anotherapi

Kota Delft yang tenang, dimana kanal-kanal kuno memantulkan langit musim semi. Udara terasa hangat, dihiasi senyum tulus dari dua orang yang tengah berdiri di hadapan jendela kaca patri sebuah gereja tua.

Di jantung Delft, dikelilingi tembok gereja yang kokoh, mereka akhirnya berani. Dengan kemeja putih salju, dan jas berwarna silver, Bara menarik napas panjang. Menoleh pada Haidar yang juga mengenakan kemeja putih salju, tetapi dipadukan dengan jas Navy yang pekat hampir kehitaman-sebuah kontras yang serasi.

Mata mereka saling bertatapan, Bara menemukan refleksi dimata Haidar: dimana tiga tahun kebelakang banyak janji dan tekad yang sebenarnya tidak dia minta, tapi dipenuhi seutuhnya. Semua pengorbanan, perpisahan, dan perjalanan jauh ke negeri asing ini adalah hasil dari tekad Haidar untuk menciptakan rumah yang aman bagi cinta keduanya. Di detik itu, Bara tak hanya melihat Haidar sebagai calon suami, tetapi sebagai jangkar yang menambatkan takdir mereka, jauh dari badai masa lalu. Sebuah senyum lega dan pasti tersungging di bibirnya.

melarikan diri dari label “pelanggaran etika” yang dilekatkan negara pada cinta mereka. Di negeri Belanda yang ramah, tidak ada lagi sembunyi-sembunyi, tidak ada lagi rasa bersalah. Aroma lilin dan bunga tulip mengisi ruang, menyambut keduanya yang bergandengan tangan dengan erat.

Hari ini, di negeri yang memberi mereka kebebasan, mereka tidak hanya akan mengucapkan sumpah. Mereka akan menuntaskan babak lama yang penuh ketakutan dan membuka lembaran baru, di mana cinta mereka tidak lagi memerlukan pengasingan.

Mereka siap melangkah.

Diiringi musik klasik yang lembut mengisi ruang, Bara dan Haidar berjalan perlahan di lorong utama. Langkah mereka terasa ringan, seolah melepaskan beban bertahun-tahun yang pernah mereka bawa di punggung. Di setiap bangku, wajah-wajah yang menyambut mereka tersenyum—sebuah lingkaran kecil yang memahami betul harga dari hari ini.

Barisan bangku itu hanya terisi tidak ada separuhnya, namun setiap wajah yang hadir memancarkan kehangatan dan dukungan yang jauh melampaui itu. Mereka adalah keluarga serta teman-teman setia, kerabat yang berpikiran terbuka, yang tersentuh oleh cinta mereka yang berhasil menemukan tempat bernaung. Mereka adalah saksi bisu, bukan atas pemberkatan biasa, tetapi atas kemenangan hati.

Pada barisan paling belakang, duduk tiga orang di masing-masing sisi-rekan kerja Haidar dan Bara. Keduanya melangkah pelan melewati barisan itu. Di barisan kedua yang tengah tersenyum bangga yaitu Bagas, Karel beserta sang ibu di sisi sebelah kanan, sedangkan sebelah kiri terisi oleh Ardio dan sepasang suami-istri tua-tetangga yang menawarkan dukungan setelah mendengar sepenggal kisah pelarian itu.

Di Barisan ketiga, barisan paling ujung dari semuanya. Langkah itu telah berada sejajar dengan barisan tersebut. Senyuman haru merekah dari empat sosok yang duduk di sana. Di sisi kanan, ada Mama Haidar dan gadis kecil dengan gaun pink yang cantik-datang dari Melbourne. Di sisi kiri barisan yang sama, Nathaniel dan Abian duduk berdampingan.

Abian datang untuk menawarkan bahu atas masa-masa sulit yang tidak pernah di lantangkan oleh Bara. Sekaligus meraih jawaban bahwa ‘rumah’ tidak selalu berarti tanah kelahiran. Senyum yang ditampilkan adalah senyum seorang abang yang melihat adiknya berhasil mencapai garis akhir tanpa banyak merepotkan banyak orang.

‘Bahagia benar-benar ada di sisi hidup kamu A’, biarkan rasa kehilangan Abang duduk manis di hati Abang, jangan kamu hiraukan. berbahagialah, selalu dan selamanya untuk diri kamu sendiri.’

Bara membalas tatapan Abian, matanya berkaca-kaca, tidak bisa bicara. Hanya mengangguk seperti tahu apa yang disampaikan Abian lewat diam.

Musik yang tadinya lembut kini seolah memudar, hanya menyisakan detak jantung keduanya yang berdentum di telinga. Bara meremas tangan Haidar, dan sekali lagi meminta bertemu pandang: Kita berhasil.

Langkah dilanjutkan. Genggaman tangan semakin menguat, Bara dan Haidar telah sampai pada area utama altar. Seorang pendeta wanita tersenyum hangat.

Pendeta memulai, suaranya pelan namun tegas.

“Bara dan Haidar, tempat ini telah menjadi saksi dari banyak janji yang diucapkan dari generasi ke generasi. hari ini, janji yang kalian bawa lebih dari sekedar tradisi. Ini adalah sebuah keberanian.”

“Kalian datang dari jauh, mencari tempat dimana hukum tidak membatasi hati, dimana cinta adalah mutlak yang tidak bisa dipertanyakan. Di bawah atap gereja ini, di kota yang ramah ini, Kalian telah menemukan tempat itu.”

Pendeta meletakkan tangannya di atas genggaman keduanya. Bara merasakan getaran hangat saat menutup mata sesaat.

“Kalian telah memilih satu sama lain, telah berjuang untuk hak berdiri di sini. Dan dihadapan Tuhan, dihadapan orang-orang terkasih yang menjadi pilar kehidupan kalian, sekaranglah saatnya untuk mengikat ikrar itu.”

“Ini bukan hanya tentang janji hari ini, melainkan tentang janji untuk setiap hari yang akan datang. Janji untuk saling menjadi rumah, ketika dunia di luar sana terasa dingin. Janji untuk menjadi pelabuhan, saat badai kehidupan menerpa.”

“Haidar, apakah engkau bersedia menerima Bara sebagai pasangan hidupmu yang sah, untuk mencintai dan menjaganya, dalam suka dan duka, dalam kaya dan miskin, dalam sehat dan sakit, sampai maut memisahkan kalian?”

Haidar menatap Bara, matanya bersinar penuh keyakinan. “Saya bersedia.”

“Bara, apakah engkau bersedia menerima Haidar sebagai pasangan hidupmu yang sah, untuk mencintai dan menjaganya, dalam suka dan duka, dalam kaya dan miskin, dalam sehat dan sakit, sampai maut memisahkan kalian?”

Bara tidak perlu berpikir. Ia meremas tangan Haidar, air mata kebahagiaan akhirnya tumpah, membasahi pipinya. “Saya bersedia.”

“Sumpah kalian telah terucap,” lanjut Pendeta, suaranya kini bergetar haru.

“Mulai hari ini, kalian adalah satu kesatuan yang utuh. Telah memilih ikatan yang dibangun di atas dasar yang paling kokoh: kepercayaan dan cinta yang tak kenal syarat.” Pendeta itu mengangkat tangannya dari genggaman mereka, lalu menunjuk ke arah cincin yang tersemat di altar.

“Cincin ini hanyalah simbol, sebuah lingkaran sempurna yang tak berujung, mewakili keabadian ikrar kalian. Kenakanlah, sebagai pengingat akan perjuangan yang membawa kalian ke sini, dan sebagai janji untuk masa depan yang akan kalian rajut bersama.”

Pendeta itu tersenyum lebar ketika cincin berhasil tersemat di masing-masing jari, tatapannya kemudian menyapu seluruh ruangan, mengunci pandangan terakhir pada Bara dan Haidar yang kini berdiri tegak, mata bertemu mata.

“Kalian telah mengalahkan jarak, menembus dinding prasangka, dan mendefinisikan ulang makna sebuah rumah. Di hadapan hukum negara ini, dan dihadapan cinta yang Maha Agung, kini saya nyatakan: Kalian adalah pasangan yang sah.”

Ruangan sejenak hening, sebelum kemudian pecah oleh sorak sorai dan tepuk tangan. Bara dan Haidar berbalik, menyambut gelombang dukungan dari orang-orang yang masih percaya pada kekuatan cinta mereka. Air mata kebahagiaan menyeka semua sisa ketakutan, luka dan kepahitan masa lalu. Haidar mendekatkan wajahnya, menghapus jejak air mata di pipi Bara dengan ibu jarinya, lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Bara, “Kita akan punya rumah yang utuh, selamanya. Dan maaf aku belum bisa bawa Papa buat lihat bahagianya kamu hari ini.”

Mendengar kalimat itu, Air mata Bara justru semakin deras. Kenapa Abang dan Nathaniel bisa duduk berdampingan di kursi paling depan, kini Bara tahu alasannya. Ada usaha yang terus dilakukan Haidar tanpa putus. Untuk kelonggaran hati keluarganya yang justru tidak akan ada kata restu.

Dibawah atap altar, janji telah dikumandangkan. Sebuah ikatan juga telah dipatri dengan lingkaran manis di masing-masing jari manis. Ada doa yang turut menyertai dari mereka yang mengerti, bahwa ada dua anak adam yang berani saling menautkan diri, untuk hidup semati.

Sepasang anak adam, berjalanlah lebih berani setelah ini.

Sebastian Rudy Bimantara yang duduknya lebih gelisah dari siapapun, menjadi lebih tidak terkendali ketika pemilik nama yang sebelumnya disebut oleh sekretarisnya, berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.

“Permisi om, boleh saya masuk untuk bicara sebentar?”

Tidak ada jawaban, dan kilat mata itu sama sekali tanpa keramahan. Tapi bukan berarti Sebastian tidak memiliki tata krama sebagai orang tua. Tanpa menatap langsung ke arah Haidar, tangannya menunjuk ke arah sofa di sebelah kanan meja kerjanya.

“Duduk.” Suaranya dingin dan datar, seolah kedatangan Haidar adalah hal yang paling tidak diinginkan ada.

Keduanya duduk berhadapan, suasana hening menyelimuti ruangan. Hanya suara denting jam yang terdengar. Sebastian meneliti sorot mata di depannya, sorot mata yang penuh tekad, masih sama ketika meminta sesuatu yang berharga di hidupnya kala itu. Maka ketika hal itu masih sama, Sebastian tahu akan ada hal berharga lainnya akan hilang setelah ini.

Garis rahang yang kokoh dan sorot mata yang terkesan acuh tak acuh, Haidar masih bisa melihat bahwa dibalik sorot itu menyimpan keteduhan. Sayangnya, Haidar bukan orang yang beruntung meraih tatapan teduh itu.

“Sa–”

Tidak akan ada basa-basi, karena Haidar tahu kehadirannya seperti badai yang tak diharapkan. Karena hanya akan mengoyak kembali lembar-lembar luka, atau bahkan mengukir goresan yang lebih dalam.

Tapi ketika kalimatnya baru menjadi gema dalam keheningan, tangan Sebastian naik, mengisyaratkan agar dirinya berhenti bicara.

Jaket kulit hitam yang membalut tubuh Haidar, menjadi perhatian singkat Sebastian. Di atasnya, butiran air kecil-kecil menempel di beberapa bagian, seperti kilauan permata yang rapuh-yang sedang bercerita bahwa badai kecil baru pemuda itu lewati untuk pertemuan ini.

Hujan gerimis terlihat dari jendela ruangan, dan itulah mengapa bulir air itu pasti ada disana. Sebastian kembali berdiri dan kembali ke arah mejanya, mengangkat gagang telepon, lalu tersambung dengan seseorang.

“Bawakan dua gelas kopi untuk saya, dan tamu saya.”

Mendengar apa yang keluar dari mulut Sebastian, Haidar berharap bahwa itu bukanlah suatu keramahan yang dipaksakan. Karena kalimat itu terdengar begitu hangat dan percikan haru yang timbul melumpuhkan hatinya. Sejenak Haidar lupa mengapa ada di sini, lupa bahwa ada jurang diantara keduanya.

Haidar membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan sesaat itu, rasanya seperti tidak pernah ada penghakiman, tidak ada kesedihan, tidak ada yang merasakan kehilangan tiga tahun silam. Dimana antara dirinya dan Bara adalah satu-satunya kebenaran yang ada, tanpa dilabeli mencurangi dunia.

Keheningan berikutnya berlalu secuil kehangatan yang hadir dalam satu kalimat dan satu cangkir kopi mengaburkan jurang yang ada.

“Minum dulu,”

“Terima kasih banyak Om.”

Tepat setelah itu, Sebastian memecah keheningan yang sejak tadi belum surut.

“Kedatanganmu ini bukan untuk saya.”

Cangkir kopinya diletakkan di atas meja, menimbulkan bunyi dentingan kecil. Sepertinya Haidar tidak boleh tenggelam lebih lama dalam kehangatan itu, kekecewaan di mata Sebastian kembali muncul.

Matanya yang tajam menelisik setiap gerakan Haidar, mencari tahu sejauh mana perkataan pemuda ini bisa menghancurkan hidupnya. Hidupnya yang baru pertama kali tumbuh menjadi Sebastian Rudy Bimantara, baru pertama kali menjadi ayah bagi anaknya Bara yang turut dia sematkan Bimantara, dan baru pertama kali diberi pahit pengkhianatan atas hidup anaknya.

“Duduknya saya di hadapan Om,” Ucap Haidar, suaranya bergetar namun penuh tekad. “Akan selalu demi kelapangan hati yang bisa dibagi untuk saya. Dan untuk setiap kelancangan hidup saya, ada pengampunan di sana.”

Mata Sebastian yang awalnya penuh kekecewaan berubah menjadi kosong.

‘Untuk setiap kelancangan hidup saya, ada pengampunan di sana’

Kalimat itu berulang-ulang berdengung, bergaung tanpa henti di benaknya. Dibawah meja tangannya mengepal erat, buku-buku jarinya memucat. Napasnya berat menahan badai emosi yang berkecamuk hebat di dalam dada. Untuk pengampunan dan kelegaan, Sebastian tidak pernah bisa menyisihkan itu sedikitpun untuk pemuda di hadapannya. Sebanyak apapun percobaan itu dilakukan, tidak ada yang tersisih untuknya. Jarak menuju maaf terasa tak terjangkau.

Haidar menunggu, membiarkan keheningan lagi, dan lagi mengunyah habis udara di antara mereka. Membiarkan Sebastian larut dalam permohonanya, yang Haidar sadari adalah sebuah kelancangan yang berulang.

“Apa yang kamu minta hari ini, saya belum bisa kasih. Untuk anak saya yang pergi menyimpang, untuk anak saya yang pergi mencari rumah sendiri, untuk anak saya yang pergi mencari bahagianya sendiri.”

Sebastian mendongak, sorot kekecewaan yang masih memenuhi netranya, sulit dipadamkan. Kembali menatap lurus bukan dengan kemarahan yang meluap, melainkan dengan keputusasaan yang dingin.

“Ambillah semua keputusan itu dari anakku sendiri, biarkan semua yang belum bisa kami beri jadi urusan kami di sini. Dan jangan pernah datang untuk meminta, kecuali saya yang akan memberinya sendiri.”

Sebastian bersandar pada kursi, membiarkan pemuda di hadapannya menelan kepahitan yang tidak bisa ditawarkan dengan cara apapun.

“Balik sendiri?” Mempertanyakan seseorang tidak bersamanya, setelah memberikan akses duduk di sudut ruangan, dengan sofa dan meja mini yang sederhana di ruangan studionya. Abian Harsa Bimantara menyuguhkan satu kaleng minuman bersoda dari lemari pendingin, lalu duduk di seberang. Meski pertanyaan-pertanyaanya sekedar untuk basa-basi, Haidar sahuti dengan hati-hati. Masih banyak maaf yang Haidar harapkan dari sosok di depannya ini.

Kesan tenang tanpa pernah memberinya penghakiman, selalu jadi hal paling membuatnya awas. Karena dialah yang paling merasa kehilangan, atas apa yang tengah diusahakan bahagia dirampas begitu saja, lebih dari tiga tahun silam.

“Ada apa?” Abian Harsa Bimantara, bertanya. Bukan untuk basa-basi, tapi untuk mengerti kalau jalan adik dan laki-laki di hadapannya ini, tidak semulus orang lain. Abian menatap lurus dengan sorot yang tajam membelah keberanian Haidar, membuat pelupuk matanya terasa nyeri dan hampir saja menunduk. Namun untuk hal besar yang diimpikan, keberanian Haidar tidak boleh surut.

Merendahkan diri dalam nada suaranya, Haidar berharap banyak atas apa yang ingin diucapkan tidak menimbulkan luka lebih dalam dari sebelumnya. “Bang, —

Jeda yang Haidar ciptakan, untuk menarik nafas dalam-dalam. Kalimat yang sudah disusun rapi di kepala, kini tercekik di kerongkongannya. Kata demi kata seolah ketakutan untuk muncul ke permukaan, berhadapan dengan wajah duka yang terbalut ketegasan.

“Aku tahu nggak akan ada maaf untukku, tapi sekali lagi aku ingin mengusahakan bahagia itu lebih panjang. Dan kalau diijinkan lebih, maka aku meminta seumur hidup.” Lagi-lagi tarikan nafas yang dalam, suara mulai terdengar pecah. “Aku akan menikahi Bara, tolong kalau bisa yang ini abang mengijinkan.”

Abian punya banyak maaf, tapi tidak untuk laki-laki di depannya. Tiga tahun selalu mengusahakan, tapi berakhir dengan kegagalan. Ada rasa sesak yang terus menggelayuti dadanya. Entah karena hidupnya yang begitu lancang menjarah keluarganya atau karena laki-laki itu lebih ulung membangun senyum di hidup adiknya.

Abian mengalihkan pandangan, matanya tiba-tiba menjadi kabur. Gambaran sang adik muncul menutup penglihatannya. Kenapa? lagi-lagi Abian bertanya melihat adiknya yang tersenyum di atas pelupuk matanya.

Kenapa bahagianya kamu harus begini? kenapa bukan sama abang di sini Bara? Abang harus merelakan dalam bentuk yang seperti apa lagi kali ini?

“Abang, hari ini aku memohon untuk kerelaan yang lebih panjang. Semoga ada sedikit saja bagian dari hati abang yang memberikan itu.” Haidar merundukkan harga dirinya serendah yang dia bisa.

“Gue selalu bertanya sebenarnya bahagia seperti apa kalian minta untuk hal-hal curang seperti ini? adakah bahagia yang mau mampir di hidup kalian? Akan sebahagia apa memangnya kalian?”

Ada penekanan di setiap kata yang Abian tanyakan. Gema dari keraguan-keraguan yang meski selalu di balas dengan tawa riang adiknya, selalu muncul lagi dan lagi di setiap harinya. Semudah itukah Tuhan memberikan bahagia untuk kalian?

Keheningan Haidar bukanlah ketiadaan jawaban. Melainkan kesadaran bahwa jawabannya akan terlalu sederhana untuk Abian yang merasa kehilangan. Begitu pula dengan penerimaannya yang belum ada pada batas ujungnya. Dan Haidar tahu permintaanya bukan sesuatu yang bisa didiskusikan antara Abian dan dirinya, sesuatu yang tidak bisa diputuskan hanya dengan kepala dingin, tapi juga menuntut hati yang luas penuh kelegaan.

Permintaan Haidar bukanlah sesuatu yang bisa dinalar, apalagi dianalisis untuk Abian. Itu adalah pilihan yang menuntut pengorbanan, pengikisan harapan, dan penerimaan atas kenyataan yang paling pahit. Haidar bisa saja menjawab ‘Ini satu-satunya kebahagian, yaitu bisa bergandengan untuk hidup bersama’ tapi kata-kata itu akan terdengar nihil di telinga Abian yang berpegang erat pada sisa-sisa harapannya atas kehidupan adiknya.

“Gue nggak punya apapun yang bisa gue bagi, sekalipun itu kata maaf dan kerelaan. Gue cuma mau lihat adik gue tersenyum seumur hidupnya. Kalau lu ngerasa sanggup dengan rencana itu, maka lanjutkan.”


Memang tidak pernah semudah itu, ketika kehilangan memicu rasa pahit yang mengendap terus-menerus hadir dalam denyut nadi kehidupan. Maka tidak akan ada bentuk kerelaan dalam wujud apapun. Haidar sadar dan lebih dari mengerti hal itu, tetapi mengusahakan akan selalu menjadi napas baginya-entah dalam gubahan doa yang terus digaungkan, atau menundukkan diri pada setiap hati yang belum melampaui kerelaan itu.

“Semudah itu ya lu bersikap lancang berkali-kali. Seberapa jauh keluarga Bimantara harus lu hancurkan?”

Pertanyaan penuh tekanan kembali menggempur gendang telinganya. Ganendra Aji tidak main-main dengan pertanyaannya. Ruang kerjanya yang penuh sesak dengan tumpukan kertas yang butuh segera dituntaskan, dan kafein yang merenggut tidurnya, kini semakin terasa menghimpit. Aji bingung harus meletakkan dimana permohonan Haidar agar bisa terselesaikan. Tapi justru Aji bersyukur atas ketidakadaan tempat untuk itu, karena hatinya tidak akan mampu menyelesaikan.

“Apakah bahagianya saya dan Bara adalah bentuk kehancuran untuk keluarga Bimantara Kak?”

Duduknya yang diambang kegetiran, diusik oleh pertanyaan yang dianggap Aji sebagai bentuk ketidaktahuan diri. Aji yang sejak tadi menahan kepalan tangannya agar tidak melayang, akhirnya menyerah pada amarahnya. Sebuah pukulan jatuh mendarat di sisi kanan wajah Haidar.

“Dari tadi gue nahan, buat nggak nonjok lu buat kedua kali. Tapi emang ternyata nggak ada salahnya juga gue ulangi. Biar lu inget, nggak akan ada satupun dari Bimantara yang gue kenal baik-baik saja setelah hari itu.”

lagi, dan lagi.

Kegagalan itu datang lagi.

Haidar mewajarkan, ketika kegagalan yang kedua kali harus hinggap di benaknya lagi. Baik Abang dan Kakak, keduanya punya hak penuh untuk tidak memaafkan dan merelakan apa yang hilang dalam hidup mereka. Namun bukan berarti bahagia yang dia minta berulang-ulang harus dia relakan juga, tekadnya masih kuat di tengah penolakan itu.


“Abang akan menikahi Aa’ kamu.”

Di kantin sebuah fakultas yang riuh, pengakuan itu terlontar tanpa aba-aba. Makanan yang sedang dikunyah, menyembur ke meja kantin. Nasi yang tertelan salah jalur, menyebabkan Nathaniel Galen Bimantara terbatuk di tempat duduknya dan memecah riuh sesaat.

Haidar sigap menyodorkan air minum.

Sementara Nathaniel menetralkan diri dari apa yang telah didengarnya, Haidar membereskan kekacauan meja kantin dengan tisu basah. Sementara Ardio-yang kebetulan juga ada di sana-membereskan sisa nasi yang menempel pada pinggiran bibir Nathaniel.

“Abang tahu?” Nathaniel melayangkan tanya pada Ardio, yang raut mukanya tampak biasa saja. Yang tergambar justru, ini adalah bagian dari rencananya.

“Abang yang bilang buat nggak bilang ke kamu dulu.” Haidar menengahi, jika tidak akan ada protes kecemburuan yang menggantung di wajah Nathaniel.

“Oh, bagus dong. Aa’ pasti senang dan bahagia.” Nathaniel tersenyum. Menyamarkan rasa duka yang tiba-tiba menyelinap masuk ke hatinya.

Ini kabar bahagia yang tidak harus Nathaniel sambut dengan duka seharusnya. Tapi kenapa, ada rasa kehilangan yang tak bisa ia hindari lagi. Sejak awal kepergian sang Aa’, Nathaniel bertahan dengan kepiluan diri, dimana tidak ada satupun yang mafhum.

Aa’ pasti bahagia, pasti.

Nathaniel menatap Haidar dengan mata nanar, berkaca-kaca, sebelum akhirnya berubah menjadi tangisan tanpa suara. Bahagia, Nathaniel jelas bahagia atas itu semua. Tapi pecah tangisnya juga untuk rasa kehilangan yang tidak bisa ia redam sejak awal.

Haidar tahu, kehilangan milik Nathaniel lah yang justru jauh dari kata sembuh.

Tahun demi tahun beringsut perlahan. Tiga tahun yang panjang, menempuh pendidikan di negeri orang tiba-tiba terasa begitu singkat. Tahun berjalan selanjutnya Haidar tidak akan lupa akan rencana awal yang ingin ia tancapkan di bumi perantauan ini—sebuah mimpi yang tak boleh pudar ditelan hiruk-pikuk kesibukan.

Di tengah keheningan pagi yang baru merekah, ketika jemari Haidar masih terpaut pada layar dan kertas, sebuah suara hangat menyapa dari balik punggungnya, memecah fokus yang sempat terkunci.

“Lagi ngerjain apa?”

Di sana, Bara berdiri-membawa segelas kopi panas dengan kepulan asap yang menari lembut di udara. Aroma yang mengikat, serta presensi ulung yang tak kalah memancar kuat-dari si pembawa kopi- membuat Haidar otomatis memutar diri.

“Mau nggak?”

Tawaran hangat atas kopi itu kian menghangatkan suasana, sementara kepulan asap perlahan menuntaskan tarian indahnya. Bara menunggu jawaban Haidar, matanya menyiratkan pengertian tanpa perlu banyak kata. Pagi itu, suasana hari libur terasa berbeda; biasanya akan ada waktu untuk duduk bersama, tetapi hari ini nihil adanya.

Segelas kopi mungkin tidak akan sama dengan kehadiran Bara, tapi setidaknya ada waktu barang sedetik untuk saling menyapa di antara pusaran kesibukan yang Haidar miliki. Bara tidak mau banyak protes, karena baru kali ini Haidar memohon untuk kelonggaran waktu.

Gelas kopi itu lantas terangkat, membawa cairan hangat merayapi kerongkongan. Tegukan Haidar itu jadi jawaban yang ditunggu Bara. Seulas senyum lega tersemat di bibir Bara.

Haidar meletakkan gelas itu di atas meja kerjanya—sebuah pendaratan sementara bagi kehangatan yang baru ia terima.

“Sini deh, gue pengen peluk dulu.”

kedua tangan direntangkan, membuka ruang kosong di depannya. nada ucapannya menyimpan permohonan yang tak hanya sekedar membutuhkan kehangatan raga, tetapi juga butuh mengisi energinya yang terkuras setelah dibredel riuhnya tuntutan pekerjaan.

“Apaan deh.”

Meskipun mulut melayangkan kicauan protes yang manis, bara merundukkan tubuhnya. Menyambut ruang kosong yang terbentang di depannya. Menanggapi ajakan pelukan, Bara tidak memerlukan penolakan diri, karena tubuhnya lah yang jauh menghamba akan afeksi seperti ini. Pelukan seringkali kali menjadi pelebur atas apa yang bersarang pada ruang ketidaknyamanan diantara atau salah satu dari keduanya. Seringkali pula, pelukan menjadi penutup hari di akhir sesi, menyelimuti diri dari dinginnya kota. Dan kini, pelukan hadir sebagai pembuka hari yang menenangkan.

Setelah pelukan merenggang namun kehangatan tetap tersisa, Haidar berbisik, memecah keheningan yang nyaman itu.

“Besok ikut aku ya, ada yang mau gue tunjukin. Sekalian belanja keperluan buat aku pergi.”

Bara hanya berguman menyetujui, “Hmmm.”

Jepang. Kata itu menggantung di udara, memproyeksikan perpisahan yang akan terjadi minggu depan. Bara akan sendirian, dan dari kerutan di wajahnya, Haidar bisa membaca bahwa hari-hari tanpa kehadirannya akan terasa hambar, bahkan mungkin dipenuhi kesulitan. Rentang waktu yang tidak sebentar itu terasa berat, menekan dada keduanya.

Pelukan hangat itu terlepas, menyisakan dingin yang menjalar. Bara membalikkan badan, menunjukkan bibirnya yang mengerucut—raut kekecewaan yang tak bisa disembunyikan. “Mau ikut, tapi aku kerja,” keluhnya, nada suaranya sedikit merajuk.

Keluhan akan pekerjaan seolah menjadi rutinitas harian Bara. Ironisnya, setiap kali Haidar menawarkan untuk berhenti dan menikmati waktu luang, perdebatan panjang selalu mengakhiri tawaran itu. Bara adalah tipe yang tidak suka berdiam diri di rumah, namun keluhan akan pekerjaan yang membatasi hasratnya untuk melakukan hal lain selalu hadir di setiap kesempatan. Begitulah kiranya sifat alami manusia; Bara bukanlah satu-satunya yang dilanda dilema antara kenyamanan dan kebebasan itu.

“Udah ah, gue mau tidur lagi. Lanjutin kerjaan lu.”

Kalimat itu terucap, mengakhiri perjumpaan singkat mereka di pagi hari. Haidar menatap punggung Bara yang menjauh, perlahan menghilang dari pandangan matanya.

Kekecewaan karena tidak bisa membawa Bara ke Jepang juga dirasakan Haidar, sama dalamnya. Namun, ada satu hal lain yang harus Haidar lakukan selain kunjungan bisnis ke Negeri Sakura—sesuatu yang Bara tidak boleh tahu. Di balik raut pengertian dan janji yang diucapkan, Haidar menyimpan sebuah rahasia, sebuah kebohongan yang berani ia sembunyikan demi melindungi rencana yang lebih besar dan personal. Rahasia itu kini menjadi beban sunyi yang ia bawa sendiri.


“Kebutuhan aku udah semua belum ya?”

“Yang aku list di handphone sih udah semua. Coba kamu cek lagi, butuh sesuatu lagi nggak? atau ada yang belum masuk list ku mungkin.” Perintah Bara, untuk memeriksa barang belanjaan.

Keduanya kini duduk di sebuah cafe yang tenang, aroma kopi dan kue menguar lembut. Haidar sebelumnya mengatakan bahwa ada seseorang yang harus mereka temui-. terutama Bara-sebelum ia berangkat. Bara tidak banyak memikirkannya; ia menduga mungkin seorang teman yang ingin dikenalkan. Seseorang yang mungkin, Haidar lakukan untuk menjaganya atau menemaninya selama pergi. Karena itu, Bara tidak merasa gugup sama sekali.

Namun, ketika sepasang langkah kaki mulai mendekati meja mereka, perasaan sesak tiba-tiba menyergap. Hawa dingin merambat di punggung Bara, membuat napasnya seolah ingin berhenti bekerja. Matanya mendadak basah, tanpa ia perintah, tanpa ia duga.

Melihat Bara yang menggigil dan pucat pasi, Haidar segera mendekatkan diri. Memberikan usapan lembut pada punggung Bara, mencoba menenangkan. Diraihnya tangan Bara yang tampak gemetar, digenggamnya erat, takut-takut jika kekasihnya itu tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri.

Ketika langkah kaki itu semakin dekat dengan meja mereka yang berada di sudut ruangan, Bara tanpa sadar meremas tangan Haidar dengan sangat kuat. Netranya—yang kini berkaca-kaca—menangkap sorot mata yang telah lama hilang dari hidupnya. Yang ingin dilupakan bertahun-tahun lalu tapi selalu gagal di pertengahan malam.

“Bunda,” suara itu lirih, nyaris tak terdengar, sebuah bisikan yang hanya bisa dibaca Haidar melalui gerakan bibir Bara, serta matanya yang tengah menuntut jawaban atas segala pertanyaan yang membanjiri kepala.

Haidar membalas kebingungan yang menumpuk dan saling tindih di kepala Bara dengan sebuah anggukan pelan. Remasan tangan Bara semakin kuat, namun Haidar pasrah. Ia tahu, mungkin tangannya adalah satu-satunya pegangan yang bisa Bara jadikan tumpuan saat ini. Bara bingung. Kepalanya mendongak, berusaha sekuat tenaga menetralkan gejolak emosi di matanya.

sepasang kaki itu akhirnya berhenti. Seorang wanita dengan setelan blazer dan rok panjang berwarna krem yang rapi, langsung menunduk, kemudian bersimpuh di hadapan Bara. Ada begitu banyak hal—pengampunannya—yang wanita itu pinta. Ia menahan sekuat mungkin untuk tidak memeluk, apalagi mematrikan tatapannya pada netra anak laki-laki yang wajahnya selalu hadir bersama penyesalan, di sepanjang tahun ia memutuskan untuk meninggalkan.

Keduanya, Bara dan wanita itu, membeku. Tidak ada yang tahu, atau sanggup untuk melakukan apa-apa. Hanya Haidar yang bergerak; merunduk meminta wanita itu bangkit dari duduk simpuhnya. Namun, permintaan Haidar itu seolah terhalang oleh dinding sunyi, tak terdengar sama sekali di telinga wanita yang kini terselimuti penyesalan.

Kekosongan tahun-tahun tanpanya menari-nari di pelupuk mata. Dilema yang begitu menusuk. Karena sebuah kerinduan juga berusaha membobol hati dan pikirannya. haruskah dia biarkan wanita itu bersimpuh untuk selamanya, atau bergerak memeluknya dan membasuh rindu yang telah lama bersarang di hatinya. Bara berada diambang kebingungan, sampai Haidar menyadarkannya.

“Bar, ini Bunda kamu. Boleh ya diberi maaf, biar rindumu bisa lepas.” Bisikan tepat di telinga, menyadarkan Bara dari kekacauan yang membentur isi kepala dan hatinya.

Pelan-pelan keraguannya dibuang. Tubuhnya semakin gemetar ketika luruh dan berhasil menyentuh presensi itu. “Bunda, Bara kangen. Bangun ya, Bara mau di peluk Bunda.” Mulutnya terbata-bata menyelesaikan kalimatnya. Air matanya pecah, menyembur ke pipinya yang sejak tadi diusahakan agar tetap kering.

Pundak Asmara Ayuni bergetar hebat dalam simpuhnya, mendengar kalimat itu. Anak itu ternyata masih sudi menyambutnya dengan pelukan, dan menyebutnya Bunda dengan nada yang terdengar masih sama. Berapa banyak syukur yang harus Asmara sampaikan kepada Tuhan, atas hati yang besar yang dihadiahkan untuk anaknya—Jidanta Umbara.

Nyatanya rindu mengalahkan segala hal buruk yang menutup mata sejak kepergiannya. Dan rindu berhasil menyusutkan amarah yang sekian lama menyala-nyala. Bara membenturkan diri ke pelukan sang Bunda yang berhasil berdiri tegak.

Haidar menyaksikan bagaimana keduanya beradu rindu dalam pelukan erat. Usahanya selama lebih dari enam bulan menyusuri jejak dan keberadaan Asmara Ayuni mewujudkan hal manis yang disaksikan saat ini. Serta tanpa alasan yang sederhana yang mendasari keputusannya menemukan Asmara, mungkin hal ini hanya akan menjadi angan di setiap malam yang bisa Bara lakukan.

-

Di ruang tamu, di rumah yang mereka; Haidar dan Bara bangun. Ada hening yang masih pekat di antara Bara dan Asmara. Setelah bertahun-tahun lamanya kedua hati mencoba berdamai dengan waktu. Keduanya duduk di kursi yang berseberangan, sang anak menahan seribu pertanyaan dan Asmara menyimpan jutaan penyesalan. Tapi lensa mata keduanya memantulkan kerinduan yang sama.

“Bunda bisa pake kamar aku.”

Dua kamar yang tersedia harus direlakan salah satu untuk Asmara. Dan Bara menyerahkan kamarnya untuk sang Bunda. Haidar tersenyum mendengarnya, dan segera membantu memasukkan tas serta koper milik Asmara untuk dibawa ke kamar Bara.

“Bunda apa kabar?”

“Bunda kemana aja selama ini?”

“Bunda Aa’ masih anak Bunda kan?”

“Bunda kenapa pergi?”

“Bunda kenapa baru hari ini.”

“Bunda—

—Suaranya tercekat, tidak sanggup dilanjutkan. Keheningan sebelumnya tiba-tiba ramai, seperti isi kepalanya. Asmara hanya diam, pertanyaan beruntun sang anak seperti menuntut dosa-dosanya disingkap, ditebus di hadapan waktu yang telah hilang.

“Pelan-pelan sayang, biarin Bunda istirahat dulu ya.” Haidar yang mendengar semuanya, tidak ingin suasana rumah menjadi kacau. Membiarkan pertanyaan Bara menggantung di ruang tamu mereka. Dan membimbing Asmara untuk mengistirahatkan diri.

“Kamu juga butuh istirahat, ke kamarku yuk.” Pikirannya yang masih terlalu ramai, tidak bisa mendengar perkataan Haidar. “Sayang, dicari pelan-pelan jawabannya ya. Sekarang istirahat dulu.” Dengan pelan mulut Haidar menyampaikan, setelah meraih kedua tangan Bara.

“Dar, pertanyaan gue tadi bikin kepikiran nggak ya?”

“Bunda bisa tidur nggak ya di kamarku?”

“Aduh, harusnya tadi gue nggak banyak tanya.”

Risau, pertanyaan muncul ketika sudah berbaring di atas ranjang. Bara, tidak bisa tenang.

“Bisa, Bunda akan tidur dengan nyenyak di rumah ini, rumah kamu. Sekarang kamu yang harus tidur. Siniin kepalanya coba.” Mencoba memberi ketenangan, Haidar menarik Bara untuk mendekat, dan memberikan sapuan lembut di atas kepala, berkali-kali supaya riuh yang ada perlahan tenang.

“Kamu ketemu Bunda dimana?”

“Panjang, ceritanya aku bagi lain kali. Sekarang tidur dulu.”

Tidak ada pertanyaan lagi, Bara memilih diam. Membiarkan perlahan usapan di kepalanya menghantarkan ke alam bawah sadar.


Selama enam bulan, Haidar mengerahkan seluruh kenalan yang bisa membantunya menemukan perempuan bernama Asmara Ayuni. Berbekal informasi yang begitu minim, Haidar tidak menyangka pertemuannya terwujud di antara keteguhan dan kepasrahan.

“Perwakilannya keturunan orang Indonesia.”

Bersamaan dengan bisikan lirih rekan kerjanya, pintu ruangan pertemuan terbuka. Masuk beberapa rekan kerja yang lain, diikuti dengan seorang perempuan yang berjalan di belakang ketua tim divisi.

Waktu berhenti. Bukan untuk seluruh penghuni ruangan, tapi bagi Haidar seorang diri.

Benarkah ini perempuan yang dia cari? Benarkan dia pemilik asma Asmara Ayuni?

Familiar, meski tidak pernah bertemu langsung. Ingatannya menggali foto yang dikirimkan Ardio. Bagaimana terakhir kali Asmara Ayuni terlihat, itupun Ardio dapatkan dari salah satu orang tuanya.

Matanya tidak mau berhenti mengekor pada setiap gerak-gerik perempuan itu di tempat duduknya. Pertemuan itu seolah hanya terjadi antara dirinya dan perempuan tersebut. Fokusnya benar-benar hilang, presentasinya kacau. Seluruh kekecewaan yang dirasakan, dan sampaikan pada dirinya oleh seisi ruangan sama sekali tidak terbaca pikirannya.

“Apakah anda mengingat nama Jidanta Umbara Bimantara?”

Keberaniannya meminta duduk bersama sepertinya menghasilkan sesuatu. Setelah basa-basi yang berbelit, kini ketegangan menghampiri muka keduanya.

“Apakah Asmara Ayuni adalah nama lahir anda?”

Ketegangan bertambah, ketika mata perempuan tersebut membola masih dengan keterkejutannya. Seolah fakta tersembunyi yang dia tutup rapat-rapat dikuak paksa oleh Haidar. Tangannya yang gemetar, siapa dia? kenapa tahu namanya dan anaknya? pikirnya.

“Siapa Kamu?” Asmara balik bertanya dengan suara yang begitu berat.

“Perkenalkan kembali, saya Haidar Laksana. Dimana lima tahun dalam hidup saya, saya mendengar bagaimana kerinduan seorang anak kepada anda. Dan anak itu adalah Bara, pacar saya.”

Ketegangan tidak ada habisnya, baik Haidar yang membeberkan fakta ataupun Asmara yang kehilangan kendali atas tubuhnya. Pernyataan tersebut membuat secangkir teh di tangannya jatuh menabrak piring kecil di bawahnya. Air teh mencar ke seluruh meja. Dan setelahnya hening, ketika pelayan cafe dengan sigap membantu membereskan kekacauan meja mereka.

“Ngomong apa kamu? siapa yang kamu bilang pacar kamu?”

Pelayan pergi, Asmara bertanya. Merasa bahwa telinganya sedang tidak baik-baik saja, sehingga apa yang didengarnya dari anak muda tersebut adalah salah.

“Bara Bimantara. Bukankah anda mengenal dengan baik nama itu?”

Lidahnya kelu, membantah pun sepertinya akan kalah. Bara Bimantara, salah satu anak tanpa dosa yang dia tinggalkan di masa lalu.

Apakah ini tamparan atas dosanya di masa lalu? apakah tuhan menghukumnya dengan cara seperti ini? apakah anaknya bara yang harus menanggung dosa itu? apakah akan ada maaf untuknya dari sebastian setelah ini?.

Dika punya banyak cara untuk bisa berdiri di tempat yang sama dengan keadaan yang masih tegap. Dengan perasaan yang masih utuh tanpa digerogoti sesuatu secuilpun, dan dengan harapan yang tak kunjung putus di setiap detiknya. Dika, bahkan linglung ketika kejadian yang membuatnya murka tak mampu membuatnya roboh atau sekedar lesu untuk setia berada di tempat yang sama.

Sedangkan Ian seperti orang yang kehilangan pengetahuan dasar hidupnya. Untuk sekadar melangkah seringkali tiba-tiba merasa kesulitan, keraguan demi keraguan seolah mengurungnya dalam bilik ketakutan. Komitmen yang tak pernah ingin Ian kejar sebelumnya, terasa begitu mengusik dari balik pertemanannya. Penafikan justru tidak memberinya ruang untuk berpikir secara lebih logis.

Maka ketika penerimaan datang di akhir justru bersamaan dengan penyesalan yang berkepanjangan. Mungkin jika orang itu bukan Dika, tidak akan ada kesempatan yang lapang baginya.

Ian masih berdiri di depan kamar kos Dika. Ragu-ragu menekan kenop pintu. Pintu yang dulunya tanpa dia gedor akan terbuka dengan sendirinya, pintu yang bahkan terkunci bisa dibuka dengan mudahnya. Pintu yang dulunya memberinya sambutan hangat kini seolah sedang mengejeknya.

Ian menunduk sejenak, dengan kenop pintu yang belum berhasil dia putar. Seolah meminta pengampunan atas apa yang terjadi kepada tuannya. Meminta belas kasihan untuk meredakan ejekan itu untuknya.

Kenop pintu berhasil diputar, pintu memberinya keluasan diri untuk memasuki kamar itu. Langkahnya berusaha dibuat seyakin mungkin, berusaha agar keraguan tidak ada yang menyusup diantara langkah kakinya. Kegugupan menyeruak memenuhi rongga dada.

Dari langkah yang dibuat hati-hati, Ian terperanjat ketika Dika berdiri di depannya dan menarik satu tangannya untuk segera masuk lebih dalam. Dan membiarkan pintu menutup dengan bantuan dorongan dari salah satu kaki Dika.

Tarikan itu berhenti. Dika memindahkan tangannya ke arah tengkuk, lalu menyeretnya untuk saling bertemu dalam pagutan rindu yang terburu. “Lama banget gila, lu kapan sih gobloknya ilang.”

Mendengar itu hati Ian seperti tercabik. Kenapa harus butuh waktu yang lama untuk kesadarannya menjadi sempurna. Dika dan semua yang dia punya, kenapa matanya berusaha menampik itu sebelumnya. Ian mengamini perkataan Dika, bahwa itu semua hanya karena dia manusia bodoh. Mata secantik dan selembut ini saat memandangnya, ingin dia musnahkan. Dimana otaknya waktu itu.

Ian merangkum tubuh di depannya dengan satu tangannya, serta membalas tatapan mata itu lebih dalam dari sebelumnya. Satu tangan yang lain menyentuh dengan hati-hati kulit di bawah matanya. “Makasih masih di sini buat orang goblok kaya gue, Dika.”

Dika tersenyum, meletakkan jemarinya di atas jemari yang tengah membelai pipinya dengan kehatian. “Boleh nggak lu nanya pertanyaan itu sekarang. I want to answer it now.”

“Mahardika Putra Langkat, mau ya jadi satu-satunya orang yang gue cium tiap hari, satu-satunya orang yang gue liat tiap bangun tidur, satu-satunya orang yang akan gue cintai seutuhnya. Satu-satunya orang yang akan gue pamerin ke seluruh dunia, karena kelebihan itu yang gue punya dalam hidup setelah ini kalo lu jawab iya.”

“Selalu dan selamanya akan gue jawab iya, iya untuk semua hal yang hari ini lu minta Galentian Byaktara Salem.”

“Terima kasih sekali lagi buat semua penerimaan atas kebodohan yang gue punya Dika. Sekarang udah boleh manggil sayang belum?”

“Why not? Sayang sounds perfect kan.”

Keduanya saling tertawa, saling merangkum diri dalam pelukan yang lama dinanti. Kembali dengan dekapan yang sama tapi perasaan jauh berbeda ketika status pertemanan sempat jadi tembok sebelumnya.

Prediksi suhu pada jam tangannya menunjukkan minus tiga derajat celcius. Haidar merapatkan jaketnya agar dinginnya kota Delft tidak merangsek masuk membekukan aliran darahnya. Pesan singkat yang dibacanya sebelum meninggalkan meja pertemuan dengan rekan-rekannya, mengembalikan seluruh energi yang terkuras sejak awal meja sudah dipenuhi dengan diskusi panjang disertai isi kepala yang berbeda-beda.

Haidar senang, Bara perlahan-lahan mampu menyampaikan keinginannya tanpa harus terhalang ego dan gengsinya. Butuh waktu cukup panjang untuk situasi seperti ini bisa dicipta keduanya. Bara dan isi kepalanya yang tidak mampu keluar dari lisannya, cukup mempersulit hidup keduanya di negeri orang-sebelumnya.

Kalau Bara dengan ego dan Gengsinya, Haidar justru dengan keras kepala dan waktu berantakannya. Haidar hampir gila menyesuaikan waktu studi dan waktu santai dengan Bara. Seluruh jadwal selalu berantakan, berujung waktu tidur yang hanya dua-tiga jam kadang harus dia relakan. Dan Bara tidak pernah suka itu.

Tapi seiring dengan ego dan gengsi Bara yang menyempit, waktunya pun bisa terbagi dengan rapi berkat campur tangan Bara. Semuanya jadi tertata. Lalu ada waktu dimana keduanya akan duduk bersama, ketika perlu menyatukan isi kepala yang kadang juga diserang stres berlebih dan mengganggu keduanya. Menyelesaikan segala hal yang tidak semestinya terjadi dengan berbagi pelukan di akhir sesi.

Suasana kota Delft yang dingin, dengan lampu yang begitu cantik terbentang sepanjang sungai yang dilewati Haidar. lampu cantik itu dipasang guna menyambut natal yang akan segera datang. Sungai-sungai yang beku, dijadikan arena ice skating yang kebanyakan dari golongan remaja dengan jaket berlapisnya.

Haidar teringat ketika baru beberapa bulan keduanya di negeri orang, musim dingin sudah menyerang. Bara tumbang, badanya cukup sulit untuk menyesuaikan. Rasa khawatir timbul berlebihan, dan hampir satu minggu keduanya jadi penghuni rumah sakit. Bara yang terbaring tanpa suara, Haidar yang gila dihantui rasa kehilangan dan rasa bersalah jika Bimantara di depannya sampai kenapa-kenapa.

Ketika keadaan cukup membaik, tamu datang dari kejauhan. Abian Harsa meradang ketika adiknya terbaring tanpa ada kabar.

Haidar disalahkan, dimarahi habis-habisan.

Mengirim kabar kemudian jadi agenda yang tidak akan Haidar lewatkan, meskipun tidak pernah mendapat balasan, tapi dia tahu bahwa pesan-pesannya dibaca dan lihat seksama. Hanya saja pengirim pesan mungkin menciptakan murka yang masih berkelanjutan.

“Bar,” Yang dipanggil muncul dari balik kamarnya, lalu menyerang dengan tiba-tiba. Bibir Haidar jadi mangsa. Yang awalnya hampir beku karena kedinginan, berangsur-angsur menghangat dalam beberapa kali lumatan.

“Aku bersih-bersih dulu ya sayang.” Haidar menangkup wajah manis itu, memberinya jeda waktu supaya tidak terburu-buru.

Menyanggupi itu bukan hal yang sulit untuk Bara, menganggukkan kepala lalu membiarkan Haidar masuk ke kamarnya.

Malam ini keinginannya begitu tinggi, fantasinya butuh dia kejar jadi realisasi. Dia ikuti Haidar masuk ke dalam kamar. Senantiasa menanti Haidar keluar dari bilik kamar mandi.

Fantasi liar timbul bersahutan di kepala, Bara tidak mengerti mengapa keinginannya jauh terbang tinggi malam ini. Maka ketika Haidar muncul, Bara siap menggantung seluruh nasibnya malam ini sebagaimana kedua lengannya yang digantungkan pada leher Haidar. Bara siap menjadi hamba paling setia.

“Kamu kalo lagi pengen, jadi tambah manis. Liat muka kamu, merah semua.” Bara bisa apa, ketika pujian melayang dari sang tuan. Tentu saja hadiah kecupan pantas dia berikan bukan.

Kecupan singkat membangun suasana malam dingin jadi lebih hangat. Lengan yang masih setia menggantung jadi tumpuan ketika kecupan bukan lagi hal yang memuaskan.

Berciuman lagi-lagi tidak pernah menjadi sesuatu hal yang membosankan. Selalu ada candu dibalik adu pagutan. Semakin dalam malah semakin tinggi adiktif nya, keduanya jadi semakin ketergantungan.

Haidar gapai kedua kaki Bara untuk ikutan menggantung di antara pinggangnya, supaya jauh lebih leluasa. Bara begitu lihai mempermainkan lidahnya di dalam sana. Haidar hampir tidak bisa mengimbangi kecepatannya, tapi berakhir mengungguli permainan dengan mengesankan.

“Pelan-pelan sayang, aku nggak kemana-kemana.” Perkataan Haidar membuat Bara semakin merah.

“Yaudah aku mau main dulu.” Turun dari gendongan, Bara memberikan perintah agar Haidar duduk manis di atas ranjang. Dia mau bermain-main dengan tenang.

Ikatan handuk yang membalut di pinggang Haidar dibukanya dengan seringai senyum yang menggoda. Seluruhnya kini terlihat tanpa ada penghalang. Dada bidang serta yang ada di bawahnya terbuka untuk Bara bebas menjamahnya. Haidar tidak akan memberontak.

Pemberian tanda kepemilikan selalu jadi hal yang juga tidak akan terlewatkan. Ruam keunguan menghiasi leher dan dada bidang Haidar. Sibuk berciuman, tangan Bara tidak luput mampir pada bagian sensitif. Yang disentuh berkedut kegirangan.

Kejantanannya mengeras dan tegak bebas. Haidar suka miliknya jadi mainan. Ketika sentuhan lembut diubah ritmenya, Haidar seperti dibawa naik ke nirvana. Ketika puncaknya dipermainkan dengan lidah Bara, Haidar mabuk bukan main. Nikmat itu tidak setara dengan apapun.

Begitu semuanya dilahap habis oleh Bara, pikirannya berantakan. Dia betulan berada di surga. Mulut Bara penuh dengan kejantanannya yang semakin mengeras dan ingin memuntahkan isinya.

“Sayang, I’m gonna cum.” Haidar memberikan peringatan. Bara malah semakin membuat sibuk mulut dan lidahnya mendengar itu.

Oh, shit.” Mengumpat, seluruh badannya luruh. Haidar berhasil mencapai pelepasan pertamanya dan ditelan dengan rakus oleh Bara.

Ciuman kembali membawa mereka ke alam antah berantah yang nyaris mirip surga.

Now, it's my turn.” Tangan Haidar melucuti pakaian yang masih melekat pada diri Bara. Dia tidak sabar mengambil alih permainan. Diangkatnya Bara naik ke atas pangkuan. Dia balas tuntas untuk ruam ungu yang ada di tubuhnya, keadaan sekarang sudah sama.

Puting Bara berubah warna merah merona, ketika dibawah kendali tangan dan mulut Haidar. Bara membusungkan dadanya ketika rasa nikmat menjalar di seluruh tubuhnya, saat salah satu putingnya dipermainkan lidah Haidar, diputar ke segala arah.

Suara-suara desahan muncul tanpa ditahan, Bara biarkan lolos sebagaimana mestinya. Menggelitik indra pendengaran Haidar. Memantik perasaan kalang kabut buat jadikan Bara bisa merasakan kenikmatan yang lebih dari itu.

“Suka banget kamu kalo diginiin?” Pertanyaan Haidar tidak perlu dijawab, suara yang keluar dari mulut Bara sudah jadi jawaban paling masuk akal, bahwa dirinya menikmati segala yang terjadi dibawah kendali Haidar. Bara juga tidak lagi sungkan untuk meminta lebih ketika yang di bawah sudah berkedut hebat, juga meminta jatah.

Posisi keduanya sudah berubah, Bara menginvasi kasur milik Haidar dan membuka lebar kedua kakinya, Haidar sumringah melihat Bara berserah.

Wajah seperti ini yang menjadi favorit Haidar. Bara dengan wajah penuh pintanya.

“Jangan pernah kasih muka kamu yang begini ke orang lain, aku nggak mau berantem.” Haidar serius dengan perkataannya. Kalau beneran ada yang melihatnya, Haidar mungkin akan mati muda, karena gila.

As you wish!” Bara kehabisan kesabarannya, bibir Haidar kembali jadi mangsa. Dia diburu nafsu, maunya segera diberi yang dimau. Tapi Haidar terlalu lama membelai wajah favoritnya. Haidar tersenyum menang, Dia berhasil membuat Bara kelimpungan.

Akhirnya haidar menurutinya, Jarinya bergerilya di bawah sana. “Mas, mau langsung aja.” Bara merengek, ketika permainan jari Haidar dirasa perlu segera diakhiri. Dia perlu mengisi lubang itu dengan yang lebih berisi, dan bisa segera mencapai putih.

“Aku suka kalau kamu udah panggil aku mas. Sekali lagi boleh dong.” Haidar menggoda Bara tepat di atas telinganya.

“Mas, mau langsung dimasukin.” Senyuman terbit begitu lebar. Haidar seperti baru saja memenangkan lotre. Permintaan langsung disanggupi. Tempo yang dia lakukan disesuaikan dengan derap nafas dan suara yang keluar dari bibir Bara.

Persatuan kulit di bawah sana memberikan sensasi nikmat, gerakan dengan tempo yang sempurna mampu menumbuk area paling sensitif di dalam sana berkali-kali. Haidar menambah tempo gerakannya saat merasakan keduanya hampir memperoleh klimaks. Hentakan yang begitu keras membuat keduanya mencapai putih bersamaan.

Bara menarik nafas panjang setelah kedua kakinya bergetar hebat.

Ik houd van jou, Mas.”

Dank, lief

Berbagi frasa cinta setelah bercinta, keduanya masih enggan mengikis jarak. Setelah beberapa cairan yang berceceran dibersihkan, rengkuhan jadi pilihan. Peluh yang sempat membasahi diri, menghilang seiring keduanya lelap dalam dekapan dinginnya malam kota Delft.

Disclaimer!

Konten mengandung unsur dewasa secara implisit. (U17+)

***

Kenapa dunia yang tak seberapa ini, terkadang harus tidak memberikan ruang bagi mereka yang merasa kehilangan, bagi mereka yang terasingkan, atau bahkan bagi mereka yang tak punya sisa tenaga untuk sekedar menyampaikan situasi hati.

“Gue mandi dulu deh Dik, pinjem kaos ya”

“Biasanya juga langsung ambil-ambil aja lo.”

“Ngomong salah, gak ngomong tambah salah. Salah mulu gue sama lo Dik.”

Gelombang rasa yang bergemuruh tanpa suara sedikit mereda ketika pintu kamar mandi tertutup dengan sempurna.

***

Aroma shampo khas milik Dika menguar dari balik rambut ikal Ian yang masih basah. Rambut yang seharusnya segera dibalut dengan handuk malah dibiarkan, berujung lantai kamar Dika harus dihujani dengan tetesan air yang terjun dari rambut ikalnya.

Mulut yang biasanya dengan lantang mengeluarkan omelan kini justru bungkam, membiarkan tetesan demi tetesan meluncur deras menghantam lantai kamarnya yang sudah jarang berbenturan. membiarkan tetesan tersebut pergi dengan kering sendirinya tanpa perlu mengusirnya dengan sapuan tisu atau baju kotornya.

Entah malas harus beradu argumen dengan Ian, atau Dika hanya merasa kejadian aneh itu sesuatu yang sedang dia rindukan. Sesuatu yang lama tidak mampir ke bilik kamarnya.

“Lo ga mau pulang ke rumah gitu yan?”

Langkah kaki Ian terhenti sejenak, lalu meraih ponselnya yang berada di atas meja. Duduk, lalu merebah di atas kasur yang tentu saja bukan miliknya. “Ngapain lo nanya gitu? gue kan emang ga pernah pulang. Percuma juga pulang, rumah juga sepi.”

Rumah bukan sesuatu yang perlu Ian rindukan.

Dika tidak memberikan komentarnya, apa yang sebenarnya dirinya tanyakan pada Ian adalah sebuah pertanyaan yang juga bersarang di dalam kepalanya sejak beberapa hari yang lalu. Begitupun juga jawaban, apa yang Ian katakan sebagai jawaban sepertinya juga cukup menjadi jawaban bagi dirinya juga.

“Kenapa? Lo pengen pulang? Mau gue anterin weekend besok?”

Dika hanya menggeleng.

Tidak ada yang bersuara setelahnya. Keheningan menutup rapat ruang yang ada di kamar Dika. Keduanya seolah sedang menikmati kegaduhan yang terjadi di dalam pikiran masing-masing cukup lama.

Dika memperhatikan laki-laki berambut ikal tersebut. Ada rasa syukur yang juga diam-diam dilafalkan Dika, kamarnya mendapat kunjungan sesuai dengan pengharapan. Seseorang yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya cukup rumit untuk bisa dibahasakan dengan lisannya.

Senyuman tipis terbit dari keduanya, pandangan tiba-tiba menyatu begitu saja. Segalanya berubah menjadi sulit untuk Dika tangani, termasuk jantungnya yang berpacu lebih cepat daripada biasanya. Kalau saja otaknya berhenti berfungsi, mungkin Dika akan segera memuntahkan isi hatinya dengan teriakan sekuat mungkin di depan laki-laki berambut ikal tersebut.

Manusia bodoh mana ketika masalah hati tidak mampu dilisankan, justru tindakan malah dilancarkan. Sebut saja manusia itu Mahardika Putra Langkat, yang makin lama tanpa suara seolah menyerahkan segalanya untuk manusia bodoh lainnya yang juga sigap melegalkan transaksi yang terjadi.

Balutan kata teman seolah bukan menjadi tameng lagi, keduanya diburu nafsu.

Labium saling berinteraksi, bagian belakang leher digapai agar transaksi berjalan lebih mudah. Suara lirih muncul di sela-sela kegiatan, menggelitik rungu, meledakkan hasrat. Afeksi memberikan ruang untuk mereka saling bicara. Kulit ke kulit, jari-jemari sudah tidak tahu arah. Jeda waktu juga diadakan supaya oksigen tidak sampai Amblas.

Pembicaraan semakin dalam, entah apa yang dibicarakan di dalam sana. Tubuh saling berhimpit seakan berlomba memberikan rengkuh paling hangat.

Kejadian pertama kali mungkin terasa serampangan, yang kedua kali ini jauh lebih rapi. Transaksi cumbu jauh terasa lebih menegangkan namun ringan. Decakan mengalun seperti alunan musik klasik romantis.

Jeda kembali diadakan. perebutan oksigen begitu intens, hasrat yang meledak sebelumnya menarik mereka ingin melakukan lagi dan lagi, tidak peduli berapa kali rongga dada mereka harus mengalami miskin oksigen, tidak peduli berapa kali harus merutuki kegiatan ini nanti.

Oksigen keduanya tidak sempat amblas, tapi justru hilang waras.

Meskipun begitu, dunia yang tak seberapa ini masih sudi memberikan ruang bagi mereka yang tak sempat mengabarkan secara lisan.


Dari semua bentuk doa, Bara meyakini bahwa doa dibalik nama Laksana adalah doa paling agung yang dikabulkan oleh Tuhan. Meskipun dirinya tidak pernah tahu arti dari Lak. sa. na sesungguhnya. Sebab pengetahuannya hanya sebatas nama adalah doa. Tapi Segala yang baik, nyata lekat pada si penyandang nama Laksana; Haidar Laksana.

Haidar Laksana yang tengah duduk manis dengan segelas kopi, menelisik isi dari televisi di depannya. berharap menemukan sesuatu untuk bisa menghibur waktu istirahatnya di hari ini, setelah di sibukkan dengan segala kesibukan proyek-proyek penelitian bersama profesornya sebelumnya dan jam kuliah yang cukup padat.

beberapa kali tombol pada benda pipih di genggamanya terlihat di tekannya. Berharap menemukan tontonan yang memanjakan matanya. Cukup lama, sampai pada Haidar lebih memilih tombol yang berfungsi untuk mematikan televisi tersebut. Tidak ada yang menarik baginya. Layar di depannya kembali menampilkan kegelapan.

Menghirup aroma pagi hari dengan memejamkan matanya, Haidar merasakan sesuatu ikut keluar dari tubuhnya bersamaan dengan nafas yang dibuangnya secara perlahan. Tubuhnya terasa sedikit lebih ringan.

Tarikan nafas Haidar membuat Bara menarik ujung-ujung bibirnya. Haidar yang duduk dengan tenang adalah sesuatu yang jarang dijumpainya, terhitung tiga bulan sudah.

“Barrrrr…..” Dengan suara yang masih terdengar serak, efek baru kembali dari tidurnya. Haidar hanya menggerakkan kepalanya dan menemukan yang dipanggil ternyata sudah berdiri di dekatnya.

“Apa?” Bara masih harus membiasakan telinganya mendengar suara Haidar dengan suara paraunya yang terdengar lebih seksi, meski sudah berkali-kali mendengarnya.

“Duduk sini deh.” Tangan Haidar memberikan isyarat untuk duduk di sofa bersamanya.

“Ogah ah.”

“Please deh, jangan bikin mood gue turun lagi.”

“Gue bilang nggak mau. Gue maunya di sini. Dipangku.” Bara melangkahkan kakinya untuk duduk diatas pangkuan Haidar. Sedangkan Haidar hanya tersenyum dan tersipu dengan tingkah pacarnya. Meskipun begitu tangan Haidar bantu membenarkan posisi duduk Bara di pangkuannya supaya terlihat lebih nyaman.

“Udah lama gue nggak ngeliatin lo kaya gini, ternyata sekangen itu gue. Padahal masih satu rumah, tiap hari juga masih ketemu, tapi kenapa gue sekangen itu ya?” Netra Haidar menyelam lebih jauh ke paras manis di depannya, tangannya turut mengacak rambut Bara.

“Udah biasa gue mah.” Meski kadang harus merasa kecewa, Bara cukup memaklumi tugas Haidar sebagai mahasiswa beasiswa kampus. “Hari ini lo mau ngapain aja?”

Haidar menyandarkan kepalanya pada sofa. “Ngapain ya enaknya? kalo tiduran doang kayaknya bakalan nggak enak deh di badan. Atau kamu mau pergi kemana nggak?”

Bara hanya menggeleng.

“Nggak tau deh, ngeliatin kamu kaya gini aja boleh nggak sih?”

“Kebiasaan, ngaco mulu tuh mulut. Sebenarnya aku ada sesuatu yang pengen kamu lakuin Mas.”

“Apaan? kamu kalo udah manggil Mas pasti yang aneh-aneh nggak sih.” Curiga Haidar. Sebab Bara dengan kebiasaan memanggil Mas adalah ketika maunya sudah diluar nalar bagi Haidar.

“Kali ini nggak. Jadi lebih baik lo mandi dulu sana.” Bara bergegas untuk bisa turun dari pangkuan Haidar. Tapi sayangnya, tangan Haidar terlalu erat memeluk pinggangnya. Keduanya saling bertatapan, Haidar dengan tatapan curiganya, sedang Bara dengan tatapan yang lebih terlihat seperti orang dengan otak yang memiliki seribu cara untuk membuat Haidar hidup tanpa ketenangan hari ini.

“Oke. Tapi ada syaratnya. Satu, lo harus panggil gue Mas hari ini full. Dan Nggak ada kata-kata kasar. Dua, sebelum gue mandi gue butuh asupan. Jadi ciuman dulu kita.”

“Iya Mas.” Bara membasahi bibir bagian bawahnya dengan lidahnya. Tangannya menangkup wajah Haidar, dan menuruti persyaratan pacarannya itu tanpa banyak protes dan sok jual mahal seperti biasanya.

Haidar nggak pernah menyangka kalau energinya yang sudah terkuras selama tiga bulan, kembali dengan mudah hanya dalam satu sesi lumatan bersama Bara.

“Kurang?” Mendengar pertanyaan seperti itu, Haidar pikir tidak ada yang salah untuk bersikap tamak. Maka anggukan adalah jawaban yang diberikan dengan penuh kesadaran. Dan sesi berikutnya Bara membiarkan Haidar untuk mendominasi. Menjerat baik lidah maupun salivanya dengan lembut.

“Ikut aku mandi yuk.”

“Aku udah mandi ya. Dah ah sana mandi dulu.” Bara turun dari pangkuan Haidar.

“Yakin?”

“Mas….”

Sepertinya Haidar tidak diijinkan untuk menjadi orang yang lebih tamak kali ini. Jadi yang bisa dilakukan adalah segera pergi mandi dan menuruti apa yang akan diminta Bara nanti. —

“Mas, ke kamar yuk.” Setelah menyantap sarapan serta makan siang yang dirangkap menjadi satu sesi. Bara bersuara.

“Hah? kamar siapa?”

“Kamar kamu.”

“Kamu lagi pengen ya?”

Bara hanya tersenyum dan menarik Haidar untuk masuk ke kamar milik Haidar. Yang ditarik menuruti. Haidar pikir, Bara mungkin akan menjadikannya sebagai salah satu menu makanannya juga. Jadi dia manut. Haidar akan mengaminkan jika hari ini Bara ingin mendominasinya. Memberikan hak penuh untuk menginvasi miliknya.

Bara mendorong daksa Haidar, hingga yang terdorong berbenturan dengan kasur berukuran seratus enam puluh kali dua ratus centi. Beruntung dorongan tersebut tidak terlalu kuat sehingga Haidar masih bisa menyeimbangkan tubuhnya, dan berakhir terduduk di atas kasurnya. Dan memilih diam, menggantungkan apa yang akan terjadi berikutnya kepada si manis. Alur seperti apa yang diinginkan akan Haidar izinkan. Yang bisa dirinya lakukan hanya menyinggungkan senyuman.

Kaos kebesaran berwarna putih terangkat, lepas dari pemiliknya. Pelakunya adalah kedua tangan Bara, yang tidak menginginkan kaos itu menutupi tubuh Haidar untuk saat ini.

Dada bidang terpajang, aliran darah bergerak begitu cepat ketika jari-jemari Bara menelusuri tiap lekukan yang ada. Menelusuri bagian-bagian jejak guratan. Bukan, bukan guratan artistik layaknya tato, tapi bekas luka yang telah beberapa tahun mengering.

“Mas, aku mau denger cerita tiap luka ini. Boleh?”

Aliran darah yang meledak sebelumnya, berubah normal.

Pertanyaan itu sudah sejak lama Bara ingin sampaikan. Tapi baru kali ini dirinya punya keberanian untuk menyuarakan. Keberanian untuk mendengar. Karena Bara tahu tidak ada cerita indah dibalik luka itu.

Pelupuk mata hampir saja menggenang, mengingat bagaimana goresan itu sampai pada tubuhnya. Haidar memang tidak melupakan satu detik pun ketika luka itu mulai menghampirinya hingga mengering. Bagi Bara, mungkin luka itu tercipta dengan kisah tragis. Tapi bagi Haidar, bekas luka itu adalah sesuatu yang membuatnya menjadi manusia yang bersyukur.

“Kamu mau denger yang mana dulu sayang?”

Bekas luka yang berada di bagian bawah tulang rusuk bagian kiri yang disentuh Bara. Seperti tergores benda tajam, dengan bekas empat jahitan terlihat disana.

Bara berbaring dengan menempatkan tumpuan kepalanya pada paha Haidar, adalah posisi ternyaman yang dipilih. Sementara haidar duduk dengan satu kaki bebas terjuntai dan bebas bergerak tanpa beban. Tidak seperti kaki satunya yang membawa beban.

“Kamu tahu nggak? kenapa ada empat jahitan disini?” Bara menggeleng.

“Hari itu aku hampir nyerah.” Ada jeda setelahnya. Haidar menghirup oksigen cukup lama. “Semua ego papa rasanya udah aku penuhi, tapi murka nya emang nggak bisa berhenti. Hari itu pegangan papa pecahan kaca, dan saat itu aku bilang untuk papa bunuh aku aja.

Aku sendiri yang ngarahin pecahan kaca itu ke sini. Dan di hari itu aku pertama kali nggak ngerasain sakit. bahkan perih aja nggak bisa rasain. Disitu aku senyum, aku ngerasain bahagia yang benar-benar meledak. Bahkan setelah papa tenang, aku nggak percaya. Makanya, pecahan kacanya aku pake lagi buat ….

Kamu tahu lah. Yang buat aku seneng adalah, artinya aku bisa nemenin papa tanpa harus ngerasain sakit lagi. Dan aku nggak boleh nyerah mulai hari itu.”

Bara kembali menyapukan tangannya pada bekas luka yang baru saja dirinya ketahui bagaimana bisa terukir di sana. Perasaan nyeri muncul menyesak dadanya. Entah sakit seperti apa yang Haidar rasakan sampai-sampai rasa sakit itu seolah menjadi kabur.

“Mungkin aja kalo ga aku gores lagi lukanya, aku nggak akan dapet sampe empat jahitan di sini.”

“Tapi kalau aku cubit sekarang, kamu bisa ngerasain sakit nggak?”

“Coba aja.”

Yang mendekati bekas luka bukan jari dengan cubitan. Tapi bibir dengan kecupan.

“Sejak kapan nyubit kaya gitu?”

“Dar, kayanya aku cuma bisa denger yang satu ini aja kali ini. Aku ga sanggup kalo harus denger yang lain juga hari ini. Dadaku tiba-tiba sakit. Maaf ya, aku tahu kamu nggak ngerasa sedih atau gimana. Tapi aku nggak bisa. Ini terlalu sakit buat denger orang yang aku sayang harus melalui hal kaya gitu.”

Cinta dan kasih sayang seorang ayah lewat luka di hidupnya, bagi Haidar tidak jauh beda dengan cinta dan kasih sayang dalam bentuk lainnya. Haidar meyakini bahwa saat itu papanya hanya kehilangan ingatan bagaimana mencintai anaknya secara semestinya.

“Nggak papa sayang. Udah ya sedihnya, aku aja sambil senyum lho ceritanya.”

“Hmm”

“Aku kira tadi kamu lagi pengen itu.”

“Itu apa? apaan?”

“Yaudah, aku aja ya hari ini.”

“Apanya woy?”

Belum mendapakan kejelasan atas pertanyaannya. Bara sudah berubah pindah lokasi, akibat tangan Haidar yang begitu cekatan. Keduanya sudah saling berhadapan, Haidar menumpu tubuhnya hanya dengan satu tangan. Tangan satunya mmengunci kepala Bara.

Mempertemukan kembali indra perasa mereka tanpa tergesa. Pelan dan lembut, namun mampu membuat nafsu keduanya meninggi. Apa yang masih menutupi raga masing-masing disingkarkan. Mempertemukan kulit dengan kulit, menautkan jemari dengan jemari. Bersahutan menggaungkan nada penuh kama. Memburu putih luruh menyatu.


haidar,bara oleh anotherapi

“Widih, emang bener ya kata orang anak fh tuh ganteng-ganteng.”

Malvian menyapa Chris, pacarnya yang merupakan mahasiswa fakultas hukum. Senior pendampingnya saat masa orientasi mahasiswa baru.

“Siapa yang bilang begitu?, salah.”

Chris yang sudah menunggu Malvian di depan lobi kantor dosen, menimpali perkataan pacarnya yang baru datang itu.

“Jadi yang bener?”

“Yang ganteng cuma aku doang.”

Keduanya tertawa. Meskipun Malvian percaya dengan paras tampan pacarnya, tetapi secara spontan seolah ingin memuntahkan isi perutnya, ketika mendengar kalimat pacarnya yang begitu percaya diri.

“Udah kan?”

Malvian merubah eksperi wajahnya yang semula sumringah menjadi kesal mendengar pertanyaan yang keluar dari sang pacar.

“Buset, belum ada lima menit. Oh kamu kan nggak kangen sama aku. Yaudah sana!”

Malvian mendorong tubuh Chris menjauh darinya. Yang didorong hanya tersenyum kemudian menjauh meninggal Malvian yang masih berdiri dengan perasaan kesalnya.

Malvian menghela nafasnya dan melanjutkan rencananya untuk membawa tumpukan makalah ditangannya ke ruangan Pak Mahmud, dosen pengampu mata kuliah umum pancasila di kelasnya.

Ketika sampai dan mengetuk pintu ruangan Pak Mahmud, Malvian langsung diperintahkan untuk masuk ke ruangannya dan langsung melihat bahwa bukan hanya dirinya dan Pak Mahmud yang ada di dalam ruangan tersebut, tetapi dua mahasiswa lain yang berdiri di depan meja dosennya itu.

“Oh, Kamu.”

“Iya Pak, mau nganter makalah anak-anak presentasi besok.”

“Yasudah taro sini, saya koreksi sekalian. Tolong bantu saya dengerin mereka berdua lagi presentasi.”

Malvian dan dua mahasiswa lainnya tampak bingung, tapi Malvian jawab dengan kalimat menyanggupi perintah sang dosen. Ya karena nggak mungkin juga nolak perintah dosen kan.

“Kamu lanjutkan.” Perintah Pak Mahmud pada dua mahasiswa yang Malvian nggak tahu kenapa mereka harus presentasi langsung di ruang dosen.

Malvian mendengarkan salah satu dari keduanya yang terlihat lebih seperti membaca makalahnya tanpa tahu presentasi itu seperti apa. Malvian juga merasa tidak asing dengan sesuatu yang dibacanya.

Belum selesai dengan presentasinya yang sebenarnya cuma baca itu, Malvian menyela dengan memberikan pertanyaan kepada Pak Mahmud.

“Boleh, ngasih pertanyaan sekalian nggak Pak?”

“Silahkan, silahkan.” Jawab Pak Mahmud yang membuat dua orang di depan Malvian kebingungan.

“Anjing!” Umpatan lirih muncul dari salah satu dari dua orang yang Malvian sama sekali tidak kenal itu.

“Kalo gitu udah aja ya pak, langsung pertanyaan aja.” Uangkap satunya lagi.

“Kalo gitu, mau nanya apa kamu?.” Tanya Pak Mahmud pada Malvian.

“Gampang banget sih pak, sebutin daftar isi makalah kalian aja.”

“Apaan, pertanyaan yang jelas dong lo, kalo kaga punya pertanyaan berbobot nggak usah sok-sok an nanya dah lo.” Salah satu dari dua orang tersebut langsung tersulut emosi mendengar pertanyaan Malvian.

“Eriko diam dulu kamu.” Pak Mahmud berusaha menghentikan omongan tidak sopan dari salah satu dari mereka yang ternyata bernama Eriko.

“Oh, namanya Eriko.” Batin Malvian setelah mendengar nama itu disebut.

“Masa gitu aja nggak bisa pak, harusnya kalo ngerjain sendiri sih bisa ya, kayanya mereka pake joki deh pak. Wah parah sih.”

“Bener itu Eriko?”

“Enggak lah Pak, saya ngerjain sendiri sampe nggak tidur dua hari Pak.” Teman di sebelahnya malah menahan senyuman mendengar jawaban Eriko yang terlihat sangat dramatis dan terlihat sekali bohongnya.

“Kalo iya, coba dong jawab pertanyaan gue tadi. Bukannya barusan juga lo baca”

Sebelum Eriko semakin mendebat pertanyaan itu dengan jawaban yang makin nggak masuk akal, teman disebelahnya berpura-pura seperti orang penyakitan asma yang kabuh. Malvian paham betul kalo mereka cuma berakting tapi lain dengan Pak Mahmud yang tampaknya percaya saja.

“Waduh Pak temen saya asmanya kambuh, harus di bawa ke klinik cepet nih Pak.” Kata orang yang memiliki nama Eriko.

“Yasudah, cepet sana bawa temen kamu. Kamu juga bantuin itu.” Bahkan Malvian di suruh bantuin orang yang sebenarnya aktingnya pas-pasan itu.

Benar dugaan Malvian, saat sudah diluar ruangan Pak Mahmud mereka berdua kembali normal.

“Bangsat, lo siapa anjing. Kenal juga kaga.” Yang bernama Eriko langsung memprotes kejadian Malvian yang sengaja mengerjai mereka di ruangan tadi.

“Iya anjir, untung akting gue bagus kalo kaga udah abis lo sama Pak Mahmud Ko.” Yang satu lagi ikutan menyahuti perkataan Eriko.

“Masih aja songong lo, minimal tuh dibaca. Satu lagi, bayar monyet.”

“Bayar apaan?” Eriko tidak kalah nyolot, kenal aja enggak, ini tiba-tiba minta bayaran. Jelas Eriko makin kesal sama orang di depannya.

“Kenal aja kaga, dan gue nggak berasa pernah nyewa orang kaya lo dan kaga bakalan pernah, cuih.”

“Lo pikir yang ngerjain makalah 100 lembar yang nggak lo baca itu siapa? Bukannya bayar malah ngilang.”

“Eh gue udah bayar ya anjing!” Eriko tidak berhenti dengan suara lantangnya sambil memeriksa ponselnya untuk memperlihatkan bukti bahwa dirinya merasa sudah melakukan pembayaran.

Tapi seketika Eriko diam saat melihat ternyata dirinya tidak menemukan apapun, alias memang belum mentransfer sejumlah uang yang telah disepakati sebelumnya.

“Udah?” Malvian bertanya kembali dengan nada meremehkan.

“Perasaan udah gue bayar deh.”

“Kebanyakan bawa perasaan sih lo.”

“Chat lo aja sih yang kaga masuk chat penting di handphone gue, jadi ya sorry kalo gue lupa. Noh gue transfer.”

” Oke, lain kali langsung bayar.” Malvian langsung pergi meninggalkan keduanya.

“Kaga bakalan gue pake jasa lo lagi anjing.”

Bayangan pulang dengan tenang setelah berkutat dengan kelas yang membuat otaknya panas, seketika hilang. Haidar harus mencari cara bagaimana seblak bisa ada di depan matanya.

Nihil. Tentu saja, dimana ada seblak?. Yang bisa Haidar temukan hanya Indomie dengan rasa seblak di laman pencariannya.

Semoga saja, setidaknya ada Indomie rasa seblak yang bisa Haidar dapatkan untuk Bara yang entah kenapa hari ini begitu merengek menginginkannya.

Tapi sayangnya Indomie rasa seblak pun tidak ada.

Berakhir Haidar membeli Indomie rasa soto, setelah mengarungi tiga market besar hampir dua jam.

“Bar,” Haidar pulang membawa indomie soto, bukan seblak yang diinginkan Bara.

“Hai, udah pulang. Lama banget, kemana dulu?” Bara terbaring di atas sofa dengan selimut menutupi setengah badannya. Bertanya tanpa melihat Haidar yang berdiri di belakangnya dengan muka lelahnya.

Dan Bara masih bertanya dari mana saja Haidar bisa pulang begitu terlambat.

Tidak kunjung mendapat respon, Bara memutar kepalanya. Melihat Haidar berdiri dengan satu kantong plastik belanjaannya tadi.

“Ga ada seblaknya, aku udah nyari ya ke semua market.”

“Yaudah gapapa. Terus itu kamu beli apa?”

Bara seolah tahu bahwa Haidar tidak akan pulang membawa seblak yang diinginkannya. Dia juga tahu seblak bukan makanan yang akan mudah ditemukan sekarang, berbeda dengan di Indonesia. Jadi ya sudah, Bara tidak akan ambil pusing jika seblak tidak ada dihadapannya.

Sementara Haidar yang berusaha mencarinya, melihat ekspresi Bara itu membuatnya cukup kesal. Haidar pikir Bara benar-benar menginginkan seblak dan akan marah padanya jika tidak bisa mendapatkannya. Bahkan market di seluruh Delft dia kunjungi untuk mencari makanan indonesia apapun yang berhubungan dengan seblak.

“Jadi lo lama nyari seblak!?, lagian udah tahu kaga bakalan ada.” Bara kembali memutar kepalanya membiarkan Haidar dengan sisa tenaganya.

“Tau gitu langsung pulang tadi.” Haidar meletakkan belanjaannya tadi diatas meja, dan duduk di bawah depan sofa yang ditiduri Bara. Meletakkan kepalanya di sisi sofa yang yang masih tersisa.

Satu tangannya mencoba menggapai dahi dan leher Bara untuk mengecek suhu tubuh Bara apakah sudah turun setelah sempat tinggi semalaman. “Syukur deh udah lumayan turun, badan kamu gimana udah kerasa enakan belum?”

Bara hanya menanggapi pertanyaan itu dengan anggukan. Melihat Haidar dengan wajah lelahnya Bara bisa lihat bahwa Haidar sepertinya tidak bohong bahwa dirinya sudah keluar masuk ke seluruh market yang ada di Delft hari ini.

“Capek banget ya lo? Lagian udah tahu kaga ada, maksa banget.”

“Tadi siapa yang bilang 'Ada Mas…' trus pake emotikon sok sedih, udah kaya orang ngidam. Mana lagi sakit, kamu pikir aku bakalan diem aja.

Tadi ada liat indomie ada yang rasa seblak, makanya aku nyoba nyari siapa tau ada. Tau nya kaga ada juga.”

“Jelek banget manyun begitu lo. Gue pijitin dah sini duduk yang bener.” Bara bangun dan duduk dari sofanya. Memberikan pijatan pada bahu Haidar. “Gue kadang kasian sama Ardio, gitu aja terus hidupnya.”

Bara tiba-riba memberikan komentar bagaimana kisah temannya yang begitu rumit.

“Kenapa lagi emang?”

“Ya gitu biasa, gue jadi ngerasa kaga enak. Gue egois ya Dar?”

“Wajar kalo kamu egois kok, ga ada yang salah. Yang penting kamu udah bilangin dia kan. Lagian kalau udah kaya gitu, udah bukan urusan kamu buat nyuruh dia mau gimana Bar. Semua orang punya caranya sendiri buat milih berjuang kaya gue, atau nyerah kaya Bagas waktu itu, atau milih diem aja kaya temen lo ya walaupun agak goblok dikit sih.”

“Iya juga sih, kenapa kisah cintanya ribet amat sih itu anak.”

Mengerti bagaimana kekhawatiran Bara terhadap Ardio dengan kisahnya yang begitu rumit, namun tetap dijalani meskipun kadang harus banyak mengeluh. Terkadang jatuh cintanya seseorang tidak bisa dikalahkan meskipun dengan menyakiti diri sendiri. Dan itu cara Ardio bertahan hingga kini.

“Dah ah capek gue, mandi sono.” Tangan Bara berhenti, tubuhnya tidak bisa bohong kalau masih lemas tidak bertenaga.

“Baru juga lima menit belum ada.”

“Ya gue udah capek.”

“Yaudah kasih gue sesuatu yang bisa mengembalikan semangat gue yang hilang gara-gara permintaan lo tadi.”

“Pamrih lo anjing, dapet juga kaga.”

“Cepet, keburu gue pingsan.” Satu jari tangan Haidar menyentuh pipi kanannya dan berusaha mendekatkan wajahnya pada Bara yang duduk di belakangnya.

“Apaan minta digampar lo?” Bara menanggapi seolah tidak mengerti apa yang diinginkan Haidar.

“Bar…, bis—”

'Cup'

Belum sempat selesai dengan protesnya Haidar sudah diam tidak lagi bersuara, sebab Bara tiba-tiba memutar kepala Haidar dan memberikan satu kecupan pada bibir Haidar yang dari tadi mengomel.

Haidar merebahkan kepalanya pada tubuh Bara dibelakangnya. Memandangi wajah pucat itu penuh khidmat.

“Bar,”

“Hmm” kedua bola mata bertemu, Bara dengan mata sayunya sekalipun tidak berhenti mendamba paras apik yang Haidar miliki. Haidar dengan mata binarnya, juga tidak kalah memuja bagaimana manusia di hadapannya bisa terlihat seindah itu meskipun dengan mata sayu dan bibir pucatnya.

“Kenapa gue sayang banget dah sama lo.”

Satu kalimat yang mungkin bagi Bara hanyalah sebuah gombalan, tapi bagi Haidar kalimat itu jauh muncul dari hatinya yang paling dasar. Tidak ada satu katapun yang dianggapnya hanya lelucon.

Bagaimana perasaannya membuncah setiap kali menyadari bahwa dirinya adalah orang paling beruntung yang memiliki Bara putra Bimantara di sisi hidupnya.

“Masa?” Bara seolah memantik omelan baru muncul dari bibir Haidar.

Untuk menjawab pertanyaan mengesalkan dari Bara, Haidar memilih menjawabnya tanpa suara lantang.

Tapi membisikkannya tepat di telinga Bara. “Gue nggak pernah bohong soal itu Bar, ik hou van jou.” Seketika tubuh Bara meremang ketika Haidar mencium telinganya serta membuang jarak diantara pipi keduanya. Bergerak seperti anak kucing pada tuannya.

“Ik hou ook van jou” Saling pandang untuk kesekian kali, membenturkan tatapan hangat masing-masing. Meluruhkan tiap-tiap bahasa yang meninggikan cinta diantara keduanya.

Karena sejak jatuh cintanya Haidar dialamatkan pada putra Bimantara, Bara menjadi satu-satunya yang menerima bagaimana Haidar menuturkan bahasa cinta.

Hangatnya tensi semula berubah menjadi sedikit panas ketika jarak kembali terkikis, menyatukan bibir dengan lembut. Bertukar frasa cinta ditiap pagutan dan lumatan.

Jari-jemari saling mengikat erat, seolah jika ujung-ujungnya saling lepas, dunia mau pisahkan keduanya.

Tipisnya kadar oksigen membuat keduanya mengambil jarak yang tadi dibuang. Meraup oksigen dengan bertukar senyum. Dan kembali bagaimana lumatan menyatukan keduanya.

“Udah ah mandi dulu kamu.” Setelah berakhir dengan berbagi pelukan di atas sofa, Bara bersuara.

“Mandi bareng?”

“Kaga usah ngide dah lo. Cepet sono ah, gue masakin itu mie yang lo beli.”

'cup cup cup cup cup' Haidar malah menghujani wajah wajah Bara dengan ciuman singkatnya, sambil pelepas pelukan dan berlalu pergi ke kamar mandi. “Gue dua bungkus ya sayang.” Sebelum menutup pintu Haidar berteriak minta dua bungkus indomie yang tersaji untuknya nanti. Bara hanya tersenyum mendengar teriakan itu.