertanda bahwa malam sudah semakin petang. Jam dinding yang terpatri dan menggantung di atas televisi sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

Di ruang tengah ini, aku sengaja menunggu Raka—suamiku yang belum pulang dari kerjanya. Sepertinya hari ini dia sedang lembur hingga sudah larut malam begini belum kunjung pulang.

Usia pernikahan ku dengan Raka baru saja memasuki bulan ke dua. Sudah dua bulan kita tinggal bersama di apartemen milik Raka. Sudah dua bulan pula semenjak kita mengikrarkan janji suci kita di depan orang tua dan para kerabat. Serta dua bulan sudah sejak menikah kami belum sama sekali melakukan hubungan intim layaknya suami istri.

Bukan Raka yang tidak mencintaiku. Justru aku tahu dia begitu mencintaiku, hingga untuk melakukan itu Raka butuh kesiapan diriku, yang entah sampai saat ini aku belum bisa mengizinkan Raka melakukan itu padaku.

Karena suatu alasan yang Raka juga tahu, aku selalu menolak saat Raka beberapa kali meminta akan hal itu. Dan berakhir dengan kata 'maaf' dariku.

Aku tahu Raka sudah susah payah menahan dirinya selama ini. Tapi Raka tak pernah sekalipun menuntunku, dia selalu mengatakan 'tidak apa-apa' padahal jelas-jelas air mukanya mengatakan bahwa dirinya kecewa.

Lantas apakah aku sendiri tidak kecewa?, tentu saja. Aku bahkan merasa lebih kecewa, aku merasa tidak bisa menjadi istri yang baik bagi Raka.

Pernikahan kami masih begitu muda, Raka masih bisa menerima itu dan mencintai ku. Lalu bagaimana dengan bulan dan tahun-tahun selanjutnya?. Apakah aku akan terus menjadi seorang istri yang gagal seperti ini? akankah Raka bersedia untuk terus bersamaku jika aku terus bersikap seperti ini?.

Tepat pukul sebelas lewat lima belas menit, aku mendengar seseorang memasuki unit apartemen. Benar, itu Raka yang baru saja pulang bekerja dengan wajah lesu yang mendominasinya. Raka lantas tersenyum tipis saat melihatku dan mengecup singkat keningku.

“Kamu kenapa gak tidur dulu sayang? Aku udah chat kamu loh bakalan lembur” protes Raka padaku yang masih terjaga menunggu nya pulang.

“Aku gak bisa tidur, kalo kamu belum pulang.”

Raka meletakkan tas miliknya di atas nakas, di lepasnya jas serta dasi yang sudah longgar. Raka lantas membaringkan tubuh lelahnya di atas kedua pahaku sebagai bantalan, mukanya ia sembunyikan menghadap perutku, tangannya ia lingkarkan pada pinggangku.

“Kayak gini dulu ya, aku capek.” keluhnya padaku, rambut hitam legam miliknya ku sugar, sesekali punggungnya kuusap perlahan guna mengalirkan rasa nyaman.

Lima belas menit berlalu Raka terbangun dari tidur singkatnya.

“Mandi dulu ya? udah aku siapin air angetnya” Raka hanya mengangguk lantas berdiri dan mengecup singkat bibirku sebelum beranjak pergi untuk membasuh diri.

Raka keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambut basahnya. Tubuhnya hanya berbalut handuk dari perut hingga bawah lutut.

Aku yang sedang menyiapkan pakaian untuknya, merasakan tangan yang mulai melingkari perutku dari belakang. Raka meletakkan kepalanya pada ceruk leherku, bisa kurasakan hembusan nafasnya yang menyapa leher jenjangku.

Tangan dingin itu justru memberikan rengkuhan yang begitu hangat, kecupan-kecupan ringan dari bibir manisnya pada leherku membuat bulu kudukku seketika meremang.

Jemari Raka mulai menyusup ke dalam kaos yang menyelimuti tubuhku. Tangannya memberikan sentuhan yang menggelitik luar biasa, seakan jutaan kupu-kupu tengah bersarang di dalam perutku.

Tanpa sadar lenguhan pelan keluar dari mulutku akibat dari cumbuan itu. “Ahhh”

Raka membawa tubuhku untuk berbalik menghadapnya, menatap lamat-lamat setiap inci wajahku. Disisihkan nya rambut yang menghalangi wajahku dan diselipkannya ke belakang telingaku..

“can we do it?, it's okay if you're not ready”

Degup jantungku seolah berpacu kala mendengar kalimat itu keluar dari bibir Raka. Aku terdiam, Mulutku sama sekali tak mampu menjawab.

Raka melihat perubahan air mukaku berubah sendu. “it's okay sayang, next time if you're really fine” dikatakannya dengan mengelus lembut pipiku.

Aku sibuk berkecamuk dengan pikiranku sendiri, banyak hal seolah singgah di benakku. Tapi, rasa takut yang biasa mendominasi kini seolah mulai terkikis. Perasaan berani mulai muncul ke permukaan.

'Apakah hari ini adalah hari itu?' 'Apakah aku bisa?' 'Setidaknya aku harus mulai mencobanya'

Raka hendak memakai kaos yang sudah kusiapkan. Tapi, sebelum kaos itu membungkus tubuhnya aku terlebih dulu merengkuh tubuhnya dari belakang. Ia pun berbalik lantas menatapku.

“I want Rak, but please do it slowly”

“I won't treat you like those bastards 20 years ago, sayang”

Bibir kami lantas bertemu, berpagut dalam satu tautan mesra. Kusambut perlahan bibir manis Raka yang melumat dengan penuh hati-hati bibirku yang memberikan rasa candu.

Lumatan demi lumatan yang dilakukan Raka begitu lembut. Kedua tangannya sibuk melucuti pakaianku, lalu tubuh polosku direbahkan di atas ranjang, ditindihnya lalu ia berikan kecupan-kecupan manis pada bibirku. Kemudian menciumi leherku, menyesapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan.

Tubuhku melengkung tatkala tangan Raka mulai menggerayangi payudaraku. Diremasnya pelan dua gundukan itu secara bergantian membuat ku menggeliat frustasi.

Raka memberiku rangsangan yang begitu hebat. Diremas serta sesekali dimainkannya puting payudaraku yang sudah begitu mengeras. Sesekali ia gigit puting yang begitu memerah itu.

Aku dibuatnya menggila dengan setiap sentuhan yang Raka berikan, setiap sentuhannya begitu lembut. Hingga hanya lenguhan dan desahan namanya yang menguar dari mulutku di dalam ruang kamar kami.

“Ahhh…..Raka”

“Ssst….Ahhh….Ahhh”

Mulut Raka bergerak semakin rakus, ia jilati puncak payudaraku, dipermainkan dengan lidahnya yang begitu lihai. Dilahapnya dengan mulutnya secara bergantian. Hingga membuatku menggelinjang hebat.

Lalu perlahan bisa kurasakan tangan Raka mulai merambat turun ke bawah, meraba milik ku yang sudah sangat basah. Menyapa klitorisku dengan jemarinya secara perlahan. Hingga membuat wajahku memerah tersipu.

“Nngghh Rak”

Raka memasukkan satu jarinya ke dalam liang vagina ku, aku tersentak hingga tanganku meremas sprei akibat rasa nyeri yang hadir di bawah sana.

Peluh keluar membasahi tubuh kami, Raka usap pipiku lembut serta ditariknya ke belakang telingaku beberapa anak rambut di wajahku. Ia tatap lamat kedua netraku kemudian mendaratkan kecupan pada bibirku, lalu menjadi lumatan yang berbeda, dimana sedikit lebih menuntut dari permulaan.

Lidahnya menerobos masuk dan mengeksplor tiap bagian dalam mulutku, saling bertaut dan bertukar saliva.

Ia lumat bibirku guna mengaburkan rasa sakit di bawah sana. Mulai digerakkan jari tengah yang menancap di bawah sana perlahan. Aku mendesah ringan di tengah pagutan ketika pergerakan itu mulai menjalarkan rasa nikmat.

“Ahhh…..Nggghh”

Kini sudah dua jari yang bersarang di bawah sana, jari itu Raka gerakkan dengan begitu lihai, tempo gerakan semakin ditambah kala desahan-desahan yang keluar dari bibirku semakin kencang.

Di bawah sana milikku mulai berkedut dan mengetat, hingga akhirnya aku mendapat pelepasan pertamaku. Cairan itu membasahi kedua jari Raka dan mengalir di antara pahaku.

Raka yang masih berbalut handuk segera melepaskannya ketika merasakan miliknya yang sudah menegang di bawah sana. Aku menegang tatkala melihat penis milik Raka yang panjang dan besar serta berdiri tegak membuatku bergidik merinding dan menutup mataku setelahnya.

Gesekan ujung penis Raka bisa aku rasakan pada bibir liang vaginaku. Aku mencengkram kuat punggung Raka ketika penisnya mulai merangsek memasuki liang vaginaku.

Penis Raka teras begitu penuh di bawah sana, kakiku secara otomatis kubuka lebar untuk memberikan akses mudah untuk Raka bergerak.

Raka gerakkan penisnya perlahan, agar aku tak merasakan sakit luar biasa di bawah sana. Tubuhku melengkung, mulutku tak habis meracau dan mendesah ketika gerakan Raka yang semakin menambah tempo kocokannya.

“Ahhh...fas..ter...Rak”

Suara gesekan peraduan kulit saling bersahutan dengan suara desahan dari mulutku serta Raka. Hentakan yang Raka berikan beberapa kali menyentuh titik sensitif milikku. Hingga rasanya sangat mengetat dan mencengkram penis milik Raka.

Raka semakin menambah tempo gerakannya saat merasakan kita berdua hampir memperoleh klimaks, hentakan yang begitu keras membuat kita mengeluarkan cairan secara bersamaan, cairan Raka memenuhi vaginaku, hal itu mampu membuat tubuhku bergetar dan kedua kakiku lemas seketika.

“Thank you sayang, I love you”

Bisikan Raka di telingaku membuat tubuhku meremang, Raka lepas miliknya di bawah sana dan merebahkan dirinya di samping tubuhku. Kita mengatur nafas masing-masing.

“It's fine sayang, you are really fine”

Air mataku tiba-tiba saja menggenang mendengar kalimat itu, dan seketika jatuh membasahi pipiku tatkala Raka membawa tubuh polosku masuk kedalam pelukannya.

“I am Rak?”

Raka mengusap pelan punggungku, memberikan rasa nyaman serta seolah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.


mature content 🔞 please be a wise, i've warned you.

Acara yang dilakukan dalam rangka penyambutan beberapa karyawan baru oleh divisi pemasaran di salah satu restoran terjadi begitu membosan bagi Galen sebagai pengganti ketua divisi pemasaran yang baru.

Setelah berbincang secara singkat Galen memilih untuk membiarkan anak buah barunya untuk menikmati makanannya, dan dirinya melangkah keluar restoran untuk sekedar mencari udara segar.

Pemindah tugasan Galen di kantor barunya, cukup membuatnya pusing pasalnya dirinya juga harus pindah dari apartemen nya yang lama, sehingga banyak menguras tenaganya.

Saat sudah berada di luar restoran netranya menangkap sosok perempuan dengan satu batang nikotin diapit mulutnya yang belum terbakar, sedangkan tangannya sibuk mencari sesuatu di dalam saku celananya.

Galen mendekat lalu menyalakan sebuah pemantik tepat di depan batang nikotin milik perempuan itu.

“Kamu cari ini kan?” Tanya Galen kemudian mematikan pemantik api miliknya yang sudah membakar batang nikotin milik perempuan tersebut.

“Pak Galen, kenapa bapak di luar? maaf pak saya malah di sini” Ucap perempuan itu.

“Tidak apa-apa lagipula di dalam membosankan”

“Bapak mau ngerokok juga? tapi maaf pak rokok saya tinggal ini saja.”

“Tidak usah, saya lagi tidak ingin merokok” perempuan itu hanya mengangguk sambil menyesap kemudian mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya.

Keduanya terdiam tak ada yang mengeluarkan suara, hanya asap nikotin dari si perempuan yang begitu menikmati rokok terakhirnya itu.

“Nama kamu siapa?” akhirnya Galen mencoba membuka suara dan menanyakan beberapa hal sekadar untuk basa-basi menghilangkan kecanggungan.

“Kanaya, panggil Naya saja pak” Jawabnya sambil menjatuhkan lalu menginjak sisa batang nikotin yang sudah sangat pendek dengan kaki jenjangnya. “Bapak gak masuk?” Tanya Naya kemudian.

“Memangnya kenapa? nanti saja.”

“Ohh, saya mau ke indomaret depan pak. Mau beli rokok masih sepet mulut saya.”

“Kamu mau yang lain gak?”

“Maksud bapak?” Tanya Naya heran.

“Mau yang lain gak, biar mulut kamu gak sepet. Saya punya, tapi bukan rokok.” Naya mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapan Galen. “Kamu tinggal jawab mau apa enggak?”

“Boleh deh pak” Jawab Naya seadanya.

“Kalau begitu kamu ikut saya.” Galen menarik lengan Naya untuk di bawanya ke arah basement tempatnya memarkirkan mobil. Menyuruh Naya untuk duduk di bangku depan dan dirinya kemudian duduk di sebelahnya.

Naya yang bingung dengan tindakan Galen padanya, menatap Galen di sebelahnya penuh selidik. Ketika pintu mobil milik Galen sudah sepenuhnya tertutup, Galen mengalihkan pandangannya kepada Naya yang sedari tadi menatapnya.

Pandangan keduanya bertemu, bola mata keduanya saling beradu lalu kemudian saling mengunci. Diraihnya tengkuk milik Naya oleh Galen. Dengan gerakan yang begitu gesit Galen melumat bibir ranum milik Naya.

Naya terlonjak kaget kemudian mendorong bahu Galen untuk menjauh.

“Kenapa Nay?”

“Tapi pak—Mmphh” belum selesai Naya bicara, Galen kembali menarik tengkuk Naya, dan menyatukan bibirnya kembali. Dilumatnya pelan bibir ranum itu oleh Galen. Hingga membuat Naya mengeluarkan desahan-desahan kecil dari bibirnya.

Ketika Naya sudah mulai mengimbangi ciuman milik Galen, tiba-tiba saja Galen melepas pagutan itu dan membuat Naya berdecak sebal.

“Kamu tunggu dulu sini ya Nay, saya pamit dulu ke yang lain. Jangan kemana-mana saya akan balik cepet.” Galen mengecup singkat bibir Naya kemudian pergi untuk masuk kembali ke dalam restoran.

Naya kesal karena dirinya sudah sangat menikmati lumatan yang diberikan Galen, tapi tiba-tiba saja di tinggal begitu saja. Naya sebenarnya tidak menyangka bahwa atasan barunya itu begitu menarik perhatiannya. Bahkan hanya untuk ciuman berikutnya Naya rela untuk menunggunya.

Lima belas menit berlalu, Galen kembali masuk ke dalam mobilnya dan Naya masih menunggunya. Naya yang merasa kesal sebelumnya, kini bertindak agresif dengan menarik Galen dan kembali menyatukan pagutan yang tadinya belum terselesaikan. Naya meraih bibir Galen dengan rakus, namun Galen melepas pagutan itu.

“Kenapa lagi pak? tadi bapak yang nawarin saya.”

Galen tersenyum tipis, melihat Naya yang terlihat lebih agresif darinya. Padahal mereka baru saja bertemu, Naya sudah sangat menggodanya.

“Jangan di sini Naya, kita pergi dulu dari sini ya?” Naya hanya mengangguk, lantas Galen membawa kemudinya keluar dari parkiran restoran.

Galen melirik Naya sekilas, bisa dilihat bahwa wajah Naya kini berubah sendu. Melihat itu Galen mengarahkan tangan sebelah kirinya mengelus pelan pipi Naya, kemudian memasukkan jari tengahnya ke dalam mulut Naya.

“Isep Nay” Dengan lembut Naya menyesap jari tengah milik Galen, hingga jari itu basah.

Tak sampai situ tangan Galen mengelus paha putih mulus milik Naya yang terekspos di depan mata Galen. Naya yang merasakan itu mengeluarkan lenguhan kecil.

Tangan Galen terus bergerilya masuk ke dalam dress pendek milik Naya, hingga drees tersebut tersingkap dan menampilkan celana dalam hitam yang menutupi kehormatan milik Kanaya.

Tangan Galen menemukan dua gundukan milik Kanaya yang ternyata tidak dilapisi sesuatu apapun. Diremasnya pelan salah satu gundukan itu hingga Naya mendesah yang membuat Galen semakin bersemangat.

“Akhh”

Pandangan Galen yang terfokus pada jalanan, tidak bisa melihat wajah berantakan Naya akibat sentuhannya. Naya menggelinjang dan menggigit bibir bawahnya saat Galen meremas payudaranya.

Mendengar desahan yang terus keluar dari mulut Kanaya, membuat Galen sudah bisa menahan nafsunya yang sudah begitu tinggi. Dibantingnya setir mobil itu di jalanan yang begitu sepi, injakan rem yang begitu mendadak membuat kepala Kanaya hampir terbentur kaca pintu mobil.

“Naya saya sudah tidak kuat, di sini saja tidak apa-apa kan?” Anggukan dari Naya lantas membuat Galen menyuruh Naya untuk pindah ke kursi belakang. Dan Galen melucuti dress yang digunakan Naya. Kini Naya hanya menyisakan celana dalamnya saja.

Tangan Naya juga bergerak untuk membantu melepas kemeja serta celana milik Galen. Suasana di dalam mobil Galen terasa semakin panas.

Kedua tangan Naya di tarik ke atas kepala dengan satu tangan Galen. Di bawah kungkungan Galen Kanaya sudah bisa bergerak sama sekali. Bibir Galen mngecup manis mulai dari kening Kanaya, lalu turun ke pucuk hidung mancung, kemudian turun lagi ke bibir ranum yang begitu merah merekah. Dilumatnya bibir itu lembut.

Lenguhan dari bibir Kanaya terus menguar memenuhi mobil milik Galen. Lumatan yang lembut sudah mulai tergantikan dengan pagutan penuh tuntutan, Galen absen semua hal yang ada di mulut Kanaya. Lidah mereka saling berkaitan dan bertukar saliva. Tangan Galen juga sibuk memilin puting Kanaya yang sudah mengeras.

Kanaya dibuat makin menggila tak kala bibir Galen turun di perpotongan leher miliknya.

“Ahhh...Ahhhh...pak..” Suara desahan Kanaya benar-benar mengisi penuh ruangan mobil Galen. Dan Galen begitu menyukai suara itu, hingga membuatnya tidak ingin berhenti untuk menyentuh setiap inci tubuh Kanaya.

“Desahin nama saya Naya, tidak perlu dengan pak. Galen saja” Perintah Galen pada Kanaya.

Galen tersenyum puas kala melihat banyak tanda kepemilikan yang dibuatnya di leher Kanaya. Kini bibirnya telah berpindah turun ke area payudara sintal milik Kayana.

Kedua payudara itu di raup rakus oleh mulut dan tangan Galen, membuat Kanaya menggelinjang dan membusungkan dadanya.

“Ahhh… Teruskan Galen, Enak banget” Kanaya mendesah serta berceloteh merasakan kenikmatan yang dirasakan akibat sentuhan Galen.

Galen goda payudara Kanaya dengan lidahnya yang menjilati sekitar putingnya yang sudah mengeras, Kanaya dibuat pusing dengan nya.

“Isep Galen” Kanaya yang sudah tidak tahan membusungkan dadanya dan menekan kepala Galen untuk menghisap payudaranya yang begitu tegang.

Mulutnya Sibuk menghisap payudara Kanaya, tangan Galen turun ke bawah untuk meraba daerah kewanitaan Kanaya yang masih terbungkus rapi. Dirabanya dari luar, dan celana dalam Kanaya sudah sangat basah.

“Ahhh… Sssst….Ahhhh” Desahan yang begitu menggoda masuk ke telinga Galen saat dirinya menggesekkan jarinya dari luar celana dalam.

“Kamu sudah sangat basah dibawah sana Kanaya” Yang diajak bicara hanya menggit bibir bawahnya. Galen segera melepas celana dalam milik Kanaya. Saat tangan Galen hendak menyentuk liang Vagina itu Kanaya menahan tangan Galen.

“Saya belum pernah sampai sejauh itu pak” Ucapnya pelan pada Galen, tapi tidak berani menatap wajahnya. Kanaya terlalu malu.

“Kalau begitu harus kamu coba, saya akan pelan-pelan Kanaya.” Galen mencoba meyakinkan Kanaya. Dan hanya anggukan respon yang diberikan oleh Kanaya. Itu saja sudah cukup bagi Galen.

Pelan-pelan Galen usap lubang kewanitaan Kanaya dan di tekan-tekannya klistorisnya. Kanaya menggeliat di buatnya. Jari tengah Galen arahkan ke mulut Kanaya agar dibasahi dengan salivanya. Setelah dihisap dan basah Galen bawa jari tengah lubang vagina milik Kanaya. Perlahan Galen masukkan jari itu ke dalam lubang milik Kanaya.

“Akhhh sa-kit Galen” Kanaya memikik merasakan perih dan nyeri di bawah sana. Galen yang melihatnya langsung melumat bibir Kanaya untuk mengaburkan fokus Kanaya.

“Saya tambah lagi ya?” Tanya Galen di sela-sela lumatannya.

“Pelan-pelan ya”

“Iya” Galen menambahkan satu jari lagi masuk ke dalam lubang vagina Kanaya tanpa melepas pagutan mereka, agar Kanaya tak terlalu merasakan perih di bawah sana. “Aku gerakin ya?” Galen kembali meminta persetujuan dari Kanaya. Kanaya mengangguk.

Galen menggerakkan jarinya begitu pelan, meski begitu Kanaya bisa merasakan begitu nyeri. Hingga menggores punggung Galen dengan kuku jarinya. Galen terus mengocok lubang itu dengan dua jarinya.

“Akhhh, Galen…”

“Masih sakit gak?” Tanya Galen saat melepas pagutan mereka. Kanaya menggeleng pertanda bahwa Galen bisa menambah tempo kocokannya.

“Ahhhh….Galen….Ssstt...Ahhhh”

“Terus Naya, terus desahin nama saya”

Penis Galen sudah menegang di dalam celana dalamnya. Dilepasnya celana itu, dan menampakkan penisnya yang besar dan panjang. Kanaya dibuat melongo melihat kejantanan milik Galen yang sudah begitu tegak.

“Tenang saja Naya, saya akan pelan-pelan” Merasa Kanaya ketakutan dengan penisnya, Galen menenangkannya. Dari laci dasbor depan mobilnya Galen ambil kondom yang tersimpan di sana. Dipakaikan pada kejantanannya, sebelum melesak masuk ke dalam liang surgawi milik Kanaya.

Dilebarkan kaki Kanaya oleh Galen, agar mempermudah akses penisnya untuk masuk nantinya. Digesekkan perlahan ujung penis Galen pada lubang milik Kanaya. Kanaya mendongakkan kepalanya, dia benar-benar dibuat berantakan oleh Galen malam ini.

Pelan-pelan Galen mulai melesakkan penisnya masuk kedalam lubng vagina milik Kanaya. Belum seutuhnya masuk Kanaya sudah memekik kesakitan, tubuhnya serasa dibelah menjadi dua.

“AKHHH…..GALEN” Sambil menarik rambut Galen begitu kuat.

Galen usap pipi Kanaya, diusapnya juga keringat yang keluar bercucuran di wajah Kanaya.

“Kanaya, lihat saya” Kanaya menatap lamat Galen dengan nafasnya yang tidak beraturan. “Relax Kanaya” Dilumatnya kembali bibir Kanaya sambil perlahan memasukkan yang di bawah sana agar masuk sempurna ke dalam lubang milik Kanaya. Kanaya menyalurkan rasa sakitnya lewat tangan yang meremas dan mencakar punggung milik Galen.

Setelah masuk seutuhnya, Galen perlahan menggerakkan penisnya maju mundur hingga suara desahan nikmat yang keluar dari mulut Kanaya. Galen terus menambah tempo pergerakannya hingga suara decakan pertemuan kulit itu begitu mendominasi.

Galen angkat tubuh Kanaya untuk berada di atasnya yang duduk. Galen gerakkan pinggul Kanaya naik turun. Kanaya bisa merasakan suatu kenikmatan yang begitu hebat ketika penis Galen sesekali menyentuh titik sensitifnya.

“Ahhh….Ahhhh...Ahhhh” Suara desahan di keluarkan Kanaya seolah tanpa jeda dan menambah semangat bagi Galen untuk terus menggenjot Kanaya.

Lubang Kanaya dirasakan Galen sudah sangat mengetat dan mengeras, pertanda bahwa Kanaya akan segera mencapai pencapaiannya. Galen terus menambah tempo gerakannya. Benar saja, dengan tiga kali hentakan Kanaya mencapai pelepasannya. Bersamaan dengan sperma Galen yang menyembur di dalam kondom kondomnya.

Cairan yang mengalir di paha milik Kanaya di jilat habis oleh Galen, hingga membuat Kanaya bergidik dibuatnya.

“Terima kasih Kanaya” Galen mengecup singkat bibir Kanaya hingga membuat wajah Kanaya memerah dibuatnya.

“Mau dilanjut di sini apa di apartemen saya Kanaya?” Nampaknya satu ronde belum cukup bagi Galen.

Biarlah mereka melanjutkan entah tetap berada di mobil milik Galen atau apartemen milik Galen. Karena memang Galen akan siap jika harus melakukannya hingga pagi, tergantung Kanaya nantinya.


©makaricks

Acara yang dilakukan dalam rangka penyambutan beberapa karyawan baru oleh divisi pemasaran di salah satu restoran terjadi begitu membosan bagi Galen sebagai pengganti ketua divisi pemasaran yang baru.

Setelah berbincang secara singkat Galen memilih untuk membiarkan anak buah barunya untuk menikmati makanannya, dan dirinya melangkah keluar restoran untuk sekedar mencari udara segar.

Pemindah tugasan Galen di kantor barunya, cukup membuatnya pusing pasalnya dirinya juga harus pindah dari apartemen nya yang lama, sehingga banyak menguras tenaganya.

Saat sudah berada di luar restoran netranya menangkap sosok perempuan dengan satu batang nikotin diapit mulutnya yang belum terbakar, sedangkan tangannya sibuk mencari sesuatu di dalam saku celananya.

Galen mendekat lalu menyalakan sebuah pemantik tepat di depan batang nikotin milik perempuan itu.

“Kamu cari ini kan?” Tanya Galen kemudian mematikan pemantik api miliknya yang sudah membakar batang nikotin milik perempuan tersebut.

“Pak Galen, kenapa bapak di luar? maaf pak saya malah di sini” Ucap perempuan itu.

“Tidak apa-apa lagipula di dalam membosankan”

“Bapak mau ngerokok juga? tapi maaf pak rokok saya tinggal ini saja.”

“Tidak usah, saya lagi tidak ingin merokok” perempuan itu hanya mengangguk sambil menyesap kemudian mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya.

Keduanya terdiam tak ada yang mengeluarkan suara, hanya asap nikotin dari si perempuan yang begitu menikmati rokok terakhirnya itu.

“Nama kamu siapa?” akhirnya Galen mencoba membuka suara dan menanyakan beberapa hal sekadar untuk basa-basi menghilangkan kecanggungan.

“Kanaya, panggil Naya saja pak” Jawabnya sambil menjatuhkan lalu menginjak sisa batang nikotin yang sudah sangat pendek dengan kaki jenjangnya. “Bapak gak masuk?” Tanya Naya kemudian.

“Memangnya kenapa? nanti saja.”

“Ohh, saya mau ke indomaret depan pak. Mau beli rokok masih sepet mulut saya.”

“Kamu mau yang lain gak?”

“Maksud bapak?” Tanya Naya heran.

“Mau yang lain gak, biar mulut kamu gak sepet. Saya punya, tapi bukan rokok.” Naya mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapan Galen. “Kamu tinggal jawab mau apa enggak?”

“Boleh deh pak” Jawab Naya seadanya.

“Kalau begitu kamu ikut saya.” Galen menarik lengan Naya untuk di bawanya ke arah basement tempatnya memarkirkan mobil. Menyuruh Naya untuk duduk di bangku depan dan dirinya kemudian duduk di sebelahnya.

Naya yang bingung dengan tindakan Galen padanya, menatap Galen di sebelahnya penuh selidik. Ketika pintu mobil milik Galen sudah sepenuhnya tertutup, Galen mengalihkan pandangannya kepada Naya yang sedari tadi menatapnya.

Pandangan keduanya bertemu, bola mata keduanya saling beradu lalu kemudian saling mengunci. Diraihnya tengkuk milik Naya oleh Galen. Dengan gerakan yang begitu gesit Galen melumat bibir ranum milik Naya.

Naya terlonjak kaget kemudian mendorong bahu Galen untuk menjauh.

“Kenapa Nay?”

“Tapi pak—Mmphh” belum selesai Naya bicara, Galen kembali menarik tengkuk Naya, dan menyatukan bibirnya kembali. Dilumatnya pelan bibir ranum itu oleh Galen. Hingga membuat Naya mengeluarkan desahan-desahan kecil dari bibirnya.

Ketika Naya sudah mulai mengimbangi ciuman milik Galen, tiba-tiba saja Galen melepas pagutan itu dan membuat Naya berdecak sebal.

“Kamu tunggu dulu sini ya Nay, saya pamit dulu ke yang lain. Jangan kemana-mana saya akan balik cepet.” Galen mengecup singkat bibir Naya kemudian pergi untuk masuk kembali ke dalam restoran.

Naya kesal karena dirinya sudah sangat menikmati lumatan yang diberikan Galen, tapi tiba-tiba saja di tinggal begitu saja. Naya sebenarnya tidak menyangka bahwa atasan barunya itu begitu menarik perhatiannya. Bahkan hanya untuk ciuman berikutnya Naya rela untuk menunggunya.

Lima belas menit berlalu, Galen kembali masuk ke dalam mobilnya dan Naya masih menunggunya. Naya yang merasa kesal sebelumnya, kini bertindak agresif dengan menarik Galen dan kembali menyatukan pagutan yang tadinya belum terselesaikan. Naya meraih bibir Galen dengan rakus, namun Galen melepas pagutan itu.

“Kenapa lagi pak? tadi bapak yang nawarin saya.”

Galen tersenyum tipis, melihat Naya yang terlihat lebih agresif darinya. Padahal mereka baru saja bertemu, Naya sudah sangat menggodanya.

“Jangan di sini Naya, kita pergi dulu dari sini ya?” Naya hanya mengangguk, lantas Galen membawa kemudinya keluar dari parkiran restoran.

Galen melirik Naya sekilas, bisa dilihat bahwa wajah Naya kini berubah sendu. Melihat itu Galen mengarahkan tangan sebelah kirinya mengelus pelan pipi Naya, kemudian memasukkan jari tengahnya ke dalam mulut Naya.

“Isep Nay” Dengan lembut Naya menyesap jari tengah milik Galen, hingga jari itu basah.

Tak sampai situ tangan Galen mengelus paha putih mulus milik Naya yang terekspos di depan mata Galen. Naya yang merasakan itu mengeluarkan lenguhan kecil.

Tangan Galen terus bergerilya masuk ke dalam dress pendek milik Naya, hingga drees tersebut tersingkap dan menampilkan celana dalam hitam yang menutupi kehormatan milik Kanaya.

Tangan Galen menemukan dua gundukan milik Kanaya yang ternyata tidak dilapisi sesuatu apapun. Diremasnya pelan salah satu gundukan itu hingga Naya mendesah yang membuat Galen semakin bersemangat.

“Akhh”

Pandangan Galen yang terfokus pada jalanan, tidak bisa melihat wajah berantakan Naya akibat sentuhannya. Naya menggelinjang dan menggigit bibir bawahnya saat Galen meremas payudaranya.

Mendengar desahan yang terus keluar dari mulut Kanaya, membuat Galen sudah bisa menahan nafsunya yang sudah begitu tinggi. Dibantingnya setir mobil itu di jalanan yang begitu sepi, injakan rem yang begitu mendadak membuat kepala Kanaya hampir terbentur kaca pintu mobil.

“Naya saya sudah tidak kuat, di sini saja tidak apa-apa kan?” Anggukan dari Naya lantas membuat Galen menyuruh Naya untuk pindah ke kursi belakang. Dan Galen melucuti dress yang digunakan Naya. Kini Naya hanya menyisakan celana dalamnya saja.

Tangan Naya juga bergerak untuk membantu melepas kemeja serta celana milik Galen. Suasana di dalam mobil Galen terasa semakin panas.

Kedua tangan Naya di tarik ke atas kepala dengan satu tangan Galen. Di bawah kungkungan Galen Kanaya sudah bisa bergerak sama sekali. Bibir Galen mngecup manis mulai dari kening Kanaya, lalu turun ke pucuk hidung mancung, kemudian turun lagi ke bibir ranum yang begitu merah merekah. Dilumatnya bibir itu lembut.

Lenguhan dari bibir Kanaya terus menguar memenuhi mobil milik Galen. Lumatan yang lembut sudah mulai tergantikan dengan pagutan penuh tuntutan, Galen absen semua hal yang ada di mulut Kanaya. Lidah mereka saling berkaitan dan bertukar saliva. Tangan Galen juga sibuk memilin puting Kanaya yang sudah mengeras.

Kanaya dibuat makin menggila tak kala bibir Galen turun di perpotongan leher miliknya.

“Ahhh...Ahhhh...pak..” Suara desahan Kanaya benar-benar mengisi penuh ruangan mobil Galen. Dan Galen begitu menyukai suara itu, hingga membuatnya tidak ingin berhenti untuk menyentuh setiap inci tubuh Kanaya.

“Desahin nama saya Naya, tidak perlu dengan pak. Galen saja” Perintah Galen pada Kanaya.

Galen tersenyum puas kala melihat banyak tanda kepemilikan yang dibuatnya di leher Kanaya. Kini bibirnya telah berpindah turun ke area payudara sintal milik Kayana.

Kedua payudara itu di raup rakus oleh mulut dan tangan Galen, membuat Kanaya menggelinjang dan membusungkan dadanya.

“Ahhh… Teruskan Galen, Enak banget” Kanaya mendesah serta berceloteh merasakan kenikmatan yang dirasakan akibat sentuhan Galen.

Galen goda payudara Kanaya dengan lidahnya yang menjilati sekitar putingnya yang sudah mengeras, Kanaya dibuat pusing dengan nya.

“Isep Galen” Kanaya yang sudah tidak tahan membusungkan dadanya dan menekan kepala Galen untuk menghisap payudaranya yang begitu tegang.

Mulutnya Sibuk menghisap payudara Kanaya, tangan Galen turun ke bawah untuk meraba daerah kewanitaan Kanaya yang masih terbungkus rapi. Dirabanya dari luar, dan celana dalam Kanaya sudah sangat basah.

“Ahhh… Sssst….Ahhhh” Desahan yang begitu menggoda masuk ke telinga Galen saat dirinya menggesekkan jarinya dari luar celana dalam.

“Kamu sudah sangat basah dibawah sana Kanaya” Yang diajak bicara hanya menggit bibir bawahnya. Galen segera melepas celana dalam milik Kanaya. Saat tangan Galen hendak menyentuk liang Vagina itu Kanaya menahan tangan Galen.

“Saya belum pernah sampai sejauh itu pak” Ucapnya pelan pada Galen, tapi tidak berani menatap wajahnya. Kanaya terlalu malu.

“Kalau begitu harus kamu coba, saya akan pelan-pelan Kanaya.” Galen mencoba meyakinkan Kanaya. Dan hanya anggukan respon yang diberikan oleh Kanaya. Itu saja sudah cukup bagi Galen.

Pelan-pelan Galen usap lubang kewanitaan Kanaya dan di tekan-tekannya klistorisnya. Kanaya menggeliat di buatnya. Jari tengah Galen arahkan ke mulut Kanaya agar dibasahi dengan salivanya. Setelah dihisap dan basah Galen bawa jari tengah lubang vagina milik Kanaya. Perlahan Galen masukkan jari itu ke dalam lubang milik Kanaya.

“Akhhh sa-kit Galen” Kanaya memikik merasakan perih dan nyeri di bawah sana. Galen yang melihatnya langsung melumat bibir Kanaya untuk mengaburkan fokus Kanaya.

“Saya tambah lagi ya?” Tanya Galen di sela-sela lumatannya.

“Pelan-pelan ya”

“Iya” Galen menambahkan satu jari lagi masuk ke dalam lubang vagina Kanaya tanpa melepas pagutan mereka, agar Kanaya tak terlalu merasakan perih di bawah sana. “Aku gerakin ya?” Galen kembali meminta persetujuan dari Kanaya. Kanaya mengangguk.

Galen menggerakkan jarinya begitu pelan, meski begitu Kanaya bisa merasakan begitu nyeri. Hingga menggores punggung Galen dengan kuku jarinya. Galen terus mengocok lubang itu dengan dua jarinya.

“Akhhh, Galen…”

“Masih sakit gak?” Tanya Galen saat melepas pagutan mereka. Kanaya menggeleng pertanda bahwa Galen bisa menambah tempo kocokannya.

“Ahhhh….Galen….Ssstt...Ahhhh”

“Terus Naya, terus desahin nama saya”

Penis Galen sudah menegang di dalam celana dalamnya. Dilepasnya celana itu, dan menampakkan penisnya yang besar dan panjang. Kanaya dibuat melongo melihat kejantanan milik Galen yang sudah begitu tegak.

“Tenang saja Naya, saya akan pelan-pelan” Merasa Kanaya ketakutan dengan penisnya, Galen menenangkannya. Dari laci dasbor depan mobilnya Galen ambil kondom yang tersimpan di sana. Dipakaikan pada kejantanannya, sebelum melesak masuk ke dalam liang surgawi milik Kanaya.

Dilebarkan kaki Kanaya oleh Galen, agar mempermudah akses penisnya untuk masuk nantinya. Digesekkan perlahan ujung penis Galen pada lubang milik Kanaya. Kanaya mendongakkan kepalanya, dia benar-benar dibuat berantakan oleh Galen malam ini.

Pelan-pelan Galen mulai melesakkan penisnya masuk kedalam lubng vagina milik Kanaya. Belum seutuhnya masuk Kanaya sudah memekik kesakitan, tubuhnya serasa dibelah menjadi dua.

“AKHHH…..GALEN” Sambil menarik rambut Galen begitu kuat.

Galen usap pipi Kanaya, diusapnya juga keringat yang keluar bercucuran di wajah Kanaya.

“Kanaya, lihat saya” Kanaya menatap lamat Galen dengan nafasnya yang tidak beraturan. “Relax Kanaya” Dilumatnya kembali bibir Kanaya sambil perlahan memasukkan yang di bawah sana agar masuk sempurna ke dalam lubang milik Kanaya. Kanaya menyalurkan rasa sakitnya lewat tangan yang meremas dan mencakar punggung milik Galen.

Setelah masuk seutuhnya, Galen perlahan menggerakkan penisnya maju mundur hingga suara desahan nikmat yang keluar dari mulut Kanaya. Galen terus menambah tempo pergerakannya hingga suara decakan pertemuan kulit itu begitu mendominasi.

Galen angkat tubuh Kanaya untuk berada di atasnya yang duduk. Galen gerakkan pinggul Kanaya naik turun. Kanaya bisa merasakan suatu kenikmatan yang begitu hebat ketika penis Galen sesekali menyentuh titik sensitifnya.

“Ahhh….Ahhhh...Ahhhh” Suara desahan di keluarkan Kanaya seolah tanpa jeda dan menambah semangat bagi Galen untuk terus menggenjot Kanaya.

Lubang Kanaya dirasakan Galen sudah sangat mengetat dan mengeras, pertanda bahwa Kanaya akan segera mencapai pencapaiannya. Galen terus menambah tempo gerakannya. Benar saja, dengan tiga kali hentakan Kanaya mencapai pelepasannya. Bersamaan dengan sperma Galen yang menyembur di dalam kondom kondomnya.

Cairan yang mengalir di paha milik Kanaya di jilat habis oleh Galen, hingga membuat Kanaya bergidik dibuatnya.

“Terima kasih Kanaya” Galen mengecup singkat bibir Kanaya hingga membuat wajah Kanaya memerah dibuatnya.

“Mau dilanjut di sini apa di apartemen saya Kanaya?” Nampaknya satu ronde belum cukup bagi Galen.

Biarlah mereka melanjutkan entah tetap berada di mobil milik Galen atau apartemen milik Galen. Karena memang Galen akan siap jika harus melakukannya hingga pagi, tergantung Kanaya nantinya.


©makaricks


Mature content please be a wise, i've warned you — 🔞

“Gue belum mandi Rel, lagian ini lo gak kepagian apa?”

“Mendingan kamu sekarang mandi, habis itu sarapan, terus kita pergi.” Marel mendorong perempuan itu untuk segera masuk ke dalam kamar mandinya.

Marel menata barang yang dibawanya tadi di dalam kulkas milik Aca dengan rapi. Kemudian menyiapkan sarapan yang akan mereka santap sebelum pergi untuk rencana dating my bestfriend for 24 h nya hari ini.

Belum sempat Aca keluar dari kamar mandi, cuaca di luar sudah menunjukkan ketidak setujuaan akan kegiatan Marel dan Aca hari ini.

Marel yang sedang duduk di meja makan menunggu Aca dan memandangi langit dari jendela nampak menghembuskan nafas berat karena setelahnya yang terjadi adalah hujan turun bersamaan dengan angin yang cukup kencang.

'Kenapa pagi-pagi udah hujan begini sih', rutuk Marel dalam hati.

“Hujan ya?” Aca yang baru menyelesaikan mandinya bertanya pada Marel yang sibuk memandangi hujan.

“Iya ca, kayaknya gagal deh rencana kita hari ini.” Marel menatap Aca dengan wajahnya yang sedikit sendu. “Sarapan aja dulu deh Ca”.

Aca kemudian duduk di depan Marel, keduanya kemudian sibuk menghabiskan sarapan yang sudah disiapkan oleh Marel tadi.

“Nggak harus pergi keluar juga kali Rel”

“Maksudnya?”

“Ya kita lakuin di Apart aja, ngapain kek”

Mendengar itu suasana sendu Marel tadi terkikis hilang, kemudian sibuk mencari hal apa yang bisa mereka lakukan untuk hari ini.

Sudah satu jam lamanya mereka berdua memikirkan hal apa yang akan dilakukan. Tapi, sama sekali tidak ada terbesit satu kegiatan pun di otak Aca maupun Marel.

Mencoba mencarinya dengan bantuan pencarian di laman internet tapi berujung dengan banyak alasan sehingga tidak bisa melakukannya.

“Maraton netflix aja lah kita Rel” Aca yang sudah merasa buntu dengan otaknya berakhir memilih untuk menonton saja. Dan Marel yang merasa tidak juga punya ide akhirnya menyetujui saja. Padahal jika hanya nonton serial netflix sudah sering kali mereka berdua lakukan. Daripada hanya diam, mungkin nanti dengan menonton akan muncul ide lainnya.

“Di kamar aja ya, biar enak kalo ketiduran”

“Seenaknya kamu aja deh Ca”

Akhirnya Aca dan Marel berakhir dengan menonton film '365 Days' atas rekomendasi laman pencarian internet dengan 'film yang cocok untuk di tonton bersama dengan pacar' di kamar milik Aca, dengan Aca yang menggunakan lengan kiri Marel sebagai bantal yang begitu nyaman seperti biasanya. Hanya saja kali ini serial yang mereka tonton sepertinya menimbulkan suasana yang cukup canggung bagi keduanya.

Baru saja film berjalan sekitar sepuluh menit, adegan dewasa sudah ditampilkan dalam layar yang membuat suasana semakin tegang.

“Mau ganti aja filmnya Ca?” Marel bertanya kepada Aca karena tidak sanggup dengan ketegangan yang ada. Baru saja sepuluh menit bagaimana dengan selanjutnya, apakah Marel sanggup mengatasinya?.

“Nggak usah deh, lanjutin aja” Aca menjawab dengan pandangan yang masih terfokus pada film yang berputar di depannya.

Kemudian kegiatan menonton itu dilanjutkan dengan tanpa adanya obrolan sama sekali. Tetapi setelah itu, adegan dewasa kembali muncul di layar yang mereka tonton.

“Ca”

“Hmm?” Aca mendongak dan melihat Marel yang sedang menatap intens kepadanya.

Kedua bola mata mereka yang bertemu mengunci pandangan satu sama lain. Tangan Marel mengusap lembut pipi Aca dan perlahan mengikis jarak di antara keduanya. Hembusan nafas yang saling beradu semakin dekat hingga Marel menyatukan bibirnya dengan bibir ranum milik Aca. Marel hanya mengecupnya singkat karena sadar apa yang dilakukannya bisa saja membuat Aca akan membencinya. Ini sudah melewati batas bukan.

“Sorry Ca, kebawa sua—”

Belum selesai Marel menyelesaikan ucapannya, Aca sudah terlebih dahulu meraih tengkuk Marel dan kembali menyatukan bibir keduanya. Marel sedikit kaget dengan apa yang dilakukan Aca tapi perlahan dia menutup matanya dan menyesap benda kenyal itu dengan lembut.

Gerimis yang mengguyur kota seakan mendukung aktivitas keduanya. Marel mengubah posisinya untuk berada di atas tubuh Aca perlahan dengan pagutan yang masih menyatu, ciuman yang begitu lembut di awal kini berubah semakin menuntut. Lenguhan dan desahan yang keluar dari bibir Aca menambah nafsu Marel semakin tinggi dan tidak bisa menahannya.

Tidak munafik bahwa Marel begitu menikmati tiap inci bibir Aca yang sudah dia dambakan sejak lama.

Marel tidak peduli dengan apapun sekarang, yang dia inginkan hanya menciumi bibir milik Aca yang begitu lembut. Suasana menjadi semakin panas bagi keduanya.

Sempat terlepas karena kehabisan nafas, Marel dan Aca kembali menyesap bibir satu sama lain setelah meraup udara dengan rakus. Marel menggigit bibir bawah milik Aca dan memberikan akses untuk Marel mengabsen tiap hal di dalam mulut Aca, kemudian saling bertukar saliva.

Perlahan tangan Marel menelusup ke dalam kaos putih oversize yang digunakan Aca, Marel meraba perut milik Aca dan semakin ke atas menemukan dua gundukan payudara yang masih terbungkus rapi oleh bra berwarna merah maroon. Marel meremas dengan lembut payudara yang masih terbungkus bra itu.

“Mmpphh” Aca mengeluarkan suara lenguhan yang cukup keras saat tangan Marel kembali meremas payudaranya, pagutan keduanya juga semakin intens dan menimbulkan suara decakan yang mampu mengaburkan suara dari film yang mereka putar.

Pagutan keduanya terlepas kembali saat pasokan nafas yang keduanya miliki kembali menipis dan meraup udara begitu rakus dengan kening keduanya yang menempel dan saling menatap.

Tangan Marel bergerak untuk melepas kaos milik Aca dan bra yang masih menempel di payudara sintalnya. Aca juga membantu Marel melepaskan kaos yang dikenakannya kemudian.

Marel perlahan mengecup kening milik Aca, kemudian turun untuk mengecup kedua pipi, lalu hidung, dan kemudian turun ke bibirnya mengecup nya sebentar dan turun ke leher mengecup tiap-tiap bagian leher milik Aca dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.

Sementara bibirnya sibuk menyesap leher, tangan Marel tak dibiarkan untuk diam. Tangannya meremas pelan payudara Aca yang sudah tidak dilapisi bra. Memainkan gundukan itu secara bergantian.

Kini bibir Marel telah turun di hadapan payudara sintal milik Aca, Marel segera meraup dan menyesap salah satunya. Aca semakin menggelinjang merasakan kenikmatan yang diberikan oleh setiap sentuhan dari Marel. Dadanya ia busungkan tatkala Marel menyesap payudaranya begitu rakus, kepala Marel di bawanya untuk menyesapnya semakin dalam.

Lidah dan tangan Marel terus saja menggoda puting milik Aca yang sudah begitu menegang. Aca kelimpungan di buatnya. Hanya suara desahan yang mampu ia keluarkan, dan suara itulah candu baru bagi telinga Marel. Marel sangat suka mendengarnya.

Saat tangan Marel mulai bergerak ke bawah, di area yang mana Aca sudah sangat basah. Marel mengusapnya pelan dari luar celana dalam milik Aca. Tapi tangan Aca menahan pergerakan itu, dan Marel menatap lamat Aca seakan meyakinkan.

“Boleh ya Ca?”

Entah bisikan dari mana Aca mengangguk begitu saja, mendengar suara berat yang keluar dari Marel saat menanyakan itu membuat jantungnya berpacu begitu cepat. Hingga ia membiarkan tangan Marel yang sudah melucuti celana dan celana dalam yang ia kenakan. Aca kini sudah telanjang bulat.

Marel kembali menyesap bibir ranum Aca.

“Pelan-pelan kok Ca” kemudian berbisik di telinganya dan menggigit telinga itu sensual. Membuat detak jantung semakin tidak karuan.

Tangan Marel kemudian perlahan meraba liang vagina milik Aca yang sudah sangat basah. Marel menekan dan memutar klistorisnya pelan hingga membuat Aca melenguh karena sentuhan itu, dan meremas rambut milik Marel.

Satu jari kemudian Marel masukan ke dalam lubang milik Aca yang masih sempit dan kemudian ia gerakan perlahan.

“Akhh—” Marel segera menyumpal bibir Aca dengan bibirnya agar sedikit menghilangkan rasa perih yang dirasakan Aca. Kemudian menambah satu jarinya lagi untuk masuk dan di gerakannya maju mundur perlahan.

“Akhh—sakit Rel” Rintihan keluar dari mulut Aca begitu juga keringat mulai mengucur membasahi tubuhnya.

“Sabar ya, pelan-pelan kok”

Marel menggerakkan kedua jarinya dengan pelan agar Aca tidak merasa kesakitan, sambil mengusap pelan pipi lembut Aca.

“Ahhh Rel, bisa lebih cep—et lagi nggak?”

Mendengar itu Marel menambah kecepatan jari-jarinya. Sepertinya Aca sudah mulai terbiasa dan merasakan kenikmatan, hingga membuat tubuhnya melengkung dan meremas punggung Marel.

Marel yang sudah tidak bisa menahan nafsunya mengeluarkan kedua jarinya dan melucuti sendiri sisa pakaian yang masih menempel di tubuhnya.

Aca menatap intens ke arah Marel yang sudah sepenuhnya telanjang juga, Aca tahu apa yang akan Marel lakukan selanjutnya. Tapi Aca merasa tidak yakin saat melihat penis milik Marel yang panjang dan besar di hadapannya sehingga tatapannya mengatakan 'tidak' kepada Marel.

Dengan gerakan pelan Marel kembali merangkak ke atas kasur Aca dan kembali mengungkung tubuh Aca, kemudian memberikan kecupan-kecupan singkat di seluruh tubuh bagian atasnya. Kemudian menatap kembali lamat Aca untuk meminta persetujuan.

“Ca, aku janji pelan-pelan” Marel membisikkan kalimat itu di telinga Aca, membuat Aca meremang di buatnya.

Aca menggigit bibirnya kemudian mengangguk pelan dan menutup matanya karena merasa malu. Pipinya begitu merah, Marel tersenyum melihatnya kemudian mengecup singkat bibir Aca.

Dan pelan-pelan kejantanan Marel yang sudah menegang dan basah sejak tadi, ia gesekkan perlahan ujungnya di bibir vagina Aca, kemudian Marel lebarkan kaki Aca agar akses masuk kedalam lubang vagina yang begitu merah merona itu sangat mudah.

“Sekarang ya Ca” Aca hanya mampu menelan ludahnya sendiri tanpa mengucapkan apapun.

Marel segera menempelkan kan ujung penisnya pada liang vagina milik Aca, dan mulai perlahan membawa masuk penisnya ke dalam milik Aca. Seketika Aca merasakan rasa sakit, perih serta nyeri yang begitu hebat. Aca mendongakkan kepalanya dan meremas punggung milik Marel dengan kuat.

“Akhhh— Rel”

“Sakit Ca? Mau berhenti aja?”

Penisnya belum Marel gerakkan sama sekali di dalam sana, melihat Aca yang merintih kesakitan ia menjadi tidak tega. Namun Aca menggeleng dan menyuruh Marel untuk melanjutkan aktivitasnya.

Marel mengusap peluh yang keluar dari kening Aca dan mengecup bibir ranum Aca untuk mengalihkan fokusnya. Dan mulai menggerakkan penisnya perlahan hingga menyentuh titik paling sensitif milik Aca. Hingga desahan demi desahan keluar dari bibir Aca semakin keras menggaung memenuhi kamar apartemen milik Aca.

“Ahhh….Ahh...Ssst…..Ahhhh”

Aca merangkul erat tubuh Marel di atasnya. Rasa sakit yang begitu menyengat di bawah sana ia salurkan dengan meremas dan mencakar lengan serta punggung Marel.

“Masih sakit Ca?” Tanya Marel sambil tersenyum melihat Aca yang sudah berantakan. Aca menggeleng di bawah kendali Marel seutuhnya.

Marel menggerakkan pinggulnya pelan dan kemudian menambah tempo gerakannya sedikit lebih cepat. Rasa sakit di awal perlahan menjadi rasa nikmat yang Aca rasakan. Suara rintihan berubah menjadi desahan yang terus keluar dari bibir Aca begitu candu bagi Marel.

Vagina Aca mulai tampak mengetat dan berkedut, Marel tahu Aca akan segera mencapai pelepasannya. Hal itu membuat Marel terus menambah tempo gerakan pinggulnya dan menghentak vagina Aca begitu keras hingga sesekali mengenai titik sensitifnya. Suara pertautan yang terjadi di bawah sana bersahutan dengan suara desahan dari bibir Aca. Hingga hentakan entah yang keberapa Aca akhirnya mencapai titik orgasm-nya bersamaan dengan sperma Marel yang menyembur begitu hangat di dalam sana.

Cairan keduanya mengalir di sela paha milik Aca, keduanya kemudian menetralkan nafas yang sempat memburu.

“I love you, Ca” Ucap Marel kemudian sambil mengecup kening dan bibir Aca singkat. Marel merebahkan dirinya di samping Aca kemudian.

“Mau kamu atau aku yang mandi duluan?” Tanya Marel. “Apa mau mandi bareng?”

“MAREL” Aca yang wajahnya sudah memerah segera beranjak dari kasurnya dan berjalan meninggalkan Marel seorang diri, lalu masuk ke kamar mandi dengan menahan rasa nyeri dan perih di bawah sana. Marel hanya tersenyum melihat tingkah laku Aca.

Malam ini bandung terasa semakin dingin, karena hadirnya kembali bulan Desember.

Dani terlihat gusar di atas tempat tidurnya. Mencoba memejamkan matanya— Tidurnya tidak nyenyak, lebih tepatnya ia tidak bisa tidur.

Dani memutuskan bangun dan pergi ke kamar Justin yang berada di sebelahnya.

Semenjak kematin bundanya Dani dan Justin biasanya tidur dalam satu kamar. Sedangkan Juan dengan beraninya memilih untuk tidur sendiri.

Namun setelah Justin memasuki SMP dirinya memilih untuk tidur sendiri, hanya karena sering diejek Juan, 'Penakut' katanya.

Meskipun sudah tidur sendiri nyatanya Juan tetaplah Juan yang menjadikan kakak nya sebagai bahan ejekan. adiknya itu lagi-lagi mengejeknya karena tidur dalam keadaan lampu yang menyala.

Dani melihat Justin yang sudah tertidur meringkuk karena mungkin diserang rasa dingin.

Dani baringkan tubuhnya di samping Justin, ia pandangi punggung adiknya itu.

Jika Dani merasa tersiksa dengan sulitnya memejamkan mata, Justin tersiksa dalam lelapnya.

Dani akan selalu terjaga di malam hari tanpa bisa memejamkan mata, karena Justin mungkin saja akan di siksa oleh mimpinya yang datang tanpa rasa iba.

Mimpi buruk terus saja datang dalam lelapnya tidur Justin, entah mimpi apa yang ia rasakan. Entah mimpi yang selalu sama atau mimpi yang berbeda-beda, Dani tak pernah memahaminya. Karena Justin juga tak mau menceritakannya.

Tetapi semenjak pertemuan yang tidak sengaja antara Dani dengan perempuan bernama Arum, yang pada waktu itu baru saja lulus dari studinya di Psikologi UI menjadikan Dani sedikit paham situasi apa yang dialami oleh Justin. Dengan beberapa kali membawa Justin ke rumah Arum.

Ternyata ada trauma yang Justin rasa. Kematian bunda yang begitu tak biasa, membuatnya merasa tak pernah bisa nyenyak dalam tidur lelapnya.

—Dia ada di sana.


—Dani Pov—

Hari itu adalah hari dimana aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi di rumah.

Keributan yang sering terjadi antara bokap dan nyokap, membuat aku seringkali menginap di rumah teman. Karena sudah muak melihatnya. Terutama orang yang ingin aku lepas dari kata ayah saat memanggilnya.

Tapi malam itu, saat aku hendak memejamkan mata di rumah Juna, tiba-tiba ponsel ku berdering.

“Dani kamu dimana?, bundamu, cepat pulang!”

Entah itu suara siapa di seberang sana, aku tidak paham. mungkin saja tetanggaku. Aku tidak bisa berpikir karena mendengar kata bunda yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.

Saat sudah sampai di rumah, aku dibuat heran kenapa rumahku terlihat ramai.

Ada garis polisi di pagar rumah.

Ada polisi yang berkeliaran di teras dan dalam rumah.

Aku tidak melihat keberadaan Justin, Juan dan bunda. Aku mencoba masuk, untuk melihat apa yang terjadi.

Namun belum sempat kakiku masuk ke dalam rumah, ada yang menarik tanganku. Sepertinya dia adalah tetangga yang menelponku.

“Dani sebaiknya kamu temui adik-adikmu”

“Mereka kemana?, sebenarnya apa yang terjadi? Bunda saya kemana?”

“Mereka di rumah saya dengan istri saya, kamu kesana dulu ya.”

Saat itu aku menurut saja dan mengikutinya. Di perjalanan bertemu dengan Justin dan Juan di rumahnya, lelaki itu mengatakan bahwa mendengar suara tembakan yang begitu keras dari dalam rumahku. Dan saat memeriksa apa yang terjadi, katanya bunda sudah tidak bernyawa dengan luka tembak tepat di dadanya.

Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar itu, air mataku menggenang, lalu kemudian jatuh. Tapi dengan cepat dadaku berubah begitu bergemuruh, kalut, amarah begitu menguasai diriku.

Hanya ada satu nama yang berputar di otakku, Aditama bajingan.

Kalo saja aku tidak ditahan untuk menenangkan Justin dan Juan, aku sudah lari kembali ke rumah untuk melihat keadaan bunda dan menghajar Aditama bajingan itu.

“Bundamu sudah ada yang urus, dan biarkan polisi menyelidikinya terlebih dahulu.”

setelah Justin dan Juan tertidur aku segera pergi utntuk mengikuti prosesi pemakaman bunda. Rasanya sekedar untuk meneteskan air mata saja aku sudah tidak bisa. Entahlah, ada banyak emosi yang berkecamuk dalam dadaku.

Setelah itu aku mendengar kabar bahwa memanglah benar, kepolisian menetapkan pelaku dari penembakan itu adalah Aditama.

Kebencian dalam diriku seolah semakin menjadi-jadi, hasrat untuk membunuh yang belum pernah terealisasikan pada lelaki itu seakan makin menggebu.

Hingga akhirnya tanpa sadar tubuhku sudah berdiri di depan lelaki itu dengan besi-besi tralis sebagai pemisah.

Mataku memerah, menatapnya penuh nyalang. Lalu, mulutku hanya mengeluarkan banyak kata umpatan, makian, dan kata-kata kasar lainnya yang seolah memang pantas diterimanya. Bahkan kalimat yang di keluarkan lelaki itu atas kata-kataku kepadanya sama sekali tak ku hiraukan. Telingaku seakan tuli.

Aditama, adalah orang yang sudah tak pernah sudi lagi ku sebut sebagai ayah sejak hari itu.

Hari di mana aku melihat bunda yang lebih sering menangis seorang diri tengah malam di meja makan.

Hari di mana aku mengetahui bahwa lelaki itu telah mengkhianati sosok bunda yang begitu berharga.

Aku bahkan sudah muak saat sering tak sengaja melihatnya dengan selingkuhannya berkeliaran. Sama sekali tak tahu malu.

Lelaki itu hanya akan marah-marah saat berada di rumah dan hanya bisa menyakiti perasaan bunda.

Sudahlah, aku sangat malas jika harus menceritakan tentang laki-laki bajingan itu. Karena, juga setahun setelah dirinya hidup di dalam jeruji besi, aku mendengar kabar berita kematian tentangnya. Tapi aku sudah tidak perduli.


“Bunda, bunda...”

Dani kembali mendengar rintihan putus asa itu kembali saat lelapnya tidur Justin.

“Bunda, maaf...”

Terlihat tubuh Justin bergerak kesana kemari, dahi serta lehernya di basahi oleh keringat dingin. Nafasnya terdengar tidak beraturan.

Sungguh, Dani merasa jika saja mimpi itu bisa di pindahkan maka biarkan dia saja yang merasakan.

Dani yang melihat Justin semakin resah dalam tidurnya, langsung mendekat. Dani hapus peluh di dahi Justin, dan mencoba membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipi Justin.

“Justin, hey bangun. Its okay

Karena Justin tak kunjung membuka matanya dan sadar, Dani menutup matanya dan tamparan pada pipi Justin. Tamparan itu memang sering kali Dani berikan jika Justin tak kunjung sadar, karena jika tidak Justin akan berakhir dengan melukai dirinya sendiri.

Justin terbangun dengan nafasnya yang tersengal, ia duduk lantas memeluk Dani dengan tubuh yang bergetar dan air yang menetes dari kedua matanya.

“Tenang ada abang di sini,” Suara lembut Dani sembari mengelus punggung Justin membuatnya sedikit tenang.

Dan berdiri, dan kemudian memberikan satu gelas air putih yang di ambilnya dari nakas di samping mereka tidur. Justin menenggak habis air tersebut tanpa sisa.

“Udah tidur lagi aja, abang temenin.” Dani menyuruh Justin untuk kembali membaringkan tubuhnya kembali, meski nafasnya belum sepenuhnya normal.

Ternyata pilihan Dani untuk masuk dan berakhir tidur di kamar Justin malam ini, merupakan pilihan yang benar. Karena mimpi buruk itu kembali menyapa Justin dalam tidurnya.

Semenjak Justin tidur sendiri, Dani selalu was-was sehingga ia lebih sering berakhir tidur di kamar Justin, menyelinap saat Justin sudah terlelap.

Justin segera meninggalkan cafe setelah tahu bahwa perempuan bernama Joana yang sejak tadi di tunggu kehadirannya ternyata tidak akan datang bekerja hari ini.

Beberapa pesan yang di kirimkan Justin pada Joana juga tak kunjung mendapat balasan. Justin sedikit khawatir dengan apa yang terjadi pada Joana.

Sebenarnya hubungan seperti apa yang terjadi antara Justin dan Joana?.

Justin kini sudah berada di dalam sebuah apartemen dengan nuansa serba hitam—dirinya sudah begitu akrab dengan apartemen ini.

Kode unit apartemen bahkan tidak menjadi masalah baginya, alias Justin sudah hafal betul dengan kode itu. Sehingga dengan mudah memasuki apartemen ini.

Keadaan sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Dibukanya satu-satunya kamar yang ada di apartemen itu. Justin bernafas lega kala melihat sosok pemilik apartemen tersebut tengah tertidur pulas. Tubuh itu hampir seluruhnya terbalut dengan selimut hanya menyisakan ujung kepalanya yang masih terlihat.

Justin mendekat dan memandangi wajah itu, perempuan yang sedang tertidur pulas itu adalah Joana—Justin sedang berada di apertemen milik Joana.

“Jo” Justin berusaha membangunkan Joana. Di usapnya lembut pipi Joana. Justin melihat ada luka memar dan darah yang mengering di sudut bibir Joana dari awal memandangnya.

“Jo bangun, Joana.” Joana hanya berdeham tanpa membuka matanya. “Joana, bangun dulu,” Joana mulai jengah dan mulai membuka matanya.

“Ken-akhh” Joana meringis karena merasakan nyeri pada bagian bibirnya. “Kenapa sih, Masih ngantuk, lo ngapain ke sini?” Dilihatnya Justin yang berjongkok di samping kasur miliknya sehingga kepala keduanya sejajar.

“Bangun dulu Jo, itu kenapa?” Justin menunjuk bibir Joana yang terluka. “Aku tunggu di luar, cepet ke kamar mandi dulu sana.” Joana malah menutup matanya kembali, mengabaikan perkataan Justin.

“Jo”

“Iya ih ini bangun, udah sana keluar.” Mendengar suara Justin yang sudah berbeda, sedikit kesal. Joana langsung membawa tubuhnya berdiri lalu masuk ke kamar mandi.

Joana keluar dari kamarnya dengan kaos putih polosnya.

“Jo, sini.” Justin menyuruh Joana untuk duduk di sofa bersamanya. Di sampingnya sudah ada kotak P3K dan ember berisi air hangat. Joana menurut.

“Lo semalam turun lagi ya Jo? truus itu kenapa pipi lo bisa memar? emang pulang jam berapa sih jam segini masih molor?” Joana hanya mendengus mendengar rentetan pertanyaan Justin.

“Satu-satu dong lo kalo nanya” protes Joana. “Tadi aja lo bangunin gue pakek aku-kamu, sekarang udah lo-gue lagi”

“Protes mulu lo, sini gue kompres air anget pipi lo” Diambilnya handuk kecil yang sudah terendam di dalam air hangat, di perasnya lalu di tempelkan di pipi Joana. “Sekarang jawab pertanyaan gue tadi.”

“Yang mana dulu, gue udah lupa lo nanya panjang banget.”

“Semalem turun balapan lagi?” Justin mengulangi salah satu pertanyaannya.

“Iya”

“Trus ini lo kenapa bisa kayak gini?”

“Jevan berantem sama anak yang ngelawan gue karena mainnya curang, gue coba nengahin aja, malah nggak sengaja kena bogem sama itu bocah”

“Pulang jam berapa?”

“Lupa gak liat jam, langsung tidur gue. Udah kan mau nanya apalagi lo?”

Justin hanya diam melanjutkan kegiatan mengompres pipi dan sudut bibir Joana lalu mengolesinya dengan sebuah krim. Joana sesekali meringis nyeri.

“Lo tuh dibilang jangan balapan terus Jo, kenapa sih susah amat.” Justin kembali bersuara setelah menyelesaikan kegiatannya.

“Emang lo siapa ngelarang gue balapan, kalo lo pacar gue baru gue nurut” balas Joana.

“Mulai lagi ya lo”

“Kenapa? Gue udah kayak cewek murahan ngajakin lo pacaran mulu dah?”

“Apaan sih Jo, siapa yang bilang lo murahan. Gue nggak pernah nganggep lo kayak gitu.”

Berapa kali Joana sudah mengutarakan perasaannya pada Justin dan menginginkan kejelasan hubungan mereka? Joana sendiri bahkan sudah lupa, mungkin sudah 1001 kali. Kenapa harus berkali-kali? dan kenapa Justin seolah tak mengerti?.

Apakah Justin malu dengan Joana yang jauh dari kata anggun?. Itu yang setidaknya Joana pikirkan. Karena Justin sendiri bahkan mengatakan kalau dirinya juga memiliki perasaan yang sama.

Kalau rasanya sama, lalu kenapa Justin tak mau mengikat rasa. Ah, rasanya Joana di buat bingung dengan sikap Justin padanya.

Lagian kenapa gue bisa suka sama lo sih?. Joana menghembuskan nafas frustasi.

Joana sendiri lupa sejak kapan perasaan itu muncul. Hampir 3 tahun sudah ia mengenal Justin. —Kita lewati dulu saja bagaimana awal pertemuan mereka.— Tapi dua tahun terakhir lah Joana seakan sadar dengan rasa itu.

Joana memang tipe yang sangat blak-blakan, sehingga ia tak menunggu lama untuk mengutarakannya pada Justin. Joana bahkan tidak akan perduli jika Justin menolaknya.

“Jo, aku bohong kalo aku bilang nggak cinta sama kamu, tapi kayak gini aja ya. Aku nggak akan menjadikan kamu berada dalam genggamanku, tapi cukup disisiku.

Aku nggak mau kamu terpaku sama aku. silahkan, silahkan buka hati kamu buat siapapun. Selagi cinta itu masih buat aku, tolong tetap disisiku. Tapi kalau nanti sudah berubah, bilang sama aku ya Jo.”

Setidaknya itu yang masih Joana ingat. Kalimat itu yang Joana dengar dari mulut Justin hari itu.

Dan sampai hari ini Joana masih dengan perasaan yang sama. Tidak berubah sama sekali.

Ting

Suara notifikasi muncul dari Handphone milik Justin.

“Siapa?” tanya Joana pada Justin yang langsung berdiri meninggalkannya di sofa.

“Bentar, tadi go-food” jawab Justin yang sudah dekat dengan pintu.

“Nih makan, belum makan kan?” Makanan itu di letakkan di depan Joana.

“Tumben banget, ini jam makan siang kenapa nggak makan sama bang Dani?”

“Yaudah gue balik nih ya?”

“Iya, iya bercanda doang gue”

Keduanya kemudian sibuk menjejalkan makanan ke mulut masing-masing. Justin dengan nasi padangnya, dan Joana dengan nasi ayam gepreknya.

Bahkan mereka berdua; Justin dan Joana sendiri tidak tahu hubungan apa yang sedang mereka jalani.

Selama ini tak banyak yang tahu kedekatan antara Justin dan Joana—merasa tak perlu memberi tahu.

Kicauan burung-burung pagi seolah menyambut kehadiran Dani yang tengah berjalan melewati beberapa nisan. ya, sebuah pemakaman dengan baunya yang begitu khas.

Pemakaman itu terlihat begitu sepi karena hari yang masih begitu pagi. ini merupakan pemakaman yang ke dua kalinya Dani datangi untuk hari ini saja. Bukan lagi untuk melakukan prosesi pemakaman tapi datang untuk melepas rindu dan mengadu—setelah sebelumnya mengikuti prosesi pemakaman seorang wanita bernama Meira; Ibu dari sahabatnya Juna.

Dani menjatuhkan dirinya ke tanah tepat di salah satu sisi sebuah makam. Makam dengan nisan yang tulisan diatasnya nampak telah memudar. Netranya menatap lekat nisan itu seraya mengusapnya.

Tubuh Dani seketika bergetar, dadanya terasa begitu sesak. Tangis yang sudah ditahannya bahkan dari awal kedatangannya di rumah Juna seakan meledak. Tangisannya begitu pilu.

“Bun...” setelah isak tangisnya sedikit mereda, Dani bersuara. Seakan menyapa raga yang telah lama tidur di bawah sana. Raga yang telah lama Dani rindu.

“Maaf..., maaf lagi-lagi abang datang membawa tangis bun.”

Wajahnya yang begitu pilu Dani tundukkan, ia seka air matanya dan tahan sisanya. Dani hanya tak ingin raga di bawah sana melihatnya begitu lemah meski tangis sebelumnya tak mampu ditahannya.

Dani tegarkan kembali pundaknya.

“Bunda pasti udah ketemu sama tante meira kan?

sampein terima kasih Dani buat tante Meira ya bun, terima kasih buat semua hal yang begitu berarti yang udah beliau kasih buat Dani”

Dunia yang Dani miliki seolah runtuh kembali untuk kedua kalinya. Tante Meira adalah orang yang pernah membangun kembali dunianya yang runtuh untuk pertama kali tatkala sang bunda pergi meninggalkannya untuk selamanya 10 tahun yang lau. Kini justru tante Meira jugalah yang menghancurkan nya kembali karena kepergiannya.

Hubungan perteman yang begitu dekat antara Dani dan Juna membuat tante Meira sudah menganggap Dani seperti anaknya sendiri.

Kepribadian yang begitu hangat yang dimiliki tante Meira mampu memberikan kenyamaan yang luar biasa bagi Dani apalagi selepas kepergian ibundanya. Uluran tangan yang diberikan tante meira pada Dani begitu tulus dan kuat, hingga membuat Dani seolah menemukan sosok bunda lain yang bisa ia jadikan sandaran, ia genggam erat pula tangan itu kemudian. Tapi Dani lupa bahwa genggaman itu bisa lemah dan terlepas kapan saja.

Hingga akhirnya hari itupun datang. Hari ini genggaman itu terlepas dari tangannya.

Dani seolah marah pada semesta. Kenapa harus diambil lagi sosok ibu dalam hidupnya. Kenapa?

Meski Dani tahu kehilangannya begitu dalam. Tapi, Dani juga tahu ada yang merasa lebih kehilangan; Juna.

Lagi-lagi harus Dani tahan; sedihnya.

“Bun, abang pulang ya,

Maaf Abang belum bisa bawa Justin ke sini, bunda kangen kan? Dia juga kangen sama bunda kok cuman belum bisa aja”